ANAK KODOK



Waktu SD

Aku ini sebenernya hobi ‘memet’ (mencari ikan) di sawah. Tapi pas waktu kecil. Bareng Dhika, Tika, dan Sinta. Yang paling sering sih sama Dhika dan  Sinta.

Kala itu, aku Dhika Sinta lagi enak-enak kongkow di pinggir sawah, di bawah pohon. Menikmati angin yang berhembus. Saat itu siang hari. Di tengah sawah, ada yang menarik perhatianku, sebuah pompa air.

“Eh, itu apaan ya?” tanyaku

“Pompa air yang buat mandi itu.” (eh, emang ada orang yang mau mandi di sawah wkwk)

“Berarti ada airnya dong? Aku mau lihat ah.”

Aku pun berjalan di pematang sawah, lalu pandanganku tertuju pada seekor ikan yang tiduran di pematang. Berjemur.

“Hei, ada ikan!” teriakku girang.

Dhika dan Sinta pun mendekat, kami kemudian mengamati ikan yang diduga adalah lele tersebut.

“Udah mati nih.” Kata Sinta

Aku ber-hm ria. Agak kecewa sih, tapi yasudah, aku lebih penasaran sama pompa airnya. Setelah melewati pematang sawah yang berkelok tajam setajam tikungan mantan, aku pun sampai di lokasi. Pas aku menarik tuasnya, eh, nggak keluar air. Hm, kecewa lagi deh.

“Ada ikan!!” kata Sinta

Aku menengok ke sumber suara. Dhika udah jongkok di samping Sinta, mengamati ke sawah.

“Wah, banyak banget ikannya.” Aku terpukau.

Ikan itu berwarna hitam dan kecil-kecil, mungkin mereka baru menetas, pikirku. Kami berinisiatif untuk membesarkan ikan itu dengan cinta dan kasihsayang.

Alhasil turunlah kami ke sawah orang, memet ikan. Beruntung di dekat sana ada plastis bekas chikiwiki yang bisa digunakan untuk menampung ikan.

Kamipun mencari ikan sampai sore, di bawah terik matahari. Nah, pas sore harinya Pandu datang. Dia mendekat.

“Lagi nyari apa?”

“Ndu, ikannya banyak. Bantu cariin dong.”

Pandu dengan polosnya menurut, ia ikut nyebur. Mencari ke kanan dan ke kiri, merasa bangga karena berhasil menangkap ikan-ikan itu. Namun, tiba-tiba, pantat Pandu menyenggol plastik chikiwiki.

“Aaaaaaaaa Pandu! Gimana sih, ikannya jadi lepas semua kan!”
“Padahal kita udah susah-susah nyari.”

“Nggak mau tau, pokoknya kamu harus ganti semua ikannya. Cari lagi!!”

Yah, jujur. Kalau inget pas kami marahin Pandu karena ketidaksengajaannya, jadi kasian, tapi lucu juga sih.
Pandu si cowok yang bertanggungjawab akhirnya berhasil mengganti ikan-ikan kecil itu, meski nggak sebanyak tadi.

Aku duduk di pematang sawah, mengamati ikan di dalam bungkus chikiwiki.

“Hm, ikannya lucu. Belum pernah lihat ikan yang seperti ini.” batinku terkagum, bangga.

Pas sampai di rumah, aku dan Dhika berniat membuat kolam. Kami membuat cekungan kecil di tanah, melapisinya dengan plastik. Tiba-tiba mbak Dewi datang, mengamati.

“Kalian ngapain melihara cebong?”

Aku dan Dhika tertegun. Cebong apaan, ini kan anak-anak lele, batinku.

“Ini lele.” Kataku

Mbak Dewi tertawa, ia mengangkat plastis chikiwiki.

“Lele gundulmu. Lele kok punya kaki?”

Apa? Kaki. Yang mananya. Tapi kalau aku perhatikan, hm, bener juga sih. Ikan ini ada yang aneh. Ada dua sirip aneh yang panjang.

Kira-kira kalau waktu itu aku beneran melihara ‘lele’ kecil itu gimana ya. Si ikan yang imut akan berubah jadi sekumpulan kodok.

Dan makin merasa bersalah pada Pandu yang dimarahin karena kecebong. Hehehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM