Ketukan di bawah lantai

: kisah terburuk dalam hidupku

Judit adalah pengoleksi serangga. Setiap hari ia mencari serangga untuk dibawa ke kamar—lalu menali tubuh mereka dengan benang kecil yang kuat. Semua ujung tali itu ia genggam atau terkadang ia ikatkan pada jemarinya sendiri, lalu membiarkan serangga-serangga itu terbang kesana kemari.

Saat jarak terbang mereka terlalu jauh atau tubuh mereka hinggap ke tempat yang sulit dijangkau, Judit akan menarik tali itu. Tidak peduli apakah tubuh serangga itu mampu menahan sentakannya atau apakah ada kaki mereka yang akhirnya putus, Judit tidak peduli.

Dan di hari berikutnya Judit selalu melepaskan mereka ke alam lagi, dalam kondisi apapun; sayap patah, kaki putus, perut koyak, rongga mulut yang hampir copot, hingga badan yang terputus.

Seperti saat ini, setelah puas menebar-nebar serangga itu ke udara—berharap mereka terbang namun hanya berakhir jatuh ke tanah, ia pasti akan menengok ke arahku yang berdiri jauh darinya, sambil berteriak,

“Danes Andreas yang tampan, temani aku mencari serangga baru,”

Aku selalu menolak permintaan saudari tiriku itu, namun gagal karena dia akan mengungkit kematian ayah(nya) dan ibu(ku). Insiden kecelakaan mobil dini hari, selepas malam tahun baru, ketika aku tak tega membiarkan ayah yang kelelahan harus mengemudi ke rumah dan akhirnya aku yang menggantikannya.

“Kau membunuh mereka, Danes. Seharusnya kau tidak menyetir, amatir.” Hal itu membuatku gila.

Namun Judit lebih gila. Padahal dia sepuluh tahun lebih muda dariku, tapi nyalinya sepuluh tahun melampauiku. Hal-hal yang berbau aneh sangat menarik baginya. Untuk ukuran gadis kecil, ia tidak mempunyai sisi manis sedikitpun.

“Ayo, Danes!”

Lagi-lagi ia memaksaku mengikuti langkah kecilnya melewati semak, menuju bukit di belakang tempat pembuangan sampah kota.

*

“Danes, menurutmu, apa nama yang tepat untuk hewan ini?”

Ia mengangkat hewan aneh yang ia temukan tadi. Mirip kumbang kelapa namun tiga kali lebih besar, jumlahnya ada empat ekor.
           
Aku merasa terganggu dengan bentuk kumbang itu, besar, flat, dan agak melebar. Warnanya loreng hitam putih agak gelap. Aku tak sudi melihatnya, sekilas saja aku sudah muak, menjijikkan.
           
“Danes!”

Ia menempelkan kaki-kaki kumbang itu ke lenganku. Aku menampiknya dan tidak sengaja membuat Judit terjatuh. Dua ekor kumbang lepas dari tangannya, lalu terbang. Aku bersyukur dalam hati.
           
Judit menatapku datar. Sebuah tatapan marah yang sangat aneh untuk bocah seperti dia. Tapi sudahlah, dia memang aneh, toh masih ada puluhan serangga lain yang bisa dia patahkan kakinya, atau dia lumat sayap mereka dengan jemari kecilnya.

*

Malam harinya, Judit tidak mau makan. Masakan yang paman buat tadi siang tidak mampu membangkitkan selera makannya. Dia masih menekuk wajahnya karena si kumbang yang lepas tanpa sengaja.
           
Aku dan Judit duduk berhadapan di meja makan. Tak menyentuh sedikitpun piring di depan kami. Aku melirik adik kecilku. Sejak aku duduk di kursi ini, ia menatapku tak berkedip, tatapan yang tajam dan dingin. Suasana benar-benar seperti es, aku tidak mampu mencairkan hati Judit.
           
Hingga terdengar suara mobil yang terparkir di depan rumah, rupanya paman sudah pulang dari restorannya. Derap langkah paman yang khas mendadak membuatku sedikit tenang. Raut wajah marah Judit perlahan memudar, ia tersenyum pada paman. Aku tau itu hanya senyum palsu.
           
“Kenapa kalian belum makan?” tanya paman yang heran melihat makanan di meja makan masih utuh.
           
Bukannya menjawab pertanyaan paman, Judit langsung lari ke kamar. Paman memandangku bingung.
           
“Kalian marahan?” tanya paman.

Aku mengangguk pelan, dan buru-buru kujelaskan bahwa aku tidak sengaja membuatnya marah. Namun aku tidak mengatakan tentang serangga yang dipelihara Judit selama ini.
           
            Mengetahui keponakannya sedang marah, paman bermaksud meluluhkan hatinya. Ia pun beranjak menuju kamar Judit. Sepanjang lorong di lantai dua, kupu-kupu hitam hinggap di dinding, mengepakkan sayapnya.

Paman mulai heran. Tatapan matanya penuh curiga. Satu kupu-kupu di dalam rumah masih biasa, namun bagaimana jika ada banyak kupu-kupu.

Salah satu kumbang merayap dari celah pintu kamar Judit yang sedikit terbuka. Paman bergidik jijik saat kumbang kecil hinggap di tangannya. Segera paman melempar hewan itu keluar jendela.
           
“Darimana datangnya kumbang itu? Ada yang tidak beres.” kata paman lalu melangkah lebar menghampiri kamar Judit.
           
Aku tak sempat mencegahnya, tangan kekarnya terlanjur membuka lebar pintu itu. Dan menyembul-lah ribuan serangga beterbangan kian riuh dan merayap-rayap mengerumuni Judit yang berdiri di tengah ruangan. Ia memegangi tali dan menarik-nariknya sambil tertawa.
           
Kata-kata tidak mampu menggambarkan ekspresi paman saat itu, antara jijik, marah, takut, dan ingin membunuh serangga-serangga itu.
           
“Demi tujuh lautan, apa yang kau lakukan Judit? Darimana kau dapatkan semua hewan menjijikkan ini. Cepat buang!” suara paman menggelegar, membuat pergerakan serangga-serangga itu makin liar.
           
Judit menekuk wajah, tangannya melemas. Bolamata hitamnya menatapku, mencoba mencari pembelaan. Namun tidak kali ini Judit, aku juga muak denganmu.
           
Kemarahan paman malam itu adalah kemenangan bagiku. Semenjak itu, Judit tidak lagi memaksaku menemaninya ke bukit belakang tempat pembuangan sampah kota.
           
Dua hari setelah itu, Judit lebih suka mengurung diri di kamar, entah apa yang dilakukannya. Setiap aku menempelkan telingaku di daun pintu kamarnya, Judit terdengar sedang cekikikan sambil bercakap-cakap, entah dengan siapa.

Peristiwa itu berlanjut hingga seminggu lebih. Aku khawatir dengannya. Setiap pukul dua dini hari aku mendengar suara ketukan langkah kaki di tangga depan kamarku, lalu ketukan itu menghilang tepat di depan kamar Judit. Dan pagi harinya, Judit mual, wajahnya pucat. Ia menyeringai padaku.

Dia memang aneh, tapi gadis kecil ini seperti bukan Judit.
           
Menyadari keanehan pada sikapnya yang berubah-ubah, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah kuil di atas gunung. Konon katanya, orang kuil itu mampu mengatasi hal-hal aneh semacam ini.

Siang harinya aku memutuskan untuk pergi ke sana. Berbekal keberanian akan kesembuhan Judit, aku berpamitan pada paman bahwa aku akan pulang membawa jawaban “Bagaimana cara menormalkan Judit”.

Perjalananku saat itu tidaklah semulus yang kubayangkan. Medan yang kulalui cukup berat, belum lagi cuaca yang berubah-ubah, membuatku harus mendirikan tenda tiba-tiba di tengah hutan. Beberapa kali aku mendapat hambatan lain, seperti gangguan suara-suara dari hutan yang memintaku untuk pulang saja.

Jujur saja aku takut melakukan perjalanan seperti ini sendirian, namun mengingat Judit membuatku lebih berani.

Singkat cerita, aku pulang ke rumah duabelas hari kemudian. Sebuah perjalanan yang menguras isi kepala dan jiwaku, namun cukup mengantongi jawaban yang akan aku bagi dengan paman.

Di sana aku diajari banyak hal tentang Tuhan. Lalu aku juga mengikuti beberapa kegiatan keagamaan mereka.

Hari itu adalah hari kamis, aku mengetuk pintu rumah. Sebenarnya aku agak heran ketika paman yang membukakan pintu. Entah mengapa beliau sudah ada di rumah, padahal seharusnya sedang bekerja sebagai koki di restoran pada jam-jam sibuk seperti sekarang.

“Aku libur Danes, khusus untuk menyambutmu.” katanya

Lalu menggamit pundakku, mengajakku duduk di meja makan. Di sana sudah terhidang berbagai macam masakan daging. Sup, daging goreng, daging panggang, sosis, dan lain-lain. Tidak ada sayur hijau.

“Hari ini kita gantian makan daging.” kata paman seolah membaca pertanyaan yang tergambar dari raut wajahku.

Aku hanya mengiyakan, lagipula perut sudah lapar sejak perjalanan pulang.

Kutusuk satu irisan tipis daging panggang di hadapanku, memasukkannya ke mulutku, dan mengunyahnya perlahan. Lembut dan gurih, aku belum pernah merasakan daging seenak ini. Rasanya aku ingin menghabiskan semua makanan di atas meja.

Ketika makan malam, tidak ada percakapan yang berarti, bahkan perihal penyembuhan Judit tidak paman tanyakan padaku. Aku pun belum berniat menyampaikannya, mungkin setelah aku bertemu Judit aku baru bisa memastikan dengan yang kulakukan setelahnya.

Karena cara penyembuhan ini sangat beresiko baik bagi Judit maupun orang di rumah ini, hal yang memang berkaitan dengan kumbang yang ditangkap Judit kala itu, bukanlah kumbang biasa.

“Judit kemana paman? Kok di kamar tidak ada.” tanyaku selepas menengok kamar saudari tiriku.

Paman tersenyum lebar.

“Dia menginap di rumah temannya. Sepeninggalmu dia mulai berteman dengan anak-anak seumurannya. Mungkin dia kesepian karena kau tak ada.” kata paman sambil membereskan piring-piring di atas meja.

Sejujurnya aku tidak ingin percaya, mengingat aku lebih mengenal Judit dibanding paman; Judit tidak pernah memiliki teman dekat. Namun karena paman adalah orang yang jujur di keluargaku, aku percaya.

Malam harinya, aku menemani paman memasak di dapur. Pertama kali aku diperbolehkan melihat koki hebat itu memasak. Paman memang kerap merahasiakan caranya mengolah makanan. Katanya untuk menjaga keorisinilan rasa.

“Bekas apa ini, paman?” tanyaku saat melihat noda coklat menempel di tepi penggorengan raksasa.

“Itu daging yang sudah mengeras. Paman lupa membersihkannya.”

Aku mengangguk. