IMAJINASI

(lanjutan dari Renjana)

: dunia fana

Renjana yang memperkenalkanku dengan Imajinasi. Sebagai solusi dan pelipur hati. Sebagai pengganti kehadiran dan segala sesuatu yang tidak bisa kumiliki, tidak bisa kulihat dengan mata, namun begitu terasa di hati.

Imajinasi, sejak hari itu, aku sudah bisa tersenyum. Kini rumahku (hatiku) akan terisi oleh apa dan siapa yang kumiliki dalam dunia yang baru. Ini adalah rahasia yang kusimpan sendiri.

Setelah aku berkenalan dengan Imajinasi, ia mengajakku untuk merebahkan diri sejenak di sofa besar ruang tamu. Kami lalu minum kopi.

“Pejamkan matamu.” katanya.

Aku pun menuruti perkatannya. Lalu ia mulai membisikkan semua hal tentang apa dan siapa sebelum penciptaan dunia baruku.

Ketika aku memejamkan mata, yang muncul pertama adalah kamu. Aku jadi teringat, kadang wajahmu tergambar jelas saat kutatap Imajinasi.

Aku agak takut dengannya karena bisa berubah wujud menjadi siapapun sesuai dengan keinginanku. Bukan sosoknya yang menakutkan, namun keinginanku yang tidak terkontrol-lah, yang menggerogoti kesadaran diriku.

Terlampau sering ia meniru dirimu.

Kadang ia menjelma jadi orang-orang yang pernah menyakitiku. Kadang pula menjadi orang-orang yang pernah aku sia-siakan karena lebih memilih dirimu—yang mungkin kamu belum tentu memilihku.

Semua bayangan itu benar-benar sesuai dengan pikiran selintasku. Sangat cepat dan tiba-tiba.

“Apa yang paling kau inginkan namun begitu semu untuk terwujud?” tanyanya di sela-sela pembuatan dunia baru.

Lalu aku menyebutkan satu nama. Iya, namamu.

Ajaib!

Dalam sekejap aku melihat dirimu. Kau berdiri menghadapku di sebuah padang rumput yang luas. Suasana malam di keheningan penuh bintang-gemintang. Aku menatap sekitar, ternyata hanya ada kau dan aku.

Kau tersenyum manis, melambaikan tangan padaku. Demi Tuhan, aku sangat senang. Rasanya aku ingin menangis bahagia.

Baru kali ini aku melihat sorot matamu yang meneduhkan, membahagiakan siapapun yang melihatnya. Dan deretan gigimu dengan semburat senyum di bibir, ah manis sekali.

Aku berlari ke arahmu. Kau menangkapku dengan sebuah pelukan. Erat, amat erat pelukanmu. Kau menimang-nimangku seolah aku anak kecil. Tepat di samping telingaku, nafasmu berembus mengiringi tawa bahagiamu.

Beginikah rasanya kerinduan. Sangat dekat dengan hatiku meski ragamu jauh. Sekarang jarak dan waktu bukanlah masalah, karena aku bisa menemuimu kapan saja..

..di sebuah ruang di hatiku, yang kusebut dunia baru.

Malam itu kita berbincang banyak hal. Mulai dari terakhir kita bertemu, caramu melewati hari-hari, caraku menghadapi kesendirian.

Kuceritakan semua tentang kesepian yang melandaku berbulan-bulan, hampir setahun lebih. Tiada hari tanpa mendebarkan hati setiap teringat dirimu.

Lalu kita membicarakan masa depan, akan jadi apa diri kita. Seperti sepasang anak kecil yang dengan ringan menumpuk angan, tanpa peduli angin.

Tentang bagaimana mewujudkan mimpi bersama, tanpa memikirkan akhirnya. Menyulam perasaan saling mengerti, bahkan ketika relai. Menghancurkan dinding kokoh nan dingin yang berdiri di antara kita.

Mendiskusikan banyak hal, melayangkan pikiranku melebihi awan. Kusandarkan kepalaku di pundakmu, sambil mengamati kerlap-kerlip bintang. Kau tau tidak apa yang aku pikirkan?

“Tidak ada.”

Aku hanya menikmati saat-saat bersamamu, terlalu nyaman dan indah untuk dikatakan. Terlalu rumit untuk dipikirkan. Aku kesulitan menemukan pengungkapan yang tepat dengan kata. Yang aku tau, kau sangat berharga bagiku.

Tingkat kesesakkan hati ini ketika mengingatmu adalah tanda seberapa dalam rasa ini—yang masih saja sama, menghantam dengan membabibuta.

Tiba-tiba ribuan serangga lucu beterbangan mengelilingi kita. Selain gemintang yang menggantung, mereka menjadi obat penghias mata. Mereka terbang pada kuncup-kuncup bunga Edelweis yang entah dari mana tumbuhnya.

Salah satu spesies serangga itu, aku melihat satu yang pernah aku temui di masa kecil, capung sehari.

Bagaimana jika aku terlahir sebagai capung sehari, apa aku sempat jatuh cinta hanya dalam hitungan jam, apa aku sempat mengelilingi dunia dengan kepak sayap mungilku. Karena menjadi capung sehari, hari kelahiran sekaligus menjadi hari kematian.

Bisa saja aku ketiduran, dan bangun-bangun sudah mati. Mungkin menjadi arwah capung dan menggentayangi capung-capung lain karena belum melakukan apapun sudah mati.

Mungkin jika aku jadi capung sehari, temanku tidak banyak. Yang melayat juga tidak banyak. Tapi tetap saja, aku masih bisa menyayangi beberapa ekor capung. Menyayangi…

Kini aku melihat diriku sebagai cahaya orens keemasan yang memantul-mantul dari arah barat. Memelukmu yang ternyata adalah awan Kumulonimbus Kalvus.

Kau awan besar dengan puncak bergelembung yang gagah, aku hanya cahaya mega. Namun cukup memecah warna kita menjadi pancaran matahari kecil di bumi. Lalu melebur. Secepat itu berubah.

Ah, siapa peduli. Hidup memang berubah-ubah dengan cepat. Tidak menentu. Realita saja begitu, apalagi dengan dunia baruku ini---an illusion was overcome with ecstasy. 

Pembiasaan diri akan rasa yang biasa, perlahan terlupa. Aku terbuai dengan dunia baru. Di sini aku bisa jadi sesempurna yang kumau.

Saat ini juga, aku bisa secantik yang kubayangkan. Dan dirimu bisa jadi sangat menyayangiku, kau jadi takut kehilanganku. Padahal dalam kehidupan nyata kau amat tak peduli.

Entah bagaimana kita mulai terbang ke langit malam, memetik bintang sebanyak mungkin. Menaburkannya ke bumi, mengusir serangga-serangga kecil. Hingga terang benderanglah tanah rerumputan kita.

Bersih.

Kita merebahkan diri di sana, merasakan pucuk rerumputan kecil yang tajam menggelitik kulit. Dengan di kelilingi bintang-gemintang.

Rasanya aku tidak ingin pulang, jika memang ada rumah untukku pulang. Aku tidak pernah puas menghabiskan waktu denganmu.

Imajinasi membisikkiku lagi, “Kau juga bisa mengembalikan apa dan siapa yang pernah hilang dari hidupmu, mereka akan hidup di dunia ini.”

Lalu aku menghidupkan kembali Harapan yang tergerus waktu. Tentang keinginanku untuk bisa bertemu dengan tokoh-tokoh fiktif dalam cerita yang gemar kubaca.

Tentang orang-orang yang kuharapkan ada dihidupku, seperti sosok pahlawan, teman sejati, dan sosok-sosok penyemangat.

Aku bahkan terkejut bisa bertemu Belinda, teman khayalanku ketika masih SD. Kini dia sudah dewasa, lebih tua tiga tahun dariku.

Katanya ia kesepian semenjak aku pergi dan tidak pernah mengunjungi rumahnya, sebuah pemakaman di samping rumahku. Namun meski lama tidak bertemu, aku masih mengenalnya.

Ajaib sekali dunia ini! Semua bisa kutemui.

Bahkan, bagaimana mungkin Belinda mengirimku ke tempat kelahirannya, ke Perancis dalam sekejap.

Terlebih bersama dirimu, kita bergandeng tangan memandang menara Eiffel yang katanya penuh romantisme.

Entah apa yang kau pikirkan sebelumnya, ah sepertinya aku sendiri juga yang merangkai pemikiranmu untuk memberiku sebuah cincin emas dengan permata berwarna putih.

Di bawah langit malam, ditiup angin semilir. Kau menggenggam tanganku.

“Kita akan segera seatap, membangun rumah kehidupan yang menyenangkan.”

Badai mana yang menerpamu, maksudku, badai mana yang menerbangkan debunya padaku, racun apa yang menodai pemikiran ini. Alur ini. Juga ekspresi wajahmu dalam skenarioku, tersenyum manis.

Tutur katamu halus, tatapan matamu nampak serius. Ah sejak kapan kau jadi bersikap manis begini.

Di tengah naskah dadakan yang sedang dimainkan di kepalaku, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Imajinasi menepuk pundakku, mengisyaratkan untuk membukakan pintu terlebih dahulu.

Di teras rumahku, berdiri sosok dengan ekspresi cemas dan gemetar.

“Aku senang kau masih sadar.”

“Logika, ada perlu apa?”

Tanpa babibu, Logika menyeretku dari rumah. Aku khawatir jika ia membawaku ke palung pikiranku yang terdalam, dimana banyak lelehan lava memori dan pemikiran yang terbakar sia-sia.

Aku menengok ke belakang, menyaksikan Imajinasi yang berdiri di ambang pintu dengan wujud yang berubah-ubah. Wujud-wujud yang berkecamuk seriuh pemikiran selintasku saat ini.

Seketika aku teringat dengan dirimu.


*

Oh, aku ini kenapa.

“Itu yang ingin aku tanyakan padamu..”

Logika membukakan jendela Otak yang sangat besar, aku dapat melihat dunia nyata yang luas dan keras.

Aku melihat cahaya putih yang menyilaukan, sangat terang dan mungkin bisa membutakan jika saja aku melihatnya dengan mata asliku…



-Penulis
Nb : nulis hal abstrak susah juga ternyata, masih to be continue ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM