Pulang Malam
Cerita ini adalah kisah nyata, dan demi kenyamanan bersama (terutama dari narasumber), nama tokoh saya samarkan.
6 Agustus 2017.
Namaku Ara, aku ingin berbagi sedikit cerita
tentang—entahlah—pengalaman yang kurang bermanfaat. Hari ini Sabtu, dan aku
telah berada di kos (FYI, aku baru pertama kali menyewa kamar kos), setelah
kemarin sore kakakku mengantarku ke tempat antah berantah ini.
Sebenarnya bukan tanpa alasan, aku datang ke tempat kos
lebih awal. Jadi gini, aku itu mahasiswa baru, dan masih ada serangkaian acara
yang harus kuikuti selaku maba, sebelum akhirnya masuk resmi pada tanggal 21
Agustus 2017.
Dan acara yang kuikuti hari Sabtu ini berkaitan dengan ospek
yang telah berlalu. Atau lebih tepatnya, puncak ospek. Masa Pengakraban
namanya.
Pagi ini, semua maba dan mahasiswa pendamping serta yang
bersangkutan bersiap berangkat menuju ke salah satu pantai di Gunung Kidul.
Perjalanan terasa menyenangkan. Aku duduk di samping
temanku, sebut saja Febri dan Cristin. Urutannya; aku yang duduk dekat jendela,
lalu Cristin di tengah, lalu Febri di pinggir.
Mahasiswa pendamping kelompokku bernama mas Pras. Dia
orangnya seru abis, gila, ceplas-ceplos, pokoknya dia itu orang yang
menyenangkan. Dan selama perjalanan, dia yang bikin suasana dalam bus jadi
nggak ngebosenin.
Pas sampai di Pantai, kami melakukan banyak kegiatan. Dan
itu sangat menyenangkan. Aku bersama orang-orang ini; Febri, Cristin, Dian,
Adhit, Aziz, Husna, mas Pras, Ayu, Sabila.
Dan di sore hari, kami semua berkumpul di sebuah rumah
pantai, menikmati angin sore. Saat itu beberapa teman sedang sholat asar.
Sementara mas Pras, (yang tadi menitipkan sepatunya ke dalam tasku), tiba-tiba
membuka tasku tanpa izin.
Dan aku, aku dengan langsung menatapnya yang sedang mengurek-urek
isi tasku. Lalu tangannya membuka sebuah plastik hitam. Sontak aku menjerit!
“Jangan dibuka!!”
ITU BARANG RAHASIA VROH! :v
“Eh, pink.” Ucapnya pelan
NOOO!!!! :v
Dan dia dengan polosnya menatapku balik, seolah tak terjadi
apapun-_- aku ingin sekali melumuri wajahnya dengan pasir. Dia tau itu tapi dia
berekspresi seolah tak tau apapun!!!
Lalu, malam harinya, saat perjalanan pulang ke kampus. Mas
Pras duduk di sampingku, dia bercerita tentang perjalanannya yang melelahkan
setelah ada acara di Bandung, yang membuatnya hampir tidak bisa mengikuti acara
‘mantai’ ini. Namun dia akhirnya datang dan membuatku merasa lega.
Sekitar pukul 23:17, kami tiba di kampus. Ada yang dijemput
keluarganya, ada yang pulang naik motor, dan aku adalah mahasiswa yang jalan
kaki sendirian ke tempat kos.
Singkat cerita, setelah aku berjalan di sepanjang jalan
antah berantah nan sepi, aku tiba di depan gerbang area kos.
Dan kalian tau apa yang terjadi?
Gerbangnya udah dikunci
gembok :v
Aku membawa tas berat-berat, capek, pengen langsung tidur,
eh, malah ada bencana.
Aku menurunkan tasku, meletakkan di depan gerbang. Untuk
saat itu aku masih tenang, entah mengapa, padahal saat itu kampung udah sepi,
pukul setengah duabelas, aku perempuan, sendirian. Namun tak terbesit perasaan
menakutkan apapun.
Aku berpikir sejenak.
Lalu ide gila muncul. Aku mengeluarkan isi tasku, baju,
dompet, sepatu dan segala benda besar lainnya (Tujuannya Cuma satu, supaya
tasku nggak menggembung dan terlalu berat saat aku hendak melemparnya melewati
atas gerbang). Lantas memasukkan barang-barang itu melalui celah di bawah
gerbang.
Jadi, intinya aku mau manjat tuh gerbang wkwkwk.
IDE MACAM APA INI!
Aku celingukan memastikan keadaan aman, pas aku siap-siap
mau manjat, eh ada cewek lewat. Kayaknya dia juga maba yang tadi ikut ke
pantai. Soalnya dia ngeliat aku seolah pernah ngeliat aku (eh gimana sih-__-).
Trerereret (suara cewek tadi lewat pake motor)
Dan waktu untuk memanjatpun tiba. Aku memegang besi gerbang,
kakiku naik satu persatu, seperti memanjat tangga. Gerbangnya goyang-goyang.
Untung, ga ada cctv wkwk.
Sebenernya ada terbesit kata-kata, “Nanti kalau ada wartawan
lewat, dan diriku masuk Koran, bagaimana.”
Berita Utama: T E R K
U N C I! Seorang gadis nekat panjat gerbang
Dan aku hampir sampai di atas dan merasa keahlianku memanjat
makin terasah.
Namun ketika aku hendak melangkahkan kakiku melewati puncak
gerbang, tiba-tiba datang problem; pagarnya ujungnya ternyata lancip dan kakiku
tak memiliki tempat berpijak yang bisa kupijak jika aku berhasil memanjat
melewati gerbang. Dan aku tak cukup berani melempar diriku ke tanah:v
Finally aku turun lagi, mengemasi barang-barangku ke dalam
tas. Lalu aku berjalan pergi, dan duduk di depan rumah kosong di samping area
kost.
Baru setelah hal gila itu, aku baru kepikiran untuk meminta
bantuan teman-temanku. Aku mengirim pesan WhatsApp ke Febri dan mas Pras. Namun
sialnya, belum ada balasan eh, hpku lowbat, terus mati.
Singkat cerita, aku kembali ke kampus, aku menumpang
nge-charge di pos satpam. Aku menunggu mas Pras yang katanya mau menjemputku.
Dan tak lama kemudian mas Pras datang.
Di perjalanan menuju tempat kost Sabila
M. Pras : “Udah, nggak
usah nangis.”
Aku : “Siapa
juga yang nangis!”
M. Pras : “Haha, makanya
kalo cari kost tu yang daerah kota. Dasar lu.”
Aku : “Yaa,
gimana lagi.”
M. Pras : “Sabila udah
bales WA-mu belum?”
Aku : “Belum.”
M. Pras : “Tidur di
kost-ku aja. Nanti aku tidur di basecamp ****(nama ukm)”
Aku teringat kalo mas Pras kost sama temennya.
Aku : “Gila!
Temen kost lu gimana?(imajinasi liar:v)”
M. Pras : “Ya ikut
tidur di basecamp-lah!! Gimana sih lu.”
Eh eh eh, gila ni orang. Padahal kost’an Mas Pras itu khusus
cowok. Apa jadinya kalo aku tidur di sana!
Dan saat Sabila membalas WA-ku, aku dan Mas Pras muter-muter
nyari alamat kost itu. Kami tanya-tanya beberapa warga yang kebetulan masih
nongkrong di depan rumah (lagi ada acara apa gitu, ga tau).
Akhirnya setelah masuk ke gang kecil, kami menemukan kost’an
Sabila.
Sungguh, aku berterimakasih pada mas Pras. Gimana jadinya kalo dia ga jemput aku di kampus dan nganterin aku ke kostnya Sabila. Mungkin aku sudah tidur di emperan toko, lalu pagi-pagi yang punya toko bangunin, "Nak, bangun nak, tokonya mau dibuka!"
