DUNIA MONOKROM 2


Sang Putih yang mengagumi Hitam.

Kelam tak selalu menyedihkan, begitu kata Hitam sebelum bungkam. Ia membiarkan aku merangkai kata kali ini. Mengenai dunia kita lagi, dunia monokrom sang Pelukis.

Konon, aku dianggap sebagai simbol kesucian. Aku warna favorit para pengantin dan ahli ibadah. Yang mereka (para pengantin) bilang, aku lambang kesucian cinta. Juga kesucian jiwa bagi yang lain (para ahli ibadah). Karena mereka menganggapku suci, putih yang bersih, tak ternoda, tak berdosa. Ah tidak juga. Aku hanya pandai menyembunyikan hitamku yang berada di balik terang putihku.

Hitam juga ada dalam diriku, aku menyebutnya bayangan. Setiap putih memiliki bayangan. Banyak pula manusia membayangkan aku sebagai warna surga, namun tidak. Tidak ada yang tau warna surga. Hitam pernah mengatakan padaku bahwa kami diciptakan berpasangan oleh sang Pelukis. Kami memiliki kekontrasan visual, namun inti kami tidak berbeda jauh.

Hitam lebih leluasa mengungkapkan apa yang dia rasa. Sementara aku, memilih tersenyum dengan warnaku. Siapa bilang aku lambang kesucian, aku juga bisa bernoda, jika sudah begitu masihkah aku dianggap suci. Meski aku tau, hadirku menghadirkan imajinasi bagi sang Pelukis di atas kanvasnya. Namun aku hanyalah kosong tanpa Hitam.

Aku tidak bisa disebut kisah tanpa hadirnya hitam, tidak bisa pula menggambarkan apapun. Yang ada hanya kekosongan yang berisi kesemuan sang Pelukis. Yang sering Ia katakan, ”Adalah hal yang paling nyata dalam hidupku, sekaligus hal paling semu dalam kenyataan.” sebelum menggoreskan tinta hitamNya. Entah apa maksud perkataanNya. Namun setelah hitam ada pada kanvasku, aku menjadi hidup dengan berbagai kisah. Aku pun mengerti ‘yang paling nyata dalam hidupNya dan yang paling semu dalam kenyataan’. Sang Pelukis menulis kisah tentang dunianya, dalam imajinasi yang hanya milikNya, yang menjadi nyata dalam dunia kita. Kita mencipta dunia sang Pelukis.

Sesekali aku menjadi kanvas pula bagi manusia yang memandang ke langit. Aku berupa gumpalan awan yang bergerak perlahan. Mereka yang memandangku membayangkan banyak hal, mencoba meraih nyata dalam kepalanya. Namun ketika hitam datang, maka menjadilah kami abu-abu. Hujan pun turun, manusia berlarian mencari tempat berteduh. Mereka memandangku suram. Keabuan. Keraguan. Aku bukan putih, bukan pula hitam. Aku mengabu dan lalu.

Pernah aku menjadi dinding di sebuah rumah, lalu setiap sudut beraroma bunga mawar. Rupanya seorang pria tengah merenung, terantuk-antuk di atas sebuah sofa. Ia seperti hendak tertidur namun sebenarnya ia berpikir. “Aku pernah sejahat itu pada diriku.” ucapnya lirih.

Saat itu terang putih lampuku redup dan perlahan mati. Hitam datang pada kami dalam kegelapan. Ia memeluk pria itu dengan gelapnya. “Kau sekarang aman, maka berhentilah. Dirimu butuh dirimu.” bisik hitam lewat keheningan. Laki-laki itu lalu bangkit dan mengambil sebuah foto yang tergantung di dinding putihku. Aku baru sadar kalau ada sederet foto-foto menempel padaku. Sebuah foto seorang gadis ia ambil dengan tangkas. Aku menjadi cahaya lampu trotoar di pinggir rumah lelaki itu ketika ia mulai menyalakan api. “Matilah kenangan. Biarkan aku tenang.” ucapnya membakar habis foto itu.

Mengabu sudah. Tidak hitam-tidak pula putih. Foto itu mengabu, penuh keraguan. Keraguan dalam diri sang lelaki, apakah ia benar-benar sudah lupa atau hanya melupa. Ah tentu aku tak berhak meracau pikiran sang lelaki. Alangkah baiknya aku terdiam ketika kulihat Hitam merangkul sang lelaki menuju pemakaman di seberang jalan. Pemakaman dimana semua kenangan dibuang, tenggelam dalam malam, menghilang.

O sang Pelukis, dalam wujud apalagi aku ini. Ah, rupanya aku tengah menjadi jas dokter. Menyedihkan menyaksikan manusia yang menderita, namun membahagiakan pula melihat mereka yang percaya pada harapan hidup. Hidup dalam harapan atau harapan yang menjadikan hidup. Manusia yang berada diambang nyawa kadang kehilangan harapan dan hidup secara bersamaan. Ada pula yang bersemangat untuk hidup karena harapan, meski harapan tak selalu hidup. Hidup ini Harapan ini dan itu. Mungkin Harapan dan Hidup memiliki hubungan yang dekat, sedekat aku dan Hitam.

Pada akhirnya aku tetaplah menjadi Putih, tak peduli wujudku. Karena aku tercipta sebagai salah satu warna, tetaplah sama dalam wujud apapun. Aku tetap sama. Tetap pula menanti Hitam datang padaku untuk menorehkan kisah oleh sang Pelukis. Hitam yang melukis diriku melalui goresan tinta Tuhan, “Kau yang memberiku cerita. Memberiku arti. Kau melukisku, kau menghidupkan dunia kosongku yang putih.” kataku pada Hitam.

Tanpa Hitam, aku tidak akan mengerti arti menyayangi dengan tulus jika bukan karena hati baiknya yang mengajariku bahwa kita semua pantas dicintai. Bahkan hatipun berwarna gelap--merah tua, gelap yang menjadi bagian Hitam. Bukan Putih, yang terang.



-Penulis

Catatan kecil:
Bukankah dunia ini penuh warna? Ya, memang. Tapi entah mengapa bagiku hitam adalah yang paling indah. Aku tidak sedang berduka, tidak pula sedang murung atau sejenisnya. Hanya saja, dalam hitam aku bisa merasakan ketenangan yang tidak bisa kulihat ketika melihat warna lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM