SURAT CINTA PERTAMA


(Faktual)

Bukan aku loh ya, bukaaan. Tapi temenku, sebut saja Mawar pengedar tahu boraks wkwkwk, nggak ding, sebut saja Ria.


 

Kami waktu itu duduk di kelas enam SD, sesepuhnya dedek gemes. Di kelas lima, ada seorang murid baru, sebut saja Fadhil. Aku sempat melihat dia duduk di depan toko kelontong di depan SD sebelumnya.

 

Menurut kami (anak SD waktu itu) dia ganteng (tapi sekarang enggak kok wkwk). Minggu pertama kedatangan Fadhil, semua masih baik-baik saja. Lalu suatu hari kantor guru heboh dengan sebuah laporan dari murid kelas lima (yang cowok) yang menyerahkan selembar kertas binder minmie berwarna orange, motif strawberry.

 

Ibu Kepala Sekolah membawa kertas itu sambil berjalan ke kelas lima. Kami para kepo-kepo club, mengekori bu Kepsek. Fadhil saat itu sedang (katanya lagi pulang, waktu itu jam istirahat) tidak ada di kelas, ia tersangka kasus kertas binder.

 

Kami berjinjit untuk melihat isi kertas itu. Aku lupa tulisannya apa, tapi intinya, Fadhil nembak Prita, teman sekelasnya. Bu Kepsek membawa surat itu kembali ke kantor. Sementara kami terpaku, saling pandang,“Kok bisa?”

 

Aku merasa aneh, anak SD kok udah mikir kayak gitu.

 

Lalu ketika suatu siang aku main ke rumah Tika, ia mengajakku ke rumah Lina. Kebetulan di sana ada Prita. Kami duduk berempat di halaman rumah pamannya Lina, membicarakan yang terjadi akhir-akhir ini.

 

“Itu apa?” tanyaku pada Prita, melihat dia sedang menggosok-gosokkan sesuatu ke kaveling.

 

“Cincin dari Fadhil.” jawabnya sambil memanyunkan bibir.

 

Aku meminta cincin itu, kuperhatikan. Sebuah cincin imitasi dengan bentuk hati dan ada huruf P di dalamnya. Katanya kalo Prita nerima Fadhil, cincinnya suruh make, tapi kalo ditolak yaudah balikin cincinnya, aku beli pake uang tau kata Fadhilnya. Aku ngakak. Ini bocah sehat enggak ya.

 

Nggak hanya itu sih. Fadhil suka ngasih kata-kata gitu di kertas tapi Prita bakar semua kertasnya wkwkwk. Setelah penolakan sadis dari Prita, Fadhil menyerah. Akhir-akhir ini dia sering ribut dengan Ria, teman sekelasku. (ribut: ape lo, ape lo)

 

Di akhir bulan Mei (lupa hari apa), saat jam istirahat, aku dan Dhika bermain di papan tulis, coretcoret nggak jelas. Ketika itu Fadhil lewat di depan kelas (abis berantem sama Ria). Kami menyuruhnya masuk, lalu melihat tulisan di papan tulis, tanggal ulangtahun Ria plus coretan. Ria datang, Fadhil melenggang songong, ngga peduli katanya. Ceritanya kayak di sinetron, benci di awal.

 

Suatu siang Dhika datang ke rumahku dengan ekspresi yang ga bisa dijelaskan. Ia membawa kertas merah jambu. Dia bilang itu adalah surat dari Fadhil untuk Ria. Tadi Dhika dititipi Fadhil.

 

“Ayo kita baca duluan.” Kataku.

 

Kami pun membuka surat itu di teras rumahku, cekikikan. Isinya begini;

“Ria yang cantik dan sholehah, anaknya pak haji. Aku pengen ke rumahmu ketemu bapakmu (ngapain tong :v). Terus ya, kalau kamu ulangtahun ya, aku mau ngado boneka.” kuranglebih begitu, duh ngakak nulisnya.

 

Kami meluncur ke rumah Ria, memberinya surat plus ocehan heboh. Malam harinya Fadhil mengajak Ria bertemu. Aku dan Dhika diminta untuk menemani, soalnya dia ngajak ketemu di bawah pohon bamboo, siapa yang nggak ngeri :v. Tapi akhirnya engga kok, Fadhil menunggu di depan pos, di pertigaan jalan, bersama salah satu temannya.

 

“Masa’ kita yang ke sana sih?” kataku, you know lah perempuan means.

 

Kami awalnya melihat dari kejauhan. Menunggu lama. Hingga akhirnya mengalah. Ria menghentikan sepedanya di depan Fadhil, aku dan Dhika berboncengan, berhenti di belakang Ria.

 

“Mau ngomong apa?” tanya Ria.

 

“Apaan sih. Pergi sana. Ketek lu bau tuh.” Ni anak nyebelin banget, emang ketek dia nggak bau-,-coba aja


 

Mau nggak mau kami pergi. Masalahnya keteknya Ria nggak bau, itu hanya alasan untuk membatalkan pertemuan. Kata-kata manisnya hilang, sikapnya berubah dingin, padahal nggak ada apa-apa. Mudah bilang suka mudah bilang benci.

 

Hm, nggak tau deh sama pemikiran anak SD :v.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM