Tampang Sayaaaa
: melas sejak lahir
Siang itu sangat terik, saya hampir pingsan disorot sinar matahari sejak pagi. Peluh saya menetes deras, kaos yang saya kenakan basah dan berbau kecut.
Perlahan saya rasakan butir peluh mengalir menuruni dahi, berbelok menuruti lekuk alis. Saya mengusap wajah berkali-kali dengan ujung kaos.
Parkiran ini tak ubahnya mirip padang mahsyar yang katanya puanas. Saya tidak tahu sekarang jam berapa. Namun melihat kulit saya yang lebih menghitam serta mengkilat meyakinkan saya bahwa ini sudah jam duabelas siang lebih.
Rasanya saya lebih mirip ikan asin yang dijemur para nelayan. Atau garam laut yang sedang dikeringkan. Tak henti tenggorokkan saya terasa kering. Sejak tadi pagi hanya menelan ludah. Alangkah menyegarkannya jika saya guyur dahaga dengan segelas es teh.
Ah, rupanya hendak membeli es teh pun harus mengantri. Maklum, menu di warteg yang saya datangi memang terkenal enak dan murah. Banyak orang-orang yang makan di sini, mulai dari yang berkantong tipis hingga tebal. Jangan ditanya saya berada di golongan mana.
Saking sibuknya si ibu pemilik warteg, juga dua orang karyawan yang bolak-balik membawa pesanan, saya pun memilih untuk menunggu. Biasanya si ibu pemilik warteg hafal dengan saya.
Akhirnya saya jongkok di dekat pintu, sambil mengibas-ngibaskan topi hitam di depan wajah. Saya pandangi orang yang sliweran di jalan. Dan mendengarkan jejakan kaki pelanggan yang keluar warteg.
“Ini sedikit rejeki buat bapak.”
Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang lebih muda dari saya keluar dari warteg sambil memasukkan sesuatu dengan paksa ke telapak tangan saya.
Saya bergeming, mengernyitkan dahi, hendak memanggil si bapak itu namun ia terlanjur masuk ke mobil. Dan saya lebih penasaran dengan benda yang digenggamkan ke saya.
“Emang tampang saya mirip pengemis ha?”
Pekik saya yang setengah berteriak. Setelah saya tau bahwa benda itu adalah uang limapuluh ribu.
Sungguh mengherankan, hanya karena pakaian saya kotor dan compang-camping lantas disamakan dengan mereka yang bisanya menengadahkan tangan. Setidaknya saya masih mampu mencari uang meski hanya bertukang parkir.
“Lho pak, ngapain sampeyan jongkok di situ?”
Si ibu pemilik warteg nongol di ambang pintu. Saya beburu berdiri, memasang ekspresi muak.
“Saya dikira pengemis.”
Saya mengangkat uang limapuluh ribu ke depan muka si ibu. Menggoyangkannya patah-patah seperti Anisa Bahar.
“Lho lho lho, sampeyan ini gimana, pengemis jaman sekarang itu kaya lho. Uangnya bejibun. Saya yang duapuluh tahun jualan saja begini-begini terus,” kata si ibu pemilik warteg dengan kedua bibir manyun.
Saya berpikir sejenak, diam-diam mengiyakan perkataan si ibu.
“silakan masuk pak, saya buatin es teh.”
Si ibu masuk tanpa mempedulikan saya yang masih termenung, mempertimbangkan perkataan si ibu tentang pengemis..
Siang itu sangat terik, saya hampir pingsan disorot sinar matahari sejak pagi. Peluh saya menetes deras, kaos yang saya kenakan basah dan berbau kecut.
Perlahan saya rasakan butir peluh mengalir menuruni dahi, berbelok menuruti lekuk alis. Saya mengusap wajah berkali-kali dengan ujung kaos.
Parkiran ini tak ubahnya mirip padang mahsyar yang katanya puanas. Saya tidak tahu sekarang jam berapa. Namun melihat kulit saya yang lebih menghitam serta mengkilat meyakinkan saya bahwa ini sudah jam duabelas siang lebih.
Rasanya saya lebih mirip ikan asin yang dijemur para nelayan. Atau garam laut yang sedang dikeringkan. Tak henti tenggorokkan saya terasa kering. Sejak tadi pagi hanya menelan ludah. Alangkah menyegarkannya jika saya guyur dahaga dengan segelas es teh.
Ah, rupanya hendak membeli es teh pun harus mengantri. Maklum, menu di warteg yang saya datangi memang terkenal enak dan murah. Banyak orang-orang yang makan di sini, mulai dari yang berkantong tipis hingga tebal. Jangan ditanya saya berada di golongan mana.
Saking sibuknya si ibu pemilik warteg, juga dua orang karyawan yang bolak-balik membawa pesanan, saya pun memilih untuk menunggu. Biasanya si ibu pemilik warteg hafal dengan saya.
Akhirnya saya jongkok di dekat pintu, sambil mengibas-ngibaskan topi hitam di depan wajah. Saya pandangi orang yang sliweran di jalan. Dan mendengarkan jejakan kaki pelanggan yang keluar warteg.
“Ini sedikit rejeki buat bapak.”
Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang lebih muda dari saya keluar dari warteg sambil memasukkan sesuatu dengan paksa ke telapak tangan saya.
Saya bergeming, mengernyitkan dahi, hendak memanggil si bapak itu namun ia terlanjur masuk ke mobil. Dan saya lebih penasaran dengan benda yang digenggamkan ke saya.
“Emang tampang saya mirip pengemis ha?”
Pekik saya yang setengah berteriak. Setelah saya tau bahwa benda itu adalah uang limapuluh ribu.
Sungguh mengherankan, hanya karena pakaian saya kotor dan compang-camping lantas disamakan dengan mereka yang bisanya menengadahkan tangan. Setidaknya saya masih mampu mencari uang meski hanya bertukang parkir.
“Lho pak, ngapain sampeyan jongkok di situ?”
Si ibu pemilik warteg nongol di ambang pintu. Saya beburu berdiri, memasang ekspresi muak.
“Saya dikira pengemis.”
Saya mengangkat uang limapuluh ribu ke depan muka si ibu. Menggoyangkannya patah-patah seperti Anisa Bahar.
“Lho lho lho, sampeyan ini gimana, pengemis jaman sekarang itu kaya lho. Uangnya bejibun. Saya yang duapuluh tahun jualan saja begini-begini terus,” kata si ibu pemilik warteg dengan kedua bibir manyun.
Saya berpikir sejenak, diam-diam mengiyakan perkataan si ibu.
“silakan masuk pak, saya buatin es teh.”
Si ibu masuk tanpa mempedulikan saya yang masih termenung, mempertimbangkan perkataan si ibu tentang pengemis..
Komentar
Posting Komentar