Semua Berawal dari Ngupil
Faktual.
Sumber: mata air alami pegunungan
Hari itu siang yang terik. Nana (samaran) dan Via (samaran juga biar sama) pergi main sepulang sekolah. Mereka dua gadis SD pecandu mie goreng kremes (mie instan, dimakan tanpa dimasak A.K.A snack mie instan). Siang itu seperti agenda kemarin, mereka pergi membeli mie ke warung dekat kuburan.
“Eh tunggu! Uangku kurang Rp.200.” kata Via
“Yaudah, kita cari uang yuk.”
Mereka menyusuri jalan, melihat ke bawah, kali aja ada uang. Hingga tiba di warung itu, mereka belum menemukan Rp.200. Lalu mereka mencari di sekeliling rumah si pemilik warung.
“Aku dapat!” kata Via. Sungguh keberuntungan yang kebetulan.
Mereka pun berhasil membeli mie.
“Makan dimana nih biar nggak ketahuan emak?” tanya Nana.
“Tempat biasa.”
Mereka pergi ke sebuah rumah tua (yang hampir roboh) di belakang warung tadi. Di teras rumah itu ada sebuah petakan dari bamboo, bekas kandang kambing. Yaudah, di situ deh tempat mereka berpesta mie kremes bumbu pedes.
Nana duduk di atas batu putih, mereka duduk berhadapan. Sambil menikmati mie, mereka cerita-cerita tentang harga mie yang naik Rp.200.
Tapi tak apa karena…
“Mie goreng kremes emang enak (jempol)” >> anak-anak kurang makan :v
Mereka memasukkan bungkus bekas bumbu mie ke dalam rumah tua melalui celah di dinding yang terbuat dari anyaman bamboo (untuk menghilangkan jejak :v).
“Lihat di dalam rumah, bekas bungkus mie nya banyak. Udah berapa kali sih kita.” Kata Via mengintip melalui celah yang tidak bisa disebut celah. Di dalam sana udah kayak tempat sampah :v.
Saat Via sedang menikmati bumbu asin, tiba-tiba Nana berdiri.
“Aku Mimisan!” ia menyentuh hidungnya, “gimana nih?”
Wajah Nana pucat, kebingungan. Ia keluar dari kandang, berlari menuju sumur di depan rumah tua.
“Yah, ngga ada air.”
Via mengekori Nana, masih menikmati bumbu mie asin, dia malah ketawa-ketawa :v.
Nana melihat bendera sebuah partai berkibar di samping rumah tua itu. Ia melesat meraih si bendera. Lalu mengelap hidungnya dengan bendera itu wkwk.
“Belum berhenti juga (mimisannya). Gimana nih.”
“Kasian benderanya ternodai.” kata Via tertawa sampai perutnya sakit.
“Gara-gara ngupil di sekolah nih, sampe ada yang luka…”
Via tertawa makin keras, sampai matanya yang sipit menyipit. Nana jadi ingat dengan perkataan Via kalo mimisan itu berarti dosanya banyak (wkwk sesat nih anak). Akhirnya Nana berlari pulang karena ketakutan ini adalah adzab atas dosa-dosanya, ia pun meninggalkan Via dengan bumbu asinnya.
Sampai di rumah, Nana dimarahi ibunya karena ngupil ngga
beretika, udah ngga ada upilnya masih aja ngupil.
Komentar
Posting Komentar