LOGIKA
lanjutan dari Imajinasi
: otak-jiwa
“Lihatlah dia sekarang, tiada peduli. Sadarlah, yang kau lakukan itu hampa, dunia fanamu sia-sia. Dan kau harus memikirkan sesuatu. Bisa jadi ketika kau patah hati, orang-orang yang pernah kau sia-sia kan menjadi begitu berarti.
Tidak jarang pula merindukan kehadiran mereka, lalu giliranmu yang jatuh cinta pada mereka, seorang diri. Kau membutuhkanku ketika memagut rasa, seharusnya kau melibatkanku pula sebelum memutuskan sesuatu.”
Aku melihat bayangan dirimu yang terekam jelas di otakku begitu Logika membukakan jendela besar itu.
Dirimu yang saat ini amat jauh dariku, lahir dan batin. Ya, kurasa itulah alasan mengapa aku bertemu Renjana dan Imajinasi.
Ketika kenyataan tidak seperti apa yang hati inginkan.
Ia terlihat merah dan panas, ada bara api yang mengepul dari Logika. Dapat kulihat tangannya hendak berayun menamparku, namun justru belaian lembut yang menyapa pundakku.
“Kau berada dalam kesedihan yang amat mendalam, aku paham. Namun bukan begitu caranya mengungkapkan lara.
Kau hanya akan menenggelamkan dirimu semakin dalam ke lautan luka. Hal paling indah yang kau imajinasikan bisa menjadi hal yang paling menyiksamu.”
Perlahan, Logika memucat, ia mengucurkan keringat. Tersenyum pasi.
“Kumohon, sayangilah dirimu sendiri juga. Kebahagiaan di masa lalu bisa jadi pemicu kesedihan di masa sekarang, jika kamu membandingkan kenyataan masa lalu dengan masa kini.
Hidup memang aneh, berubah-ubah dengan cepat. Tapi kamu harus sadar, semua ini termasuk dalam skenario dari Penulis Takdir Maha Sempurna.
Pembaca tentu boleh menginterpretasikan skenario sesuai pendapatnya dan menyangka alur ceritanya, namun Penulislah yang Maha Tahu dengan kisah yang Dia tulis.”
“Kau boleh menyukai alur hidupmu ketika bersamanya sambil menyangka alur berikutnya, namun cerita tetap berlanjut, tidak berhenti pada satu alur.
Pula kau tidak tau apa yang ditulis oleh Sang Penulis. Siapa tahu, di alur selanjutnya, kau lebih bahagia.”
Logika menggamit pundakku, ia mengajakku berkeliling ruangannya. Di sana ada banyak rumus matematika yang pernah kupelajari sejak SD. Mereka tertulis di mana-mana.
Ada pula rekam jejakku ketika mengambil keputusan penuh pemikiran, yang menggantung seperti frame foto yang menempel di dinding.
Aku juga melihat sebuah guci besar di sudut ruangan, tempat Logika meletakkan ribuan hal metafisik yang sulit ia pecahkan, katanya isi guci itu adalah milik Hati.
Ia juga membukakan sebuah lemari yang di dalamnya terdapat kumpulan paradoks favoritku. Yang sejak dulu tidak terpecahkan dan membuat otakku berlarian tujuh keliling.
Lalu kami berhenti pada sebuah papan putih yang besar. Di sana tertulis ribuan kata-kata tak beraturan, namun cukup jelas untuk dibaca.
Pada salah satu kalimat, tertulis, “Suatu hari nanti, aku akan pergi ke Jepang bersama keluargaku untuk melihat perayaan Hanami, khas orang Jepang.”
Lalu di sampingnya terdapat sebaris tulisan dengan posisi vertikal.
“Mereka akan melihat namaku terpampang di deretan film-film ternama, majalah-majalah besar, juga secuil baris iklan di kolom Koran. Lalu akan ada banyak pekerjaan yang menghampiriku. Dengan bangga, ibuku akan memelukku sambil bercucuran airmata bahagia.”
Aku tersenyum kecil, mengingat rencana-rencana kecilku, jangka panjang dan jangka pendek.
“Dan hal paling sederhana, aku akan menjadi orang yang dapat membantu orang lain sekecil apapun. Aku ingin jadi orang paling dibutuhkan.”
Butir airmata jatuh membentuk titik kecil pada lantai ruangan yang berwarna merah pudar.
Aku merasa terpukul, sambil kulihat diriku sendiri; apa yang sudah kuusahakan untuk semua hal itu. Belum ada, belum cukup.
Logika mengusap punggungku, ia tersenyum penuh karisma. Dagu tegasnya tepat berada di puncak kepalaku. Ia memelukku.
“Sekarang bukan waktunya menyia-nyiakan dirimu untuk mengabdi pada perasaanmu sendiri.
Ada banyak mimpi yang harus terwujud. Sosoknya hanya secuil dari alur hidupmu yang belum selesai.
Namun bukan berarti dia tidak penting, hanya saja tidak ada yang boleh mendominasi, semua harus seimbang; antara hati dan logika.”
Logika melepas pelukannya, menghapuskan airmata yang setengah mengering. Ia mendorongku jauh berada di bawah kepala di atas hati.
“Kau harus jadi manusia yang tidak terpedaya oleh nafsu sendiri.” bisiknya.
-Penulis
: otak-jiwa
“Lihatlah dia sekarang, tiada peduli. Sadarlah, yang kau lakukan itu hampa, dunia fanamu sia-sia. Dan kau harus memikirkan sesuatu. Bisa jadi ketika kau patah hati, orang-orang yang pernah kau sia-sia kan menjadi begitu berarti.
Tidak jarang pula merindukan kehadiran mereka, lalu giliranmu yang jatuh cinta pada mereka, seorang diri. Kau membutuhkanku ketika memagut rasa, seharusnya kau melibatkanku pula sebelum memutuskan sesuatu.”
Aku melihat bayangan dirimu yang terekam jelas di otakku begitu Logika membukakan jendela besar itu.
Dirimu yang saat ini amat jauh dariku, lahir dan batin. Ya, kurasa itulah alasan mengapa aku bertemu Renjana dan Imajinasi.
Ketika kenyataan tidak seperti apa yang hati inginkan.
Ia terlihat merah dan panas, ada bara api yang mengepul dari Logika. Dapat kulihat tangannya hendak berayun menamparku, namun justru belaian lembut yang menyapa pundakku.
“Kau berada dalam kesedihan yang amat mendalam, aku paham. Namun bukan begitu caranya mengungkapkan lara.
Kau hanya akan menenggelamkan dirimu semakin dalam ke lautan luka. Hal paling indah yang kau imajinasikan bisa menjadi hal yang paling menyiksamu.”
Perlahan, Logika memucat, ia mengucurkan keringat. Tersenyum pasi.
“Kumohon, sayangilah dirimu sendiri juga. Kebahagiaan di masa lalu bisa jadi pemicu kesedihan di masa sekarang, jika kamu membandingkan kenyataan masa lalu dengan masa kini.
Hidup memang aneh, berubah-ubah dengan cepat. Tapi kamu harus sadar, semua ini termasuk dalam skenario dari Penulis Takdir Maha Sempurna.
Pembaca tentu boleh menginterpretasikan skenario sesuai pendapatnya dan menyangka alur ceritanya, namun Penulislah yang Maha Tahu dengan kisah yang Dia tulis.”
“Kau boleh menyukai alur hidupmu ketika bersamanya sambil menyangka alur berikutnya, namun cerita tetap berlanjut, tidak berhenti pada satu alur.
Pula kau tidak tau apa yang ditulis oleh Sang Penulis. Siapa tahu, di alur selanjutnya, kau lebih bahagia.”
Logika menggamit pundakku, ia mengajakku berkeliling ruangannya. Di sana ada banyak rumus matematika yang pernah kupelajari sejak SD. Mereka tertulis di mana-mana.
Ada pula rekam jejakku ketika mengambil keputusan penuh pemikiran, yang menggantung seperti frame foto yang menempel di dinding.
Aku juga melihat sebuah guci besar di sudut ruangan, tempat Logika meletakkan ribuan hal metafisik yang sulit ia pecahkan, katanya isi guci itu adalah milik Hati.
Ia juga membukakan sebuah lemari yang di dalamnya terdapat kumpulan paradoks favoritku. Yang sejak dulu tidak terpecahkan dan membuat otakku berlarian tujuh keliling.
Lalu kami berhenti pada sebuah papan putih yang besar. Di sana tertulis ribuan kata-kata tak beraturan, namun cukup jelas untuk dibaca.
Pada salah satu kalimat, tertulis, “Suatu hari nanti, aku akan pergi ke Jepang bersama keluargaku untuk melihat perayaan Hanami, khas orang Jepang.”
Lalu di sampingnya terdapat sebaris tulisan dengan posisi vertikal.
“Mereka akan melihat namaku terpampang di deretan film-film ternama, majalah-majalah besar, juga secuil baris iklan di kolom Koran. Lalu akan ada banyak pekerjaan yang menghampiriku. Dengan bangga, ibuku akan memelukku sambil bercucuran airmata bahagia.”
Aku tersenyum kecil, mengingat rencana-rencana kecilku, jangka panjang dan jangka pendek.
“Dan hal paling sederhana, aku akan menjadi orang yang dapat membantu orang lain sekecil apapun. Aku ingin jadi orang paling dibutuhkan.”
Butir airmata jatuh membentuk titik kecil pada lantai ruangan yang berwarna merah pudar.
Aku merasa terpukul, sambil kulihat diriku sendiri; apa yang sudah kuusahakan untuk semua hal itu. Belum ada, belum cukup.
Logika mengusap punggungku, ia tersenyum penuh karisma. Dagu tegasnya tepat berada di puncak kepalaku. Ia memelukku.
“Sekarang bukan waktunya menyia-nyiakan dirimu untuk mengabdi pada perasaanmu sendiri.
Ada banyak mimpi yang harus terwujud. Sosoknya hanya secuil dari alur hidupmu yang belum selesai.
Namun bukan berarti dia tidak penting, hanya saja tidak ada yang boleh mendominasi, semua harus seimbang; antara hati dan logika.”
Logika melepas pelukannya, menghapuskan airmata yang setengah mengering. Ia mendorongku jauh berada di bawah kepala di atas hati.
“Kau harus jadi manusia yang tidak terpedaya oleh nafsu sendiri.” bisiknya.
-Penulis
Komentar
Posting Komentar