Untuk monokrom. Hitam dan Putih duniaku. Semua berawal dari kekosongan, kehampaan, ketiadaan. Dulu, dunia kita hanyalah dua buah titik hitam dan putih. Kecil dan hampir tak terlihat. Lalu Tuhan dengan kuasaNya menjadikan kita meluas, melebihi luar angkasa yang tak berujung, katanya. Hitam dan Putih melebur dalam dunia ini, dalam segala bentuk dan diberi rasa oleh warna lain. Aku, Hitam, bangga menjadi warna yang tua, gelap, dan suram. Aku digambarkan sebagai simbol kesedihan yang amat dalam. Warna diriku pula yang diagung-agungkan ketika ada manusia yang meninggal, seolah aku adalah simbol kepergian. Banyak pula manusia yang takut pada warnaku ketika malam tanpa cahaya, menyeramkan katanya. Ah sudahlah, bagiku itu hanya pendapat subjektif. Mereka tidak mengerti sisi lain dariku. Berkat Tuhanku, aku sudah bukan lagi titik hitam kecil, “Kita sudah dewasa, Putih.” ucapku pada Putih. Ia mengangguk dengan tatapan yang mengawang, entah apa itu. Mungkin ia memikirkan...
Komentar
Posting Komentar