Surat dari Surabaya
7 November 1995
Untuk laki-lakiku,
Sudah bulan November. Genap tiga tahun kita tidak bertemu,
maukah kau bertanya kabarku? Tentu aku tidak perlu menanyakan kabarmu, bukan.
Karena aku yakin kau baik-baik saja. Jadi, maukah kau menanyakan kabarku? Jika
kau bertanya kabarku maka akan kujawab “Tidak pernah baik.”
Tiga tahun tidak saling bertatap muka, tidak ada pula pesan
darimu, tidak ada kabar apapun dari sanak saudara di kota. Tiga tahun pula aku
kerap termangu di depan teras rumah, mengamati kotak surat yang mungkin saja
akan terisi oleh pak pos, tapi tetap saja tidak ada yang berubah.
Aku juga tidak berubah, kau tau. Masih sama saja. Hati ini,
perasaan ini, diri ini, belum berubah. Dan mungkin tidak akan berubah. Aku tau,
kau paham betapa dalam aku menyayangmu, seberapa sering kusebut namamu dalam
doa-doa ku. Berharap Tuhan menjagamu.
Bulan November memang
mengagumkan ya. Pada bulan ini kita bertemu dan berpisah. Pertemuan klasik
ketika aku melihatmu menjatuhkan buku-buku dari rak perpustakaan kala itu. Kau
nampak malu-malu ketika aku membantumu memungut buku-buku itu. Menyenangkan
mengenalmu, orang misterius yang gemar membaca.
Aku selalu penasaran dengan isi kepalamu, tentang
rencana-rencanamu yang tak terduga, tentang cita-citamu, impian-impian yang
ingin kau wujudkan ketika rambutmu masih menghitam. Kau selalu bercerita
mengenai kisah para penulis favoritmu, juga buku-buku yang mereka terbitkan,
tentang pemikiran-pemikiran mereka. Betapa aku lihat kau mampu pula berkembang
seperti para idolamu itu.
Namun kurasa November tidak berpihak pada kita. Ah kita.
Hanya kata yang kuanggap ada, namun tiada bagimu. Kau akhirnya memilih pergi.
Tidak, maksudku kau tidak punya pilihan lain selain pergi. Meski kau tau, aku
akan merindukanmu setiap hari. Kau tau, aku akan sulit untuk bangkit tanpamu,
namun kau yakin, aku kuat menahan semua derita. Kau dan Tuhan tau, aku cukup
kuat untuk merelakan.
Di antara kepergian di dunia ini, dan rindu yang mengikutinya
setelah itu adalah.. kepergian seseorang yang tidak bisa kau temui lagi di
dunia ini. Lantas akan kau labuhkan kemana rindu itu. Jika hanya ditinggal
karena ada orang lain di hatimu, mungkin saja aku masih bisa menemuimu di entah
belahan dunia mana. Namun apa daya ketika raga saja sudah tiada, rindu mana
yang harus kau temui. Pada siapa renjana ini tumpah ruah. Mungkinkah pada makam
yang sudah kering yang aku taburi bunga mawar setiap hari kematianmu. Atau
dalam setiap kata yang kuucap dalam hati kala bersujud padaNya. Masih saja aku
rindu..
Diri ini hanya bisa mengenang hari, membayang ragamu duduk
di hadapanku, menceritakan kembali tentang William Shakespeare, Robert Frost,
Emily Dickinson, dan sastrawan era Elizabeth I. Tentang analisa karya sastra Shakespeare;
‘Romeo Juliet’, ‘Sonet’, dan ‘Hamlet’ yang menjadi favoritmu. Aku rindu caramu
bercerita dengan penuh semangat. Seolah dunia terdiam mendengarkan ulasanmu
yang menarik, juga tanggapanmu yang menggelitik, pemikiranmu yang aneh dan
unik.
Rindu ini tidak tersampaikan lewat angin, seperti kata
pujangga. Tidak juga menyentuh persemayamanmu. Pula suratku tidak akan sampai
padamu, hanya akan berakhir di atas pusara di mana akan kubacakan semua
tulisanku ini. Mungkin ini salah satu cara kusampaikan tentang risalah hati;
rindu.
Raga yang ditelan tanah..
Kering sudah darah..
Mengangkasa jiwamu..
Membumi kenanganmu..
Abadi dalam sebuah nama..
Ardianta
Dari Marta
-Penulis
catatan:
Untuk pamanku tersayang yang tutup usia
tempo hari.
Komentar
Posting Komentar