Seandainya Jika


Siang itu sangat terik. Di jalan beraspal tampak kepulan-kepulan panas yang mengombak. Daun-daun hijau mulai layu, beberapa pohon kekeringan.
Di rooftop sebuah rumah, di bawah naungan bayang-bayang tembok gedung pencakar langit di samping rumah tersebut, terdapat dua ekor kucing yang sedang tiduran. Salah satu berwarna coklat muda dan yang lebih kecil berwarna putih.

“Hari ini panas sekali ya paman.” kata si kucing putih pada kucing berbulu coklat muda.

Si paman kucing tidak menjawab pertanyaannya, ia malah sibuk mengibas-ibaskan ekornya. Lalu terdengar suara dengkuran yang lumayan kencang. Tertidur ia rupanya. Cepat sekali.
Si kucing kecil berpindah posisi ke sebelah kanan si kucing coklat. Ia lebih leluasa memandang kota di bawah yang terlihat kecil. Angin di atas sini lebih kencang dari yang ia bayangkan. Kumis kecilnya bergerak-gerak tertiup angin.

“Ah seandainya kota itu memang sekecil pandanganku sekarang.” ucapnya dalam hati. Ia begitu ingin memangsa manusia seperti ikan asin yang kerap ia curi di pasar.

“Woi, dasar burung.” teriak si paman kucing.
Si kucing kecil menengok, ada apa, raut wajahnya berkata demikian.

“Mentang-mentang aku ini kecil dan kau bisa terbang, bisa bebas menjadikanku wc mu!”
Si paman kucing mengibas-ibaskan ekornya yang terkena kotoran burung. Si kucing kecil tertawa.

“Seandainya kita jadi burung, pasti menyenangkan bisa terbang dan melihat seluruh dunia ini kecil.” katanya.

Si kucing coklat, Coki namanya, menggerak-gerakkan kumisnya malas, “Apa enaknya jadi burung yang kapan saja nyawanya terancam oleh pemburu. Belum lagi pemangsa lain seperti kita dan burung elang.”

“Wah, benar juga ya paman. Eh, tapi ayam sehat-sehat saja, padahal dia juga bangsa burung.” tanya si putih.

Coki mengubah posisinya untuk duduk, lalu menjilati tangannya untuk diusapkan ke wajahnya yang baru bangun tidur. “Ayam itu unggas, pula ayam tidak bisa terbang setinggi burung.”

“Tapi bukankah menyenangkan jika kita ini ayam. Diberi makan setiap hari, tidak perlu mencuri ikan asin di pasar. Tidak perlu dimaki dan ditendang untuk makan.” kata si putih mengawang.

“Apa enaknya jadi ayam. Ya kalau bisa hidup, kalau tidak? Waktu masih berwujud telur saja sudah dimasak. Kalaupun menetas juga rentan penyakit lalu mati. Atau diwarnai dan dijual di pasar, sampai di rumah dibuat mainan oleh anak-anak kecil. Atau yang lebih menyakitkan, diberi makan setiap hari, disayang-sayang, pas sudah besar eh dijual, disembelih dibiarkan menggelepar menjemput ajal, atau paling-paling mati terlindas kendaraan.”

Si putih mengangguk, ia teringat pernah melihat ayam mati di jalan dan tidak ada seorangpun yang menyingkirkannya. Si ayam yang ia lihat kala itu adalah ayam betina. Tak lama setelah si ayam benar-benar mati, datang seekor ayam jantan. Mungkin ia adalah pasangannya, yang menunggui si ayam betina. Manusia yang lalu lalang menyaksikan namun hanya diam.

“Kalau begitu paling enak jadi manusia. Iya kan paman?” kata si putih bersemangat.
Coki tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan si putih. Hampir-hampir airmata keluar dari sudut bolamatanya yang menggemaskan.

“Terlebih jadi manusia. Mengapa inginmu menjadi makhluk seperti manusia?”

“Karena manusia adalah khalifah di bumi, wakil dari Tuhan di bumi.”

“Itu kalau manusianya mulia, kalau tidak? Apa kau tidak tau bahwa manusia itu berbeda-beda. Kamu pikir si khalifah itu baik semua, tidak nak. Coba pikirkan, kenapa iblis tidak mau bersujud pada manusia?”

Si putih berpikir sejenak, ia tidak pernah diberi pengetahuan yang cukup oleh ibunya dulu. Tidak diberitahu pula tentang pendapat iblis yang pembangkang itu. Hanya beberapa ilmu yang ia dapat.

“Karena iblis sombong?”

“Ya. Tapi kau tak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Manusia itu bisa bersikap baik melebihi malaikat tapi juga bisa menjadi lebih keji dari iblis. Apa yang kau ingin dari manusia? Bukankah mereka yang menendangmu di pasar, menyirammu dengan air panas. Mereka yang melihatmu pun tidak memberimu makan barang secuil ekor ikan. Apa kau tidak dengar berita ibu manusia yang tega membunuh anaknya? Bahkan kita yang kucing saja mengasuh anak sampai mampu mencari makan sendiri. Ayam saja mampu melindungi anaknya yang mungkin lebih dari sepuluh ekor. Namun kadang manusia tidak bisa melindungi anaknya dari dirinya sendiri.”

Si putih tertegun, ia belum juga menemukan jawaban, “Lalu yang paling menyenangkan jadi apa paman?”

“Ya jadi dirimu sendiri, jadi kucing. Kita tidak bisa memilih akan menjadi siapa kita di dunia. Yang harus dilakukan adalah memerankan dengan baik peran kita di dunia. Itu adalah hal paling menyenangkan. Sama seperti jika kau bertanya mengapa daun mangga berwarna hijau, mengapa bumi berevolusi, mengapa luar angkasa tak memiliki sudut. Sungguh tak baik pula kau tanyakan mengapa kau harus jadi kucing, bukan anjing.”

Coki, si kucing berwarna coklat kembali merebahkan dirinya. Membiarkan si putih pusing memikirkan mengenai esensi dirinya di dunia dan melupakan ‘seandainya jika’. Karena ‘seandainya jika’ hanyalah andai-andai dalam imajinasi yang tak terbatas, tidak akan pernah berhenti pada satu kepuasan. 'Seandainya jika' akan terus melahirkan 'seandainya jika' yang lain. Titik dimana satu kepuasan terpenuhi akan melahirkan kepuasan lainnya.

Alangkah baiknya bersyukur.

-Penulis

catatan:
beberapa hari ini Im in bad management of time, and can't stop thinking if i were..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM