BALADA LEMPAR BELIMBING
(Faktual, Waktu kelas 6 SD)
Aku selalu inget cerita ini. Saat temanku, Qomah masih
sering main ke rumahku, kongkow-kongkow bareng aku dan Dhika. Entah hari apa,
yang pasti kami ngobrol seru di depan rumahku hingga sekitar pukul sembilan.
Awalnya kami ngobrol di teras rumahku, namun karena jiwa
liar kami muncul, kami ingin memetik belimbing di pekarangan rumah mbah Kas
(tetangga depan rumah). Kami bertiga mengambil kayu yang agak panjang untuk
mengambil belimbing.
Perolehan kami waktu itu lumayan juga, pesta blimbing
malam-malam. Astagfirullohhaladzim, aku nggak tau kita dapat ide gila ini dari
mana, I mean, semua mengalir begitu saja. Waktu itu, kami melempar blimbing
kecil-kecil ke dalam rumah mbah Kas. Bergantian, sambil cekikikan.
Nggak tau juga sih, motivasi kami tu apa. Ya, gimana ya.
Pokoknya seru aja gitu. Dan para blimbing itu mengenai pintu, kursi dan mungkin
sampai di dalam rumah.
Lalu karena kami tak mendapat respon dan mbah Kas mematikan
lampu rumahnya (mungkin bersiap untuk tidur), akhirnya kami hendak kembali ke
teras rumahku.
Kami masih di pekarangan mbah Kas yang penuh rumput. Aku
memimpin di depan, Qomah dan Dhika ngobrol di belakangku. Saat aku menengok,
hendak menanggapi obrolan mereka, tiba-tiba pandanganku menangkap sesuatu yang
mengerikan.
Aku tak menjelaskan apapun pada Qomah dan Dhika, pokoknya
hanya teriak “Lari!!!”
entah karena teman-temanku itu konyol, bodoh atau bolot, mereka malah ngakak ngeliat aku ngacir dengan wajah pucat. Sementara aku merasa kasian pada mereka yang siap diterkam.
entah karena teman-temanku itu konyol, bodoh atau bolot, mereka malah ngakak ngeliat aku ngacir dengan wajah pucat. Sementara aku merasa kasian pada mereka yang siap diterkam.
“Mbah Kas di belakangmu!” teriakku.
Qomah dan Dhika menengok bebarengan. HUAAAAAAA
Aku ngacir paling depan, mengambil langkah secepat mungkin,
sampai tulang pahaku rasanya panas. Sementara Qomah dan Dhika berlari dengan
jarak yang tidak terlalu jauh dari Mbah Kas.
Aku tak bisa berpikir jernih waktu itu, malahan aku ingin
belok ke rumah Dhika.
“Jangan belok! Lurus terus! Lurus!” teriak Dhika.
Aku pun lurus, aku terlalu takut menengok ke belakang. Namun
akhirnya aku melihat juga, mbah Kas. Sungguh, aku seolah tak percaya,
kakek-kakek memiliki kemampuan lari yang cepat untuk orang seusianya. Bahkan
jika aku tak memaksa berlari kencang, mungkin aku dan teman-teman sudah
tertangkap.
“Belok! Belok”
Kami masuk ke area kuburan besar. Sampai di situ kami masih
lari, takut mbah Kas masih ngejar. Barulah ketika sampai di perkampungan, kami
berhenti.
Sumpah, nafas kami waktu itu, jantung kami, berdegup
sangaaat kencang. Aku bahkan merasa kakiku hampir copot. Gila gila gila.
Marathon malam hari.
Sejak saat itu, kapok deh kami melempar belimbing ke rumah orang.
Komentar
Posting Komentar