Pembalap Gadungan


Jum'at, 25 Mei 2013

Saat itu aku kelas dua SMP. Dan pas itu, aku baru belajar naik motor. Sebenarnya belum dibolehin naik motor sama ortu, tapi aku diem-diem belajar naik motor, diajari temenku.

Tau lah, kalau lagi pertama bisa naik motor, pasti pengen naik terus. Nah, siang itu, aku pengen motor-motoran sama Dhika. Kebetulan di rumah lagi ada motor bebek nganggur, dan ayahku lagi di belakang.
Akhirnya aku melipir (kabur) ke rumah Dhika sambil menuntun motor.

Karena masih SMP, kami mengalami yang namanya “Masa ALAY”. Kami motoran tanpa tujuan yang jelas, entahlah, pokoknya jaman itu seneng aja keliling desa.

Nah, tiba-tiba ayahku telepon, katanya motornya mau dipake. Terpaksa aku pulang.
Aku yang berada di depan dan Dhika yang membonceng. Kami datang dari arah Selatan, hendak berbelok ke kiri, ke jembatan kecil.

Dan sial, aku menarik gas terlalu kuat, aku ngepot kayak pembalap. Oh shit

Gobrakkkk!

“HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA”

Kami terjatuh, dengan posisi jatuh ke kiri, akibat menabrak pagar jembatan, dan menikung terlalu tajam (setajam tikungan teman). Badanku terjepit motor, aku nggak bisa gerak, udah, tiduran aja di aspal. 

Sementara Dhika bisa keluar. Dan tu anak langsung jongkok di pinggir jembatan. Mukanya pucet dan memelas, hahaha.

Saat aku melihat wajah Dhika, yang mengharuskanku menengok ke belakang, tiba-tiba fokusku teralihkan. Di seberang jalan, ada banyak cowok-cowok nongkrong. Wanjay, malu oi! Mana mereka udah jalan mau nolongin. Uuh malu, apalagi mereka satu SMP sama aku dan Dhika.

Untungnya bapak-bapak yang rumahnya deket jembatan datang lebih dulu.

“Loh loh, tadi saya denger ada orang jatuh, tapi kok malah cekikikan?” kata si bapak

Hahaha, lucu kok pak, nggak sakit. Eh plus malu.

Dan si bapak mengangkat motor yang menindihku. Saat aku berdiri, kulihat kaca spionku terlepas, wadahnya pecah.

Kami mengucapkan terimakasih pada si bapak. Dan hendak tancap gas (malu dilihat orang yang nongkrong di seberang).

Kami jalan beberapa meter, dan si motor malah manja, pake acara mogok segala. Aku terpaksa berhenti.

Dhika     : “Ada apa?”

Aku        : “Mogok nde. Lihat deh, ada yang bengkok.”

Aku menunjuk pijakan atau apalah itu, yang sebelah kiri. Bener juga sih bengkok, soalnya tadi jatuhnya ke kiri.

Dhika     : “Terus gimana? Ke bengkel?”

Aku        : “Aku nggak bawa uang. Pinjem linggis aja yuk di rumah bu Siti, depan kita ini rumah bu Siti kan? Guru SMP.”

Eh sumpah, ngapain aku punya pikiran pinjem linggis :v, sama guru SMP lagi!

Lalu, tiba-tiba Mas Bayu (tetanggaku) yang sedang lewat pun berhenti karena melihat dua bocah ingusan berwajah memelas.

Mas Bayu            : “Kenapa Ka?” (sambil mengamati motorku)

Dhika                     : “Nggak kok mas.”

Mas Bayu            : “Beneran?”

Dhika                     : “IYO!”

Mas Bayu            : “Habis jatuh tho?”

Dhika                     : “Iyo mas.”

Mas Bayu            : “O”

Ngueenng! Mas Bayu langsung tancap gas.
Tuh orang kampret bener-_- kalo ga mau bantuin mending ga usah tanya.

Akhirnya aku menstater motorku, untungnya bisa. Lalu kami ke rumah Tika, yang deket dari TKP.
Dan jadilah, dua cewek abg berwajah kumal mengetuk pintu dan tiba-tiba minta pinjam linggis. Sayangnya, di rumah Tika ga ada linggis.

Lalu aku pun menyerah, aku siap dimarahi ayah.
Namun ternyata tidak. Ketika aku jujur, ayah tak marah.




ODONG-ODONG

Kejadian ini kayaknya terjadi saat aku masih SD.

Saat itu aku dan Dhika sedang ahli-ahlinya memanjat pohon. Pohon jenis apapun, kami bisa panjat. Mungkin jika ada lomba panjat pohon, kami yang menang:v

Kebetulan, di dekat area pemakaman, tempat dimana kami sering bermain, ada sebuah pohon talok yang amat tinggi.

Setiap pohon talok yang kutemui, selalu mudah dipanjat. Karena pohon ini memiliki cabang yang banyak.
Aku dan Dhika, berinisiatif untuk memecahkan rekor kami sendiri.

“Aku bisa memanjat lebih tinggi dari kemarin.” Kata Dhika

Aku yang merasa tertantang, pun ikut mencoba lebih tinggi lagi. Satu persatu cabang kunaiki, dan alhasil aku sampai di ujung pohon.

“Waahh, aku bisa melihat rumahmu dari atas sini. Aku bisa lihat kakekmu yang duduk di teras, sedang mengucapkan sesuatu padaku.” teriakku pada Dhika.

Btw, pohon talok itu tingginya melampaui tinggi rumah yang ada di sampingnya.

Aku merasa angin berhembus, yang membuatku nyaman diatas sini. “He, rasanya kayak naik odong-odong!” kataku girang.

Padahal jika ku nalar sekarang, puncak pohon talok itu tipis, meruncing, dan aku berada di sana, dengan santainya bilang naik odong-odong-_-

Btw, kakeknya Dhika sebenarnya itu marah-marah:D 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM