KALA HUJAN


Innalillahiwainnailaihirojiun.
Pagi tadi sekitar pukul 8, aku dapat sms dari ibuku di rumah (aku sekarang di kos) kalau kakek di depan rumahku meninggal dunia. Kakek yang dulu ngejar-ngejar aku karena ngelempar belimbing ke rumahnya. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT. Aamiin.

Kali ini aku ngepost pengalamanku. Semoga para pembaca terhibur:)


KALA HUJAN

(Faktual)

Hari itu adalah salah satu hari terkasian dan termenggelikan dalam hidupku. Aku, Dhika, dan Tika pergi ke rumah nenekku. Kami naik sepeda onthel kecil. Rumah nenekku itu padahal jauuuuuuuuuuh, tapi kami nekat aja. Karena dulu tu, kami suka dengan tempat yang hawa-hawa pedesaannya masih kental.

Singkat cerita, kami sampai di rumah nenek, dan jujur, itu sangat melelahkan. Sampai disana, kami minum air putih tiga gelas besar. Kami ke sungai kecil di belakang rumah nenekku.

And, beberapa menit kemudian, Tika ngajak pulang. Ya ampun, sumpah masih capek banget. Tapi ya gimana lagi, sedangkan langit juga mendung. Kami berpamitan pada nenek, lalu pulang.

Dan di jalan, tiba-tiba hujan turun, kami mengayuh sepeda kuat-kuat. Rasanya itu hujan ngejar-ngejar kita. Dan kami pengen cepet-cepet biar ga ketangkep hujan. Tapi, akhirnya kita kehujanan juga. Tak lama kemudian, Dhika teriak, ngajak berteduh di sebuah gubuk bamboo di pinggir jalan, di dekat sawah.

Kami pun berteduh di sana, duduk memeluk lutut dengan rinai hujan yang membasahi kami lewat semua sisi, karena gubuk itu ga ada pembatasnya.

“Hei, lihat tanaman padinya!” teriak Tika, berdiri menatap sawah di belakang kami.

Aku dan Dhika menengok. Tanaman padinya goyang-goyang segoyang-goyangnya, miring ke sana-kemari. Pemandangan pertama bagiku. Dan seketika rinai hujan makin deras menerpa kami seiring hujan yang turun semakin lebat.

“Aku sulit bernapas. Sumpah aku sulit bernapas.” Kataku.

Di sana, kami ngomong harus teriak-teriak, itu pun pada ga denger, karena saking lebatnya hujan yang turun.

“Genteng nya bocor!!” teriak Dhika, sembari berpindah posisi.

Ya ampun, plis, tiga bocah di gubuk pinggir sawah, basah kuyup, sulit napas, it was frightening.

“Bajuku basah, aku jemur dulu.” kata Tika, lalu membuka baju.

Etdah ni anak, ga mikir apa-__-

Ia memeras bajunya yang basah kuyup, hingga air perasannya lumayan banyak:v, lalu di jemur di pinggir gubuk. Untungnya dia masih pakai kaos seporot-__-

Lama kelamaan dia pake lagi dah tu baju, karena dingin. And pas hujannya reda, kami berniat pulang, namun malah mampir ke rumah seorang nenek-nenek. Padahal kami ga kenal nenek itu. Dan beliau, baik, ngasih kami minuman teh hangat.

Pas sampai di rumah, aku certain semua ke ibuku. Dan ternyata tadi itu kami bertiga dicariin ortu masing-masing, karena tadi ada angin puting beliung. Dan Kebetulan itu pas banget di daerah kami berteduh di gubuk tadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM