Bukan Cerita
Hai pembaca yang-aku-ga-tau,
kali ini aku tidak akan mem-publish cerita fiktif seperti biasa, aku mau membahas sedikit tentang sexual harrashment dan yang berkaitan dengan perempuan. Tulisan ini sengaja tidak aku promosikan di
social media karena beberapa alasan.
Ngomong-ngomong aku mau cerita dulu.
Oiya sebenarnya aku sudah pernah cerita ke teman-temanku tapi tidak mendetail
karena aku malu wkwkk tapi kalau kutulis di sini sepertinya bisa jadi bahan
pembelajaran ketimbang bahan bullyan teman-temanku.
Kejadian ini terjadi pada
tahun 2017 sekitar bulan Agustus, aku lupa pas nya tanggal berapa, yang kuingat
sekitar perayaan tujuhbelasan.
Pada tahun 2017 aku lulus dari
SMK (yang satu kelas cewek semua), lalu melanjutkan kuliah. Bulan Agustus
rencananya aku ingin membuat SIM. Jadi aku bisa tenang ketika ada tilangan lalu
lintas dan umurku juga sudah memenuhi. Singkat cerita, aku mencari informasi
kepada teman-temanku semasa SMK yang lebih dulu membuat SIM. Dan yang kutanyai itu
orangnya mandiri, dia membuat SIM tanpa teman dan berjalan lancar. Maka dari itu,
aku beranggapan bahwa membuat SIM sendirian bukanlah masalah.
Kata temanku, untuk
menghindari antrian yang mengular berjam-jam, aku harus berangkat pagi sekali.
Alhasil, aku menuruti saran temanku dan berangkat pukul enam dari rumah. Aku
tiba di apotek untuk kir mata sekitar pukul setengah tujuh.
Setibanya di depan apotek
ternyata petugasnya belum datang. Aku bukan satu-satunya yang datang sepagi itu,
karena sudah ada beberapa orang di sana. Beberapa menit kemudian datang seorang
bapak-bapak yang memarkir motornya bersebelahan denganku. Aku yang masih
nangkring di atas motor cuma diam.
Bapak itu turun dari motor,
memeriksa gerbang apotek yang masih terkunci. Lalu ia tersenyum padaku, aku pun
tersenyum balik karena tidak enak kalau mengabaikan orang yang lebih tua. “Badhe
damel SIM pak?” tanyaku. Si bapak menjawab iya. Aku kira percakapan basa
basi itu terhenti di situ, ternyata si bapak yang sedang merogoh-rogoh saku
jaketnya jadi menatapku.
“Mbaknya juga mau bikin SIM?”
tanya si bapak. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Bareng ya mbak, saya lupa ndak
bawa fotokopian KTP, saya ambil ke rumah dulu, deket kok. Tunggu ya mbak,
bareng.” kata bapaknya yang kujawab dengan anggukan.
Aku tidak terlalu peduli
perkataan bapak itu, dan cuek saja, karena kupikir itu hanya basa-basi seperti
orang normal yang tidak saling kenal. Aku yang sendirian tidak ada rasa curiga
karena aku sudah biasa sok-sokan basa basi dengan orang asing yang
kutemui. Sepeninggal bapak itu, satpam penjaga apotek datang lalu membuka
gerbang. Aku dan beberapa orang yang sudah datang pun masuk dan memarkir sepeda
motor di parkiran apotek.
Sampai di apotek, aku tanya-tanya
orang tentang tes mata untuk syarat membuat SIM. Kemudian aku diberitahu oleh
petugas apotek bahwa untuk tes mata berbeda gedung. Berjalanlah aku sekitar
sepuluh meter.
Di teras gedung tes mata sudah
ada beberapa orang yang duduk mengantri menunggu namanya dipanggil. Aku berdiri
mengamati, kira-kira apa yang harus kulakukan. Oh, rupanya aku harus
mengumpulkan fotokopian ktp di loket antrian untuk menentukan urutan tes mata.
Setelah aku ikut duduk di
kursi yang tersedia, tiba-tiba si bapak yang tadi minta bareng pun tiba. Ia
duduk di sampingku setelah celingukan, entah bagaimana, sepertinya ia sudah
hafal aku.
Aku tersenyum paksa.
Di tengah keheningan yang
menyebalkan, si bapak ngajak bicara. Ia tanya-tanya daerah asalku, dan obrolan
basi semacamnya. Lalu di akhir obrolannya yang membosankan, ia menambahkan, “Oh
iya mbak, kenalin nama saya Riyadi.” sambil mengulurkan tangan.(jadi ketawa
kalo inget)
Oke, aku harus berhenti
tertawa dulu.
Hmmm…
Ewwhhh…
Sebenarnya aku mulai merasa
aneh dengan tingkah bapak ini. Kalau dilihat dari wajahnya sekitar usia empat
puluh lima puluhan. Aku pun menjabat tangan bapak itu karena takut dikira nggak
sopan. Dan aku goblok malah kujawab nama asliku wkwk.
Hening…
Hening…
Aku sibuk membaca Wattpad,
ternyata bapak itu memperhatikanku yang bermain hp. Lalu,
“Mbak, boleh minta nomor
WhatsApp-mu?” pertanyaan bapak itu yang membuat kecurigaanku semakin terbukti oke
ni orang bener-bener ga beres.
Aku terdiam sejenak, lalu
sedapatnya bilang, “Nggak pake WhatsApp saya pak. Pakenya nomor SMS. Tapi udah
keblokir.”
Sungguh jawaban yang
sebenarnya terdengar ‘ga mungkin dodol!’ karena jelas-jelas aku bawa hp. Awalnya
si bapak agak ragu gitu dan ngejar terus, tapi akhirnya percaya karena aku
emang gamau jawab pertanyaan privasi itu.
Setelah mengantre agak lama,
akhirnya tiba giliranku masuk ruang tes mata. Menurutku tes itu hanya untuk
formalitas karena tesnya ya cuma baca huruf dari ukuran besar ke kecil. Tidak
ada tes lab atau apa seperti ekspektasiku. Dan di dalam ruangan itu cuma bentar
doang. Tapi sebelnya pas udah keluar ruangan eh ketemu bapak Riyadi itu lagi
dan bilang, “Mbak, tungguin ya, bareng ke kantor polisinya.”
Batinku, “Bodo amattttt..”
Di parkiran aku dilihatin si
bapak itu terus yang masih di teras gedung tes mata yang berhadapan langsung
dengan parkiran, risih banget rasanya. Saat itu aku menunggu tukang parkir mengeluarkan
motorku yang agak sulit karena tadi berangkat pagi dan jalan keluarnya tertutup
motor orang yang baru datang. Padahal ni ya, aku pengen cepet-cepet ke kantor
polisi sendiri eh sialnya si bapak itu udah kelar tes mata dan motornya gampang
keluar…hmmm..
Hmmmmmmmmmmmm…..
Hm..
“Mbak, ikutin saya aja.” kata
si bapak yang seolah hendak memimpin jalanku.
Duh, kampret bener ya. Aku
harus pura-pura normal untuk menyembunyikan demon di dalam diriku yang
sebenarnya sejak tadi pengen teriak leave me alone!
Hari itu sungguh siyal. Jalan raya
utama ke kantor polisi ditutup karena ada karnaval. Kampreeetttt. Membuatku
terjebak dengan manusia ini, ya tuhannnn. Eh tapi karena bapak itu di depan
sibuk nyari celah di antara orang yang sedang nonton karnaval di sepanjang
jalan, aku jadi bisa mlipir. Setelah aku berhasil lolos dari orang-orang
yang berderet sepanjang jalan, aku mencari jalan tikus menuju kantor polisi dan
lebih cepat dari bapak itu.
Sesampainya di kantor polisi
aku merasa lega pada awalnya, sebelum akhirnya bertemu dengan manusia itu lagi.
Ya ampun, iyalah kan kantor polisi yang dituju ya sama :(
Setelah membayar registrasi,
aku diberi formulir. Ketika aku sedang mengisi, eh bapak itu mendatangiku. Ya
Allah aku pengen nangis deh dikuntit terus L. Dia bilang gini, “Mbak tadi
lewat jalan mana? Kok cepet.” Yaelah aku terpaksa ketawa garing terus bilang
kalo lewat jalan tikus.
Ia pun mengangguk.
Entah, kenapa kok ya harus
ngikutin aku terus padahal ada banyak orang yang bisa dikuntit. Apa dia merasa
aku satu-satunya yang dia kenal.. duh, ya kali kenal baru beberapa jam yang
lalu.
Tiba-tiba si bapak menelisik
formulirku, “Tingginya kok diisi segitu tok? 160 aja nggak papa bohong
dikit.”
Aku cuma diam. Rupanya di
formulir bapaknya ditulis 170 heuuuuuuuuu, padahal nggak ada segitu. Lagian
kenapa sih kalau aku nulis seadanya, pencitraan banget sok-sokan kuisi 160.
Yah, secara tidak langsung bapak itu menyinggung aku yang pendek ini.. hmmmm..
Tahap selanjutnya aku makin
sebel. Antrian memanjang di lorong menunggu giliran berfoto untuk SIM. Setelah
formulir dikumpulkan, para pembuat SIM harus mengantre. Di depan ruang foto
hanya tersedia kursi panjang yang tentu saja tidak muat untuk semua pendatang.
Akhirnya kami yang duduk pun berdempet-dempetan.
Dan rasanya aku sebel banget
dengan hari itu. Bapak Riyadi duduk di sampingku setelah orang di sebelahku
pergi, hmmm. Aku tidak menggubris dia yang mencoba memulai percakapan. Bodo
amat dah biar ngobrol sendiri. Siang itu udara terasa lebih panas dari biasanya.
Pendatang semakin banyak dan beberapa sampai berdiri bersandar pada dinding.
Berdesakan pula kursi panjang yang kududuki dan aku…. Ya ampun demi Allah aku
lebih baik berdiri daripada berdempetan dengan bapak itu.
Setiap aku bergeser,
bapak itu ikut geser.
Kesabaranku menipis, aku
beranjak dari tempat duduk yang sebenarnya aku cuma duduk di bagian kursi
dikittttt banget, saking sempitnya. Lalu aku pergi ke kamar mandi di ujung
lorong. Setelah dari kamar mandi aku tidak mau balik di kursi panjang itu lagi,
menunggu di depan kamar mandi lebih baik bagiku.
Dari tempatku menunggu, bapak
itu celingukan, rupanya ia mencariku dan menatapku terus saat mengetahui
keberadaanku. Plis, aku pengen ngilang aja kek tuyul. Sekitar tigapuluh menit
kemudian, namaku dipanggil ke ruang foto. Yes, bebas, batinku.
Ternyata di dalam ruang foto
masih antre lagi. Barulah tiba giliranku take photo saat bapak Riyadi
muncul dari balik pintu dengan wajah sumringah tanpa rasa bersalah, hmmm
ternyata dia sudah dipanggil yang maha kuasa petugas ruang foto.
Tau nggak, boro-boro mau
benerin jilbab, mau gerakin mata aja nggak boleh wkwk. Jadi yaudah.. seadanya..
sesiapnya. Mana waktu itu suasana batinku sedang buruk gara-gara dikuntit
bapak-bapak yang nggak peka kalau aku sebel. Eh si ibu polwan yang pegang
kendali kamera main jepret aja.
Alhasil foto SIMku jadi absurd banget
ekspresinya, muka orang sebel gitu wkwk. Lagian aku belum siap dan masih
memikirkan betapa sebelnya hari itu, ternyata udah difoto (ga kerasa kalo
udah dijepret), tau-tau bu polwan “Selanjutnya!” dan gaboleh diulang.
Setelah foto SIM, aku
diarahkan ke ruang ujian komputer. Saat aku masuk, ternyata ada yang baru
selesai dan dibilangin suruh datang lagi 2 minggu kemudian untuk ujian ulang.
Batinku, wah pasti sulit tesnya sampai ada yang gagal.
Eh, ternyata macam main game.
Lagi-lagi, bapak Riyadi menyusul.. dan membuat ujianku jadi dobel. Ujian hidup
dan ujian komputer.
Untung saja di sampingku sudah
diduduki oleh orang lain, jadi aku tidak semeja dengan dia. Lucunya ketika
ujian berlangsung beberapa dari peserta ujian panik, ada yang ndudul-ndudul layar
komputer, ada yang teriak e e e e, ada yang biasa aja. Setelah ujian
selesai, nilai langsung keluar. Aku lolos, yahh… karena ujiannya sebagian besar
bisa dikira-kira jawabannya.
Bapak itu juga lolos,
hmmmmm…..
Sampailah pada ujian
selanjutnya, ujian pake motor. Areanya di luar kantor polisi, jadi pembuat SIM
harus ke lapangan tempat ujian yang jaraknya sekitar lima menit naik motor.
Di lapangan itu sudah ada
beberapa petugas dengan satu dua polisi penguji. Mereka memberi contoh melewati
rintangan dengan naik motor terlebih dahulu dan menjelaskan aturan apabila kaki
menginjak tanah maka langsung gagal dan harus mengulang 2 minggu lagi.
Saat itu sekitar pukul
duabelas siang, saatnya istirahat. Yang beragama islam segera mencari tempat
sholat. “Mbak, saya tak sholat bentar ya.” kata bapak Riyadi padaku.
Setiap bapak itu pergi aku
merasa bisa bernafas lega. Ketika Bapak Riyadi pergi sholat, ada mas-mas dan
mbak-mbak yang mengajak ngobrol. Mereka membuatku jauh dari si bapak-bapak itu
sembari menunggu waktu ujian praktek..
Pengalaman itu agak
menggelikan gimana gitu sih. Dan foto SIM ku selalu mengingatkanku pada hari
itu. Teman yang menonton foto SIMku banyak yang berpendapat, “Kok foto SIM mu
serem banget sih ekspresinya?” wkwk.
Sebagian besar yang kualami
hari itu adalah semacam gangguan yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Dulu aku
tidak berpikir hal tersebut termasuk dalam sexual harassment. Dan saat
itu aku terlalu takut untuk mengatakan keresahan yang aku rasakan.
Pernah juga aku dulu setelah
makan-makan di sebuah tempat bersama teman-temanku. Saat itu aku yang membayar
ke kasir sementara teman-teman menunggu di parkiran. Mas-mas kasirnya menahan
uang kembalian yang sudah kupegang.
Sambil menatapku dia bilang, “Rumahmu mana?
Aku boleh minta nomormu?” suaranya halus dan membuatku risih.
Aku tidak berani
menatapnya, “Heh, kok diem, ditanya lho.” anjay aku pengen ngegampar tu
orang tapi kuurungkan karena sepi dan akan lebih berbahaya jika kulakukan.
Kata-katanya sih biasa, tapi
tingkah dan tatapannya tidak biasa. Iya, jujur aku takut dan terganggu. Entah
dia hanya bercanda atau apa, tapi itu benar-benar mengganggu dan menakutkan.
Untung segera datang salah satu temannya, dan membuatnya melepaskan uang kembalian
itu.
Hal-hal mengganggu semacam itu
tidak hanya terjadi secara langsung, bahkan dalam bentuk teks sekalipun. Aku
pernah mengalaminya juga. Suatu hari aku mendapat pesan WhatsApp dari nomor tak
dikenal. Ketika kubuka ternyata seseorang itu mengirimiku foto bapak-bapak (anjir
bapak-bapak lagi!), dimana wajahnya persis dengan foto profilnya.
Dimana foto yang dikirim itu
foto selfie pakai baju biru dan bertopi, yang background nya kandang
ayam gitu, terus ada handuk putih di lehernya. Mirip anak muda yang foto selfie
terus di-pap ke pacarnya. Entah apa maksud bapak itu, yang jelas sangat
menggangguku. Itu tidak terjadi sekali, bahkan nomor itu meneleponku! Aku block
sekalian. Tamat sudah dia.
Hmmmmm…..
Memang sih hal-hal seperti itu
sangat mengganggu. Aku yakin setiap perempuan pernah mengalami sexual
harrashment (meski sudah ada banyak pergerakan kaum perempuan), seperti
siulan dan gangguan bunyi-bunyian yang tidak sopan atau biasa disebut catcalling
(biasanya dialami para perempuan di jalan). Aku juga pernah mendapat catcalling
padahal aku sudah menutup aurat, hal itu membuatku merasa tidak dihargai
meski mereka tidak berniat melecehkan dan untuk bersenang-senang saja.
Sebagai perempuan, aku sebenarnya
juga punya naluri ingin dilindungi oleh pria dari hal-hal semacam itu, namun
apakah iya harus mengandalkan pria ketika bahkan tidak satupun di sampingmu
selain diri sendiri. Dari pihak perempuan sendiri harus mampu berkata tidak dan
berani melawan gangguan-gangguan tersebut sesuai kondisi dan posisi.
Pria diciptakan dengan fitrah tertarik
pada perempuan, yang kadang membuat mereka sulit menahan diri. Sejak lahirnya
sistem patriarki, peran perempuan menurun dan hanya menjadi pengabdi pada pria.
Pada saat itu bermunculan perlawanan terhadap sistem patriarki, aku pernah
menemukan cerita pendek sebagai bentuk protes. Yang berkisah tentang perempuan
yang hidupnya hanya menjadi mesin pembuat anak-anak belaka dan terpaksa tunduk
pada seorang pria karena pria tersebut lebih unggul dan mampu menghasilkan
nilai ekonomi.
Dulu di Eropa, perempuan tidak
memiliki hak suara dan hanya sebagai objek. Dimana hanya suara pria yang
dianggap, serta kehartabendaan pria mencakup perempuan sebagai properti, namun
seiring berjalannya waktu hal itu tidak lagi berlaku karena tidak berperikemanusiaan.
Jadi, perubahan sistem sosial yang terjadi sebenarnya tidak luput dari peran
para pria yang mendukung gerakan kesetaraan untuk memberi perempuan kesempatan
yang sama baik di bidang ekonomi, social, politik, pendidikan, bidang-bidang
lainnya. Selain itu, baik pria maupun perempuan juga berperan besar dalam tindakan
pencegahan, perlawanan, perlindungan untuk menekan angka sexual harrashment.
-Penulis
Komentar
Posting Komentar