WIRAUSAHA KWONYOL
Aku merasa konyol tiap bernostalgia tentang masa lalu ini. Saat itu aku kelas tiga atau kelas empat SD kalo nggak salah. Entahlah bagaimana asal mulanya, yang kuingat aku dan Dhika ingin mempunyai pekerjaan :v.
Kami ingin mempunyai uang dari usaha kami sendiri. Namun baik aku maupun Dhika tidak tahu harus bekerja apa dan kemana. Lalu akhirnya mendapat inspirasi dari ibu-ibu yang jualan mainan di depan SD, kayaknya enak duduk-duduk dapat uang.
Sesampainya di rumah aku dan Dhika mengumpulkan mainan dan
barang-barang dari rumah masing-masing.
“Banyak nih, pasti laku.” Kata Dhika saat semua barang
terkumpul.
“Kita bakalan sukses nih. Aku ga sabar!” kataku
Lalu kami membungkus barang-barang itu ke dalam plastik bekas
undangan pernikahan (yang ada rekatan-nya—biar kelihatan bagus), dan kami
menempel harga. Asal kalian tahu, barang-barang itu, sumpah jelek banget, udah
rusak dan super bekas. HAHAHA.
Ada boneka kecil, ikat rambut kumel, bandana, gelang,
gantungan kunci, dan itu semua jelek. Lebih mirip sampah deh daripada dagangan.
“Eh, kita buat lotre yuk, biar tambah seru!” usul Dhika
Dan kami pun menggunting kertas kecil-kecil untuk diberi
nomor dan di tempel di kertas potongan kardus, di tata lurus.
Hari berikutnya, aku dan Dhika ‘Jualan’ di kuburan. Eh, tapi
ini kuburan keramat, khusus untuk eyang-eyang jaman dulu dan bukan kuburan
umum.
Supaya ada yang beli, kami sudah promosi di hari sebelumnya
ke anak-anak ingusan di sekitar rumah kami. Untungnya mereka datang dan membeli
dagangan kami (soalnya dipaksa sih wkwk). Di minggu pertama laris manis, aku
sampai bingung harus menjual barang-barangku yang manalagi.
Selain itu beberapa dari mereka ada yang utang dan aku jadi
harus mencatatnya di buku (Waktu SMP aku sempet nemuin buku utang ini, namun
kubakar karena malu). Namanya juga usaha, sewaktu-waktu bisa bangkrut. Dan itu
terjadi karena para emak dari bocah ingusan melarang anaknya untuk membeli
dagangan kami (yang ga bermutu, wkwkwk).
“Apaan nih, dikasih uang buat jajan malah dipake buat beli
kayak gini.” Kata emak mereka.
Akhirnya, aku dan Dhika cuma dapat uang delapan ribu rupiah
(belum termasuk yang utang). Dan kami jadi nggak enak buat nagih utangnya,
karena takut dimarahin emak mereka.
“Eh lotrenya masih nih, kita habisin yuk.” Kata Dhika
Untung saja dagangan kami tinggal sedikit. Jadi kami
mengambil lotre itu dengan senang hati, rugi dikit nggak papa. Dan di lotre itu
banyak zonk nya, tapi kami tetap dapat hadiah dari lotre itu, meski Cuma sampah.
Lalu uang yang kami dapat dibagi dua. Dan baru beberapa hari aja udah habis. Tapi rasanya punya uang hasil jerihpayah sendiri tu luarbiasa banget, bangga. Pokoknya nggak bisa diungkapin dengan kata-kata.
Komentar
Posting Komentar