Mengeja Maria
: pelanggan misterius
Maria namanya. Ia gadis berambut pendek yang kerap
kutemui beberapa bulan terakhir ini. Ia sering duduk sendiri di dekat jendela,
di samping pintu masuk kafetaria. Sambil menghirup aroma machalatte, yang kerap
ia pesan ketika hari hujan dan orang-orang di jalan berlarian, ia membaca
sebuah buku.
Aku sering melihat dia menulis sesuatu di
lembaran-lembaran buku itu. Sambil sesekali memandang keluar, menghirup kepul
uap machalatte, lalu menyeka airmata, lalu menulis, dan berulang-ulang.
Ia kadang membaca lagi tulisannya. Dan saat itu aku
senang melihat ekspresinya yang kadang senang, tersenyum kecil, kadang
tersenyum getir, sambil alisnya mengkerut, lalu ia menyeka air di sudut bola
matanya. Entah apa yang ditulisnya. Aku selalu penasaran. Selalu...
Hingga suatu hari ketika aku sedang bersiap-siap
menutup kafetaria, aku yang membersihkan setiap sudut di ruang ini, menemukan
sebuah catatan di lantai. Mungkin seseorang menjatuhkannya.
Awalnya aku berniat untuk mengembalikannya dengan
mencoba mencari tau siapa pemilik catatan itu dengan membuka lembaran pertama.
Anna Maria Matiana
Begitulah nama yang tertulis di sana. Ternyata itu
adalah nama panjang gadis manis berambut pendek itu. Cukup unik dan
menyenangkan diucapkan. Namun, aku masih belum ingin mengembalikan buku itu.
Entah mengapa terbesit niat untuk membacanya lebih banyak. Mulailah aku
membalik lembar demi lembar.
“Apakah laki-laki bisa jatuh cinta pada satu wanita
saja?”
Aku tersenyum membaca judul tulisannya, tentu saja
bisa, jawabku dalam hati.
“Aku tidak percaya itu.”
Lanjut tulisan di bawahnya. Aku mulai mengernyitkan
dahi.
“Manusia jatuh cinta berkali-kali, entah pada orang
yang sama atau pada orang yang berbeda. Aku percaya cinta, tapi tidak dengan
manusia. Dan kisah-kisah yang dibuat manusia tentang cinta hanyalah omong
kosong. Aku tidak percaya.”
“Sampai kapanpun hati manusia memang lembek, mudah
berubah. Tidak peduli jika kau sudah menikah sekalipun, tidak menutup
kemungkinan untuk jatuh cinta lagi. Bahkan tokoh wayang, yang tidak hidup, juga
banyak yang tidak setia. Ah aku lupa, wayang memang representasi dari watak
manusia.”
Aku tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
“Satu pertanyaan yang masih mengakar di otakku, belum
terjawab sampai sekarang..”
Brak!
Aku hampir melanjutkan kalimat selanjutnya, namun terhenti ketika pintu kafetaria yang belum kukunci tiba-tiba terbuka
lebar. Aku terdiam, menanti siapa yang datang. Lalu ditengah hembusan nafas
yang bagai naga, seorang gadis berambut pendek menyembul dari pintu. Rambutnya
acak-acakkan, tatapan matanya menyala, wajahnya pucat. Ia menatapku tajam,
satu-satunya orang yang berada di sini.
“Mbak, bukunya ketinggalan,” kataku ketika ia berjalan
cepat ke arahku, “tadi mau saya kembalikan tapi..”
Tanpa ba bi bu, ia merampas buku itu dari tanganku,
cepat dan kasar.
“Makasih!” ucapnya sambil lalu.
Langkah cepat itu, juga nada bicaranya yang bringas,
tidak bisa aku lupakan. Baru kali ini ada gadis sekasar itu, ditambah
tulisannya yang membuatku penasaran tentang isi kepalanya. Ia memang gadis yang
menarik.
Satu bulan berlalu, gadis bernama Maria itu tidak
terlihat batang hidungnya. Ia yang biasanya sliweran di kedai kopi tiba-tiba
menghilang. Aku juga tidak mendengar kabarnya dari pelayan kedai yang mungkin
melihat dia mampir ketika aku sedang pergi.
Apa karena waktu itu aku dengan lancang membuka
bukunya, hingga ia jera untuk kemari lagi. Aku memang sengaja melakukannya,
namun tidak bermaksud mengusik hal pribadinya.
Lagi-lagi aku kepikiran tentang
dia yang biasa duduk di kursi dekat jendela. Teringat ia yang jarang tersenyum
meski pelayan datang dengan senyum lebar setiap menghampiri mejanya. Jemarinya
yang lentik ketika menggoreskan tinta pada lembaran buku catatannya. Juga
rambut pendeknya yang kecoklatan, dengan lembut terurai menutupi sebagian
wajahnya, menyisakan pemandangan kedua matanya yang indah. Dia sangat cantik,
meski terlihat sadis.
Ah, lagi-lagi aku kepikiran dia.
Hari-hari berikutnya aku mulai terbiasa tanpa
hadirnya, pelanggan yang mencuri perhatianku. Beberapa waktu lalu, aku berpesan
pada Arman karyawan lamaku untuk menghubungiku jika Maria datang lagi, aku ingin meminta
maaf padanya.
Dan malam itu bak diguyur hujan pada musim kemarau,
begitu melegakan mendapati gadis cantik itu datang. Berdiri di ambang pintu,
melangkah dengan anggun ke tengah ruang. Lantas celingukan, mencari meja yang
biasa ia duduki. Ah, sudah dipakai orang.
Entah mengapa aku seolah membaca pikirannya. Ia lalu
memilih meja paling pojok, dekat dinding yang gelap dan sepi. Aku tersenyum
begitu melihatnya. Ia masih sama cantiknya seperti terakhir berjumpa. Hanya
saja kali ini ia memakai dress coklat muda selutut dengan jaket berwarna hitam
dan ber-sneakers putih.
“Selamat malam, Maria.” ucapku sambil membawa daftar
menu, kemudian meletakkan di hadapannya.
Sungguh, dia bahkan tak melirikku sedikitpun. Dan hanya
menunjuk machalatte, lantas mengalihkan tatapan ke penjuru kedai.
“Silakan ditunggu.” kataku sedikit kecewa.
Aku mengawasinya dari balik meja kasir. Mengagumi
kecantikannya. Banyak pengunjung laki-laki yang datang dan terpana begitu
melihat Maria. Parasnya menyita perhatian, aku bahkan rela berdiri di sini
seharian memandangi dia. Sayangnya, ia hanya limabelas menit di sana, setelah
menghabiskan machalatte nya.
Entah mengapa dia terlihat terburu-buru, biasanya
ia akan menghirup uap machalatte yang berkepul-kepul. Namun kali ini ia memilih
meninggalkan gelas kosong itu dengan tatapan dingin.
Ia melangkah keluar kafetaria sambil memegangi perut. Semakin lama langkahnya kian melamban, perlahan ia bersandar pada daun pintu. Beberapa saat kemudian darah mengalir dari balik roknya, menuruni paha…
"Gugur," ucapnya pelan sambil memegangi perut. Ia menatap dingin pada Arman, karyawan lamaku...
Penulis
Komentar
Posting Komentar