DUNIA MONOKROM

Untuk monokrom.



Hitam dan Putih duniaku.

Semua berawal dari kekosongan, kehampaan, ketiadaan. Dulu, dunia kita hanyalah dua buah titik hitam dan putih. Kecil dan hampir tak terlihat. Lalu Tuhan dengan kuasaNya menjadikan kita meluas, melebihi luar angkasa yang tak berujung, katanya. Hitam dan Putih melebur dalam dunia ini, dalam segala bentuk dan diberi rasa oleh warna lain.

Aku, Hitam, bangga menjadi warna yang tua, gelap, dan suram. Aku digambarkan sebagai simbol kesedihan yang amat dalam. Warna diriku pula yang diagung-agungkan ketika ada manusia yang meninggal, seolah aku adalah simbol kepergian. Banyak pula manusia yang takut pada warnaku ketika malam tanpa cahaya, menyeramkan katanya. Ah sudahlah, bagiku itu hanya pendapat subjektif. Mereka tidak mengerti sisi lain dariku.

Berkat Tuhanku, aku sudah bukan lagi titik hitam kecil, “Kita sudah dewasa, Putih.” ucapku pada Putih. Ia mengangguk dengan tatapan yang mengawang, entah apa itu. Mungkin ia memikirkan tentang kita yang dulu masih menjadi titik kecil di alam semesta sebelum penciptaan, di atas kanvas ini.

Ketika masih kecil, semua terasa sederhana ya, bahkan tentang mimpi sekalipun. Terbayang sudah bahwa dewasa itu menyenangkan. Masa dimana warna lain tidak memandangmu kecil, “Kau sudah dewasa.” kata Biru yang warnanya mengagungkan langit dan samudra.

Meski setelah menginjak masa ‘dewasa’ itu ternyata tidak benar-benar dewasa. Pendewasaan masa ‘dewasa’ yang belum ‘dewasa’ itu memang perlu dan terjadi secara paksa oleh keadaan. Manusia dewasa belum tentu dewasa. Mungkin manusia dewasa dalam kalimat sebelum ini lebih tepat dengan manusia yang mulai tua usianya-menua-lalu tiada. Dewasa yang mengikutinya lebih merujuk pada sikap. Banyak manusia yang sudah tua yang belum bersikap dewasa, banyak pula yang lebih muda yang lebih mendewasai. Begitu pula sebaliknya. Manusia ini manusia itu. Dewasa ini dewasa itu. Tak usah pedulikan dewasa, karena warna kita tidak pernah tua, tidak pernah mencapai dewasa, tidak pernah mati.

Dunia monokrom tentang hitam dan putih dalam lembaran kanvas ini. Sejatinya kita tidak tercipta oleh warna lain dan tidak bisa mencipta warna selain abu, sang warna penuh keraguan. Ah dunia ini memang penuh ketidaktentuan, penuh warna abu--meski aku lebih suka kita yang hitam dan putih. Namun di balik keabuan dunia, di antara banyak pilihan, selalu ada dua pilihan yang berlawanan satu sama lain. Kedua pilihan itu seperti pasangan yang berlainan sifat, bertentangan.

Dua pilihan itu ada dalam setiap hidup manusia, dua pilihan yang bisa diambil salah satu. Seperti memilih panjang atau pendek, putih atau hitam, pandai atau bodoh, bahkan bahagia atau sedih. Rupanya bahagia itu memang tentang diri sendiri, orang lain hanya membantu. Mereka adalah jembatan. Bagaimanapun juga, pada akhirnya kau menyeberangi jembatan itu sendiri. Setelah sampai di ujung, tinggal kau seorang diri. Putih, kau pun telah memilih dirimu menjadi putih dan aku memilih hitam. Kita berjalan sendiri-sendiri dalam hitam dan putih.

Kadang manusia berkata ketika melihat tayangan televisi hitam dan putih, “Tidak berwarna”. Warna kita sekilas terlihat mati dan kuno, namun kita tetaplah bagian dari warna dunia. Yang aku tahu, Tuhan kita, sang Pelukis, memiliki banyak warna, namun Ia memilih menggoreskan warna kita di kanvasNya. Banyak kisah yang tergambar dan tertulis dengan warna kita. Coba lihat deretan buku-buku terbaik dunia, juga komik-komik yang terjual laris di pasaran, atau lihatlah film Charlie Chaplin.

Semua hitam dan putih. Entah kisah, lukisan, atau sajak macam apa lagi yang akan Dia ciptakan dalam dunia monokrom kita. Karena sebanyak apapun warna dalam kanvas ini, dunia kita, hitam dan putih tetaplah menjadi warna Tuhan kita, sang Pelukis.



-Penulis

Sedikit catatan:
Sudah bulan November. Sudah lama sejak tulisan terakhirku di publish. Sejak itu pula banyak yang terjadi dan membuatku memutuskan untuk mulai menulis lagi, entah apapun itu.
Aku ingin berterimakasih pada orang-orang yang mendukungku. "Tidak peduli seberapa banyak kritikan, tuliskan saja yang ingin kau tulis, kapan maju kalau kau tidak yakin pada dirimu sendiri." katanya.
Menulislah, untuk dirimu sendiri, untuk mereka yang menyayangimu dan mendukungmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria