O, IBUKU SAYANG
Kata ibu penjual sayur di kampung, ibuku adalah sosok wanita yang paling cantik
yang pernah ia temui. Ibuku adalah wanita yang kuat, mandiri, dan berkemauan
keras. Ibu… aku sangat rindu..
Ku hirup nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ini
adalah hari ke tiga ratus tujuh puluh dua. Sudah satu tahun lebih aku pergi
dari kampung halaman. Entah apa yang kucari di tanah orang ini. Aku mencoba
menghilang, bersembunyi dari segala bayang-bayang wanita itu. Tidak bisakah aku
lepas dari bayangannya. Hanya bayangannya!! Aku masih ingat gurat senyumnya.
Juga nada bicaranya yang lembut dan menenangkan. Dia wanita yang amat memesona.
Oh, ibu. Seberapa jauh aku harus melangkah untuk melupa.
Seberapa lama aku harus bersabar untuk ikhlas. Seberapa kuat aku harus menahan
airmata ini untuk tetap di pelupuk mata. Oh, ibu. Ingin aku berada di sisimu
saat ini. Ingin aku memelukmu erat dan membisikkan bahwa aku sangat
menyayangimu.
Ibu, ingatkah kau ketika hari hujan itu. Ketika aku gelisah
di teras sekolah, menunggu hujan reda. Ketika aku menolak ajakan teman-temanku
untuk nebeng satu payung… aku menolak mereka karena aku yakin kau akan
menjemputku dengan payung coklatmu. Ibu, maafkan aku yang hari itu nekat
hujan-hujanan dengan penuh amarah karena kau tidak datang. Maafkan aku pula
yang merajuk ketika bertemu denganmu di perempatan jalan itu dengan daster yang
berlumuran tanah. Maaf aku malah berlari dan marah.
“Mengapa ibu terlambat menjemputku?” rajukku dengan wajah
tertutup bantal.
Maafkan aku yang saat itu bertingkah kekanakkan. Maafkan aku
yang tidak mengerti betapa sakitnya engkau terjatuh di lumpur kemudian
menemuiku merajuk padamu. Aku memang tidak tau diri, ibu.
Aku menghirup nafas dalam, menghembuskannya pada kaca helm
ku yang membuatnya mengembun. Sepertinya hujan sebentar lagi akan turun,
kulihat langit lumayan mendung. Kapas abu abu itu bergelayut di langit, bersiap
menumpahkan miliaran tetes air. Dan aku yang bernaung di bawahnya, belum sedia
payung maupun jas hujan. Tidak apa jika harus basah, asalkan selamat sampai
tujuan.
Aku ingat betapa dulu aku menyukai hujan. Di teras rumah,
ibu selalu memelukku erat, dingin katanya. Namun semua itu tak lagi kurasakan
ketika Adit lahir. Aku takut ibu tidak sayang lagi padaku karena kehadiran Adit
di keluarga kecil kami. Sudah tak jarang ibu mengabaikanku dan memilih Adit.
Aku cemburu, bu.
“Biarkan saja lah, bu. Adit kan sudah besar, nanti kalau
lapar juga makan sendiri!” ucapku marah.
Pandanganku penuh amarah pada laptop di depanku. Aku gemas
dengan tingkah adikku yang sudah besar namun masih saja manja setengah mati.
Sesaat kemudian aku merasakan sentuhan lembut di pundakku.
“Kamu hanya belum merasakan rasanya punya anak. Nanti kalau
kamu sudah punya anak pasti tau rasanya ketika anakmu tidak mau makan.” Kata
ibu lalu tersenyum.
Aku menatap punggung ibu yang menjauh. Di tangannya ada
semangkuk sayur bayam dengan nasi. Ibu mendekati Adit yang duduk memeluk lutut
di sudut ruang tamu, membujuknya untuk makan.
Iya. Aku memang belum mengerti, maka saat itu yang ada hanya
kesal dengan sikap Adit yang sangat manja. Aku saja tidak pernah semanja itu! Ah
aku hanya belum mengerti bahwa wanita tidak pernah tega membiarkan luka
menganga pada apa yang ia cintai.
Pernah suatu hari kakakku, Arman, yang introvertnya
keterlaluan, terpaksa pergi ke suatu tempat wisata bersama ayah ibu dan aku.
Bukan tanpa alasan, ini semua karena kak Arman enggan ikut kunjungan wisata
yang diadakan oleh sekolahnya. Imbasnya, ayah dan ibu harus menemani kak Arman
pergi wisata mandiri untuk membuat laporan.
Hari itu sangat terik. Satu sepeda motor dipakai untuk empat
orang; ayah ibu kak Arman dan aku. Sungguh sial, di tengah jalan, ban belakang
sepeda motor butut itu bocor. Mau tak mau kami harus berjalan kaki. Ah, hari
yang melelahkan ya.
Di tempat wisata pun, ibu dan aku pergi ke kantor salah satu
tempat wisata itu. Ibu dengan memelas mohon-mohon pada si mbak-mbak yang
bertugas di sana untuk memberikan cap stempel wisata di laporan yang dibuat kak
Arman, sebagai bukti bahwa si introvert ini melakukan kunjungan wisata mandiri.
Aku ingat ibu ditolak berkali-kali. Keluar masuk kantor itu,
memohon-mohon untuk anaknya. Aku tidak mengerti bahwa cinta itu benar adanya.
Aku awalnya tidak percaya bahwa cinta itu nyata. Aku tidak menyangka bahwa
cinta memang bisa membuat orang melakukan segalanya. Aku tidak percaya cinta
pada awalnya, hingga ibu mengajarkannya padaku. Tanpa kusadari ibu sudah
mengajarkannya padaku sejak kecil. Tentang pengorbanan dan kerelaan melakukan
apapun. Tentang kebaikan yang tidak mengharap balasan kecuali senyum tulus dari
orang yang kita sayangi.
Benar, aku memang belum mengerti rasanya memiliki anak dan
gila karena menyayanginya. Benar, jika ibu memberikan segalanya untukku, jika
ibu yang paling mengkhawatirkanku meski aku sudah tua sekalipun, memikirkan
apakah aku sudah makan, menanyakan kabarku, mendoakanku, mendorongku untuk
meraih apa yang kuinginkan, berharap anaknya pulang dengan selamat, menyambutnya
ketika pulang dengan senyum tulus.
Ibu adalah satu-satunya orang yang tetap di sisiku ketika
yang lain pergi, satu-satunya orang yang memandangku sebagai yang terbaik
ketika yang lain memandangku buruk, satu-satunya yang tetap mengasihi aku
bahkan ketika aku berlaku buruk. Ibu tidak pernah tega meninggalkanku terluka
seorang diri. Mengerti tanpa harus kuucap. Tidak pernah membiarkanku terluka,
tidak pernah rela.
Pengorbanan ibu kala itu… senyum di wajahnya yang semakin
tua. Keriput di setiap sudut kulitnya. Senyumnya tidak akan pudar. Tangan
tuanya yang menyambutku setiap pulang ke rumah. “Makan dulu nak.” yang selalu
ia ucapkan setiap aku terlambat di jam makanku. Perhatiannya yang diam-diam
terselip di setiap harinya. Juga doa doa yang ia panjatkan untukku. Sungguh aku
ingin ibu selalu baik-baik saja. Sungguh aku ingin ibu selalu sehat.
Ah, rupanya sudah hujan. Rintiknya telah menyentuh kulitku
dengan lembut. Satu-persatu jatuh, terhempas ke tanah. Sebaiknya aku menepi
sejenak untuk mengenakan jas hujan.
Di emperan toko yang sudah
tutup, aku membuka jok motor dan mengeluarkan jas hujan.
Ketika aku tengah menggunakan jas hujan, aku melihat seorang
ibu yang berlari di tengah hujan menyeberangi jalan raya. Di dekapannya ada
seorang anak yang ia lindungi dengan kain gendongnya. Hujan turun sangat lebat.
Hingga jalanan pun terlihat putih dan mengabur. Tiba-tiba di tengah jalan, ibu
itu terjatuh. Aku segera mengancingkan jas hujanku dan berlari menuju jalan
raya.
“Ibu.. Ibu.. Ibu.. Ibu.. Ibu.. Ibu.. Ibu.. Ibu..” ucapku
lirih sambil menangis, berlari diantara gemuruh hujan yang menghantamku dari
segala sisi. Aku hirau dengan kiri kanan, rupanya sepi. Dekat dan semakin dekat
aku berlari menuju si ibu yang terjatuh itu. Semakin aku mengusap airmata yang
bercampur hujan, semakin khawatirku meledak, tiba-tiba mataku tertipu.
Tidak ada siapapun di tengah jalan raya. Yang ada hanya
sebuah cahaya yang semakin lama semakin terang, berasal dari sisi kananku.
“Tidak ada ibu. Tidak ada.”
“Piiiiiiiimmmmmmmmmm!”
Gelap. Semuanya gelap.
-Penulis
Komentar
Posting Komentar