TUKANG SATE
Kejadian ini terjadi saat aku duduk di kursi (bukan di
bangku ya, masa duduk di bangku, ga sopan) SMP kelas satu.
Akhir-akhir ini sering ada tukang sate yang lewat di depan
rumahku. “Tik tok tik tok tik tok te sate.” Suara tukang sate plus kentongan
bamboo mini.
Malam itu aku main ke rumah Dhika, biasa, rumpi-rumpi.
Kebetulan si tukang sate lewat dengan suara yang seperti kemarin. Ia mengayuh
gerobak sepeda satenya (eh gimana siih). Gerobak sate sepedanya. Sepeda gerobak
satenya (?). Tauk dah.
“Eh dia pake baju yang kemarin, kotak-kotak kuning.” bisikku
pada Dhika.
“Iya tuh. Baju yang kemarinnya juga.”
“Kemarinnya lagi juga.”
“Kemarinnya kemarin kemarin lagi.”
“Kemarinnya kemarin kemarin kemarinnya lagi.”
Abaikan percakapan di atas-__-
Si tukang sate berhenti tak jauh dari rumah Dhika, karena
ada yang beli. Saat itu Wulan ( tetangga sampingnya Dhika) ikut beli sate.
Setelah beli sate, Wulan nimbrung sama aku dan Dhika.
(Nb: Si tukang sate masih muda, mas-mas gitu deh)
Si Wulan masih kelas empat SD, dengan polosnya ikut ngerumpi
bareng kita (aku dan Dhika, maksudnya lebih tua). Tentu saja topiknya bukan
sekitar harga es lilin dan chikiwiki, bukan pula tentang lotree limaratus’an. Ya
itu deh pokoknya.
Wkwkwk. Singkat cerita, dalam kisahku, temanku Kiki adalah
orang yang paling sering dijahili, hehe maafin yak. Dan malam ini dia lagi yang
kena. Si Wulan entah dapat bisikan darimana, eh dia nulis nope (bahasa keren pas
SMP), nomor hape nya si Kiki.
Lalu anak itu melesat menghampiri si tukang sate. Ia
memberikan nomor hp nya Kiki wkwkwk.
Di suatu malam, Kiki ikut nongkrong bareng aku dan Dhika.
Lalu kami sepakat ke warung untuk membeli pulsa, jaman itu pulsa adalah hal
yang berharga, tanpa pulsa kami ga bisa cemes’an (sms’an). Dan itu adalah
sarana komunikasi yang gahul (pada eranya).
Kiki mencethek-cethek tombol hpnya yang cethek’an. Ada
antenanya. Tombolnya keras. Ia naik sepeda sendirian, sedangkan aku
berboncengan dengan Dhika. Mukanya focus pada layar hp kerasnya.
Dan aku mendapat ikhwal untuk merebut hp itu hahaha.
Seetttt!
“Eh!!!” pekik Kiki.
Aku dan Dhika tertawa lepas. Dhika mengayuh sepeda sekuat
mungkin. Sementara aku yang duduk di belakang memegang hpnya Kiki. Bahkan waktu
itu, aku ikut mengayuh pedal, biar cepet kaburnya. Dua pedal, empat kaki :v.
Kebetulan layar hpnya lagi berada di konten SMS. Entah
mengapa, padahal aku belum membaca apapun namun aku udah ketawa. Dan aku
memencet tombol sms masuk dan terkirim (bolak-balik).
Rupanya Kiki lagi sms’an sama si tukang sate wkwkwkwkwk.
What theeee…..
Eh tapi si Kikinya cuek. Abang satenya yang genit. Pake
tanya, “Udah makan belum?” “Udah punya pacar belum?” jiah, pertanyaan
mainstream, basi. Tu abang tukang sate tulisannya alay lagi wkwk. Dan si Kiki
tanya, “Dapet nomerku darimana?”. Terus abang satenya bales gini, “Dari anak
kecil yang ngasih kertas malem-malem.” Hahaha si Wulan nih tersangkanya.
Cie di gebet abang sate:v :D
Komentar
Posting Komentar