Langit hari itu
: dari gugusan mendung
Awan
mulai berwarna abu-abu, angin berembus kencang, menerbangkan daun-daun yang
berserakan di jalan. Menggoyangkan cucian yang menggantung pada tali jemuran.
Sebentar pula menerbangkan debu mengenai para pejalan kaki.
“Sebentar
lagi hujan, bu.” kata seorang bapak yang mengangkat lima tumpuk tampah berisi
kerupuk yang tadi dijemur.
Istrinya
yang keluar dari rumah mengomel karena kerupuk-kerupuk itu masuk rumah lebih
awal. Ia terburu-buru mengangkat sisa tampah yang lain, lalu berjalan ke
rumah sambil komat-kamit.
Di sisi
gang lain, dekat si bapak penjual kerupuk, ada ibu-ibu pemilik laundry
mengangkat jemuran yang setengah kering, menumpuknya di sebuah keranjang besar.
Ia dan karyawannya lalu memilah-milah pakaian yang sudah kering dan setengah
kering.
Sementara
beberapa pasangan yang masih di jalan, memilih untuk memperlambat laju dan
langkah kaki. Sengaja menunggu hujan. Katanya berdua saat hujan itu romantis.
Namun
hujan atau tidak, romantis atau biasa saja, bukanlah suatu alasan untuk menghentikan
niat sosok kecil yang berjalan keluar gang kumuh dan kotor.
Di
tangannya ada secarik kertas putih dengan coretan berwarna merah di atasnya.
Raut wajahnya tidak menunjukkan ketakutan akan tertumpahi oleh hujan. Mendung
yang berarak-arakkan tak merisaukan hatinya.
Tanpa
alas kaki, ia menapaki aspal. Langkah kakinya berirama, sesekali tersenyum pada
pengendara yang melintas. Kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri.
Mendendangkan sebuah lagu.
Meski
ia belum mandi sejak kemarin, dan kotoran yang menempel pada bajunya belum
dicuci sama sekali, tidak masalah baginya. Mengais botol bekas dan ojek payung
juga tidak apa-apa. Yang penting ia bisa membeli pulpen merah dan setangkai
mawar yang terselip di celananya.
Berulang
kali ia bangga melihat karyanya di atas kertas. Lalu memeluknya erat.
Ia
menatap ke langit, mengamati gumpalan abu-abu yang kian gelap. Dahinya berkerut.
Mungkin lebih baik ia berlari kecil.
Di
perempatan lampu merah, ia berbelok ke kiri. Menerjang pedagang kaki lima yang
hendak berteduh, melewati bayangan demi bayangan pohon yang menjulang. Pada
belokan pertama, ia masuk ke sebuah gerbang pemakaman.
Aku
tidak tahu siapa yang akan ia kunjungi. Dari atas sini, mataku hanya bisa menangkap
potret dirinya tanpa tau apa yang akan ia lakukan.
Sesampainya
di sana, ia tersenyum lebar pada bapak penjaga makam. Si bapak mempersilakan
bocah laki-laki itu masuk.
Nafasnya
terengah-engah, keringat mengucur di dahinya. Menjadikan wajahnya semakin dekil
dan bau badannya bertambah hebat. Airmata di sudut bolamata kecil itu
bergelayut seperti mendung.
Ia
bersimpuh di hadapan sebuah gundukan tanah dengan taburan bunga yang telah
kering. Di sekelilingnya rumput mulai tumbuh. Ia mengusap batu nisan
bertuliskan nama “Aisyah”.
“Hari
ini aku berumur sepuluh tahun bu,” ia diam sejenak menatap nama yang tertulis
di sana, “Terimakasih atas ucapannya ya bu.” katanya seolah ia mendapatkan
balasan.
Raut
wajahnya berubah amat sedih, memandangi sebaris kalimat yang ia tulis sendiri
di atas kertas. Berangan-angan ibu yang menulis untuknya.
Ia lalu
memeluk gundukan tanah dingin itu.
Aku tak
kuasa menahan diriku. Detik itu aku menumpahkan air dari langit. Aku guyur
bocah malang itu agar dia tidak menangis sendirian.
Kucoba
memeluknya lewat deraiku. Menghiburnya lewat gemuruhku.
Ia
terisak, pakaiannya mulai bercampur dengan warna tanah. Tinta merah pada kertas
ucapan selamat ulang tahun luntur. Putihnya berganti coklat.
Ia
mengambil mawar yang terselip di celananya. “Ini untuk ibu..”
Kulihat
secercah senyum ketika ia menancapkan tangkainya pada tanah di depan nisan.
“Selamat ulang tahun juga untuk ibu..”
Penulis :)
Komentar
Posting Komentar