KALEIDOSKOP 2019
7 Januari 2020
Saat ini mungkin sudah terlambat untuk menuliskan ‘kaleidoskop 2019’. Aku baru sempat menulisnya. Entah sejak kapan, yang pasti aku tidak lagi mengisi blog ku dengan tulisan-tulisan amatir ini tahun lalu. Tapi bukan tanpa alasan atau mencari-cari alasan.
Semester lima sungguh semester penuh tantangan. Ada banyak sekali kegiatan yang bahkan rata-rata hampir bersamaan tanggal penyelenggaraannya. Dan aku terlibat dalam kegiatan-kegiatan itu. Seminggu bisa dihitung jari aku bisa bersantai di kos dan mengobrol dengan teman sekamarku.
Karena aku tiap hari pulang sore, malam ada latihan drama, weekend ada syuting film kelas, hari-hari dipenuhi nyicil tugas, belum lagi rapat ini rapat itu. Lalu ditengah malam mengerjakan tugas yang--sebenarnya aku gamau bilang sih--lumayan banyak dengan deadline yang berurutan.
Keterbatasan waktu luang membuatku kesulitan mencari topik untuk mengisi blog, jadi aku memutuskan untuk ‘menganggurkan’ blogku dulu tahun kemarin. Ya, semoga saja tahun ini aku bisa rajin menulis tulisan amatir ini.
Karena ini kaleidoskop (yang kutau isinya tentang foto-foto dan kenangan yang telah lalu) maka aku akan menulis beberapa hal yang kupelajari di tahun 2019. Tidak banyak, tapi cukup kompleks.
Yang pertama, “Kau tidak bisa sepenuhnya percaya pada temanmu satu tim, tapi kau harus percaya” ini kudapat sejak awal tahun 2019, dan berlangsung beberapa bulan.
Awal tahun aku ada project drama kelas, yang dimana aku memimpin teman-temanku. Itu bukan hal mudah. Aku cukup kesulitan karena harus ‘tega’ dalam mengambil keputusan. Dan juga melimpahkan tugas kepada teman-teman untuk membantuku. Tapi sering kali yang kupercayakan tidak segera mengamanahkan. Aku tidak suka mendengar kalimat “kemarin aku sudah..” namun hasilnya nihil.
Properti yang seharusnya saat itu sudah harus dikerjakan akhirnya belum apa-apa, dan mau tidak mau aku terjun membuatnya. Setiap weekend aku di rumah mengerjakan beberapa properti yang bisa kukerjakan, dan aku jatuh dari motor ketika membawa beberapa properti itu dari rumah ke kos. Tidak ada luka sih, hanya celanaku robek sedikit.
Dalam hal itu, sebenarnya aku kurang percaya menyerahkan properti pada teman-temanku. Takut tidak digubris lagi, aku jadi sering melakukannya sendiri. Ya, aku egois. Jika tidak begitu, drama kelasku akan hancur. Tapi tentu aku percaya kepada mereka saat pementasan. And they did well, I’m proud of them.
Yang kedua, “Jangan terlalu menganggap asmara adalah hal paling serius, his love will leave soon.” Aku tidak terlalu ingin membahas yang ini sebenarnya, tapi aku harus.
Dulu dia adalah orang yang sebagian besar ada pada tulisanku. Di tulisan-tulisanku dia pernah hidup mengisi tone dalam cerita. Aku tidak bisa memahami kepribadiannya.
Dia seperti an old man in Guy de Maupassant’s Regret dengan sedikit sisi Monsieur Meursault in Albert Camus. Aku kira dia memiliki perasaan yang sama denganku, ternyata hanya aku yang jatuh cinta sendirian. Tapi aku tidak tau mengapa sikapnya seolah dia juga sama denganku.
Namun ketika kutanya, dari kalimat yang dia lontarkan padaku, secara tidak langsung dia bilang bahwa aku hanya mengganggu hidupnya. Dia sedang memperjuangkan sesuatu yang ’...is damnly more important than anything’. Aku mengerti dan merelakannya karena dia seseorang yang berharga, kataku saat itu. Aku masih hafal kalimat lengkap darinya itu dan mungkin tidak akan lupa.
Selama dua tahun ini rupanya aku tidak sedikitpun menyentuh hatinya. Tidak peduli aku mengais kepingan hatinya, memohon agar dia tidak meninggalkanku, mengatakan betapa dia berharga bagiku, tapi tetap saja dia pergi.
Dua kali.. selalu ada pola ketika dia tidak menghubungiku beberapa bulan. Dan tiba-tiba aku melihat dia bersama wanita lain. Dua kali begitu, tahun 2018 dan tahun 2019.
Yang benar-benar membuatku merasa lelah adalah yang kemarin itu, bulan Oktober; aku justru menghampiri dan menyapanya bersama wanitanya. Sakit bukan main.
Teramat sakit sampai aku merasa bahwa aku memang harus merelakannya, semua perasaan ini sudah terendam rasa kecewa. Aku tidak dihargai olehnya. He hid me from his WA story about months. Dia membenciku. Baiklah jika dia tidak ingin melihatku di hidupnya. Semoga Tuhan merestui.
Mungkin benar adanya yang ditulis Free Hearty dalam puisinya, Lelaki dalam sepi, yang sungguh berat tanpa wanita. Sehingga baru beberapa bulan saja tanpa diriku, dia sudah bersama wanita lain.
Atau seperti dalam Anna Karenina, ketika pelajaran yang kudapat di sana adalah love will leave soon. Ya, sepuluh tahun ke depan, cinta yang kau miliki sangat mungkin tidak lebih berharga dari kehidupan. Dia bukan lagi sesuatu yang kau dewakan.
Yang ketiga, “Banyak kegiatan bukanlah alasan untuk meninggalkan tugas dan nongkrong.” Ini pelajaran yang kuperoleh ketika saat itu kegiatan dan tugas saling berdempetan minta dikerjakan. Untung saja nafsu untuk nugas tidak luntur.
Aku masih punya waktu luang hari sabtu malam dan minggu untuk mengerjakan tugas. Baru setelah tugas kelar, paling tidak sudah 90%, aku beralih membaca teori untuk skripsi. Sumpah, susah banget memahaminya. Terkadang aku khawatir tidak mampu menguasainya. Jujur, tekadku sejak awal, jika pria itu meninggalkanku maka aku akan fokus pada semester lima yang buanyak tugas dan kegiatan.
Semenjak itu aku lebih bisa menikmati hidup. Hatiku mulai terbuka menerima kehidupan, dan mulai menjalin hubungan baik dengan teman-temanku. Meskipun kegiatan banyak, tapi aku masih sempat nongkrong wkwkwk walau mencuri waktu sepulang latihan drama untuk sekedar ngopi. Semester lima ini aku sering nongkrong dengan dua orang teman sekelasku; laki-laki semua.
Aku jadi ingat masa kecil, dimana teman mainku laki-laki semua. Kami bertiga sering ngopi bareng, pernah sekali duakali ngopi bareng dosen. Kadang di kampus kami sering ke kantin bareng dan membicarakan hal-hal yang tidak pernah dibahas oleh kaum perempuan.
“Gadis di warung tadi temanmu bukan?”
“Bukan, temanku yang laki-laki.”
“Apa kau tidak punya teman perempuan?” tanya salah satu temanku sambil tertawa, ketika kami bertiga bersepeda di desaku--kemarin mereka main ke rumah.
Mungkin karena setahun terakhir ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman laki-laki, sehingga terkesan aku tidak punya teman perempuan yang dekat denganku.
Yang keempat, yang terakhir nih, “Jangan membenci dan abaikan yang tidak perlu.” Sebenarnya dia yang sempat pergi, kembali lagi bulan November lalu. Namun ia menghilang di bulan Januari ini. Ah, aku sudah tidak terkejut, biar saja. Aku berusaha tetap menjadi orang yang cuek.
Bulan Desember aku hampir jatuh cinta lagi, tapi itu masih belum kupentingkan ternyata. Aku masih suka sibuk sendiri, terutama liburan ini. Ada beberapa target yang harus kupenuhi. Memasak beberapa resep, membaca artikel untuk jurnal, mengkhatamkan beberapa karya sastra. Sulit sekali ternyata, aku masih harus membagi waktu membantu orangtua di rumah.
Meski aku tau di luar sana ada yang sedang membenciku, tapi aku tidak ingin membenci balik. Jangan membalas sedikitpun lara hati itu. Walau sebenarnya aku agak tersinggung ketika orang lain tidak menghargaimu bahkan untuk hal sesederhana membalas pesan. Atau ketika seseorang tidak membaca sama sekali buku yang kau pinjamkan dengan penuh semangat. Sedih, tapi jangan membenci.
Maka kadang aku berucap ‘maaf’ terlebih dahulu pada orang lain, ketika merasa bersalah untuk hal kecil atau untuk menjaga hubungan. Mengalah dan berbesar hati. ‘Maaf’ memang sulit diucapkan manusia. Berat mengucapkan kata itu. Manusia suka diposisikan dalam kebenaran, jadi biar aku saja yang mengambil ‘maaf’ untuk mendinginkan hati. Agar tidak memperpanjang perdebatan yang tidak perlu.
Itu saja pelajaran inti yang kudapat selama 2019. Oiya ada tambahan sedikit, aku ingin menulis ini untuk kuingat sendiri; alangkah menyenangkannya jika rumah dipenuhi buku-buku, hari-hari bisa membaca berbagai macam buku.
Mungkin Home Library bisa jadi future plan yang bagus.
nb:
bisa berbagi cerita denganku lewat e-mail:
kelincirabbit7@gmail.com
yunitarahmayanti3@gmail.com
Komentar
Posting Komentar