Masa Kecilku
(Faktual)
Aku amat sangat bersyukur lahir di tahun 1999 (Plis jangan hitung umurku sekarang). Karena apa, karena aku jadi memiliki masa kecil yang indah tanpa gadget. Hei, itu suatu keberuntungan lho. Era dimana banyak anak yang masih suka ‘playon’ lari-larian diuber-uber emak disuruh mandi. Si emak teriak sambil bawa kayu wkwk. Gitulah pokoknya, indah banget, masa kecil tanpa gadget.
Aku amat sangat bersyukur lahir di tahun 1999 (Plis jangan hitung umurku sekarang). Karena apa, karena aku jadi memiliki masa kecil yang indah tanpa gadget. Hei, itu suatu keberuntungan lho. Era dimana banyak anak yang masih suka ‘playon’ lari-larian diuber-uber emak disuruh mandi. Si emak teriak sambil bawa kayu wkwk. Gitulah pokoknya, indah banget, masa kecil tanpa gadget.
Dan disini aku sangat mengapresiasi kekonyolan seorang teman
& tetangga & sohib sejak masih TK. And her name was Dhika Oktavia.
Kalau sama satu orang ini, nggak pernah bosen. Yang awalnya aku ini anak
rumahan berinkarnasi jadi anak petualang, anak sawahan, anak jalanan, dan
anak-anak lainnya.
Kami adalah anak nakal yang kurang kerjaan pada jamannya.
Ada banyak peristiwa bodoh dan konyol seputar kekanakkan.
And I proud of that.
Cerita pertama ini kuawali dengan sebuah petak umpet di
malam hari.
Kala itu tetanggaku ada yang menggelar hajatan pernikahan
dan ibu-ibu di desa rewang (bahasa Indonesia-nya apa sih). Sudah hampir menjadi
tradisi, anak-anak pun ikut berkumpul bersama ibunya. Termasuk aku dan Dhika.
Bahkan dari siang sampai malam pun aku dan Dhika masih
berada di rumah tetangga yang sedang hajatan itu. Kami bermain bersama
temen-temen upil lainnya. Sebut saja aku, Dhika, Adit, Ipan, Pandu, Galih,
Tunjung, Mapud. Kami berencana untuk mengisi kekosongan dalam jiwa dan pikiran
kami dengan bermain petak umpet.
Hompimpa ala hayum gambreng.
Aku, Dhika, dan Adit masuk tim cewek, (tapi Adit itu cowok
lho). Ipan, Pandu, Galih, Tunjung, Mapud masuk tim cowok. Setelah hompimpa,
ternyata tim cowok dulu yang ngumpet dan kami tim cewek harus mencari. Ah,
cukup mudah menemukan mereka. Tunjung sembunyi di belakang kamar mandi, Pandu
Ipan di dalam truk. Galih Mapud di belakang pagar. Hm, nice place to see dude.
Kuakui mereka payah.
Kini giliran kami tim cewek. Aku dan Dhika sebenernya nggak
ada niat buat sembunyi. Kurasa kami malah bisa disebut berkeliaran di malam
hari. Cuma, muter-muter kebun tetangga yang banyak pohonnya, atau sebentar-sebentar
bertiga masuk ke wc, ngumpet.
Karena Adit yang paling kecil jadi dia sering ketinggalan
wkwk.
Nah, pas kita lagi ngumpet di wc nenekku. Tiba-tiba aku
denger suaranya Ipan, deket. Karena takut ketahuan, Dhika ngajak kita pindah
tempat. Aku membuka pintu wc, Dhika keluar duluan, diikuti aku. Sayangnya kami
harus melompati comberan. Aku dan Dhika berhasil, tapi Adit malah terperosok ke
comberan. Kakinya masuk satu, dan sandalnya terlepas. Ia berkubang agak lama
karena kakinya bener-bener sulit diangkat.
Aku sih masa bodo, langsung aja cus sama Dhika wkwk, maaf
Adit.
Akhirnya kami menemukan tempat bersemayam yang baru, wc mbah
Kas. Tinggallah kami berdua di dalam wc. Aku punya feeling bahwa Adit
tertangkap komplotan tim cowok. Kami pun tidak bisa menyelamatkan Adit.
Yasudah
kami menunggu di dalam wc.
Singkat cerita, kami terlalu lama menunggu, dan sepertinya
tidak ada tanda-tanda kedatangan tim cowok. Aku dan Dhika kembali ke tempat
hajatan dengan rute kebun-kebun-kebun. Mungkin sudah aman, tapi masih saja ada
rasa was-was.
Lalu kami mengendap-endap di samping rumah mbah T, rumah
yang dekat dengan tempat hajatan. Aku dan Dhika jongkok di samping deretan batu
berwarna putih. Beneran deh malam itu tu gelaaaap banget, aku sampai nggak bisa
lihat langkah kakiku sendiri.
Pokoknya di samping rumah mbah T itu kebun dengan deretan
batu putih. “Yaudah yuk, balik aja.” kata Dhika setelah bosan menunggu
(menunggu dee). Aku pun menurut.
Aku dan Dhika berjalan memutar, hendak kembali ke rumah,
melewati kebun belakang. Aku yang memimpin di depan. Entah karena apa,
tiba-tiba kakiku kegriyul, eh kepleset (bener nggak sih) batu putih itu.
“Gedebuk.” Aku hampir jatuh, namun karena aku lincah jadi
bisa menahan berat badanku yang tidak seberapa ini.
Lalu dari balik dinding rumah mbah T yang terbuat dari
anyaman bamboo, tiba-tiba aku mendengar suara,
“Hayo, siapa itu? Mau maling ya!
Aku bilangin tetanggaku yang Polisi lho!!!” kata mbah T.
Sumpah, waktu itu aku udah deg-deg’an nggak karuan. Dan
belum sempet hilang deg-deg’an ku tiba-tiba aku denger lagi,
“Maliiing,
maliiing, maling, maling!!!” si mbah T teriak, mana volumenya besar lagi.
Aku pun hilang kesadaran (nggak sampai pingsan kok). Aku
ambil langkah seribu. Yang tadi jalannya pelan-pelan karena gelap dan takut
jatuh, eh langsung aja jadi cepet secepat kilat. Semua halang rintang aku
hadapi, rumput kebun yang tinggi, kayu-kayu, tanah yang tidak rata.
Yang dipikiranku waktu itu, “Aku takut ditangkap warga.” oh
yeah, ditangkap karena kepleset batu, sumprit nggak asik banget.
Oh iya, where’s Dhika?
Dia kutinggal wkwkwkwk.
Pas aku udah bisa menjauh dari
territorial mbah T, aku baru sadar, Dhika mana ya. Eh, tau-taunya dia juga ikut
lari, Cuma kalah cepet aja sama aku. Dia juga sama takutnya. Dan wajahnya pucat
wkwkwk.
Btw, setelah itu aku dan Dhika nggak jadi pulang. Tangan dan
kakiku keringet dingin semua, gara-gara teriakan mbah T. Dan kami kembali ke
tempat hajatan, dengan jantung yang masih deg-deg’an jedar jedor.
Aku beneran
masih khawatir, gimana kalau mbah T udah lapor para warga dan ayahku tau. Aku
takut dihakimi massa. Aku masih terlalu kecil untuk masuk penjara (wkwk).
Hm, akhirnya aku dan Dhika sepakat untuk tidak membicarakan
kisah ‘kriminal’ kami. Dan kembali ke tempat hajatan, seolah tidak terjadi
apa-apa. Di sana kami bertemu dengan tim cowok.
Dengan wajah tak bersalah
mereka menyunggingkan senyum di depan tv sambil menonton siaran sepakbola. Kan
kampret.
Bermain petak umpet memang sangat menyenangkan, kenangan masa kecil yang tak terlupakan. :)
BalasHapusThe best experience i ever had :) i proud of that. thank you for comment
BalasHapus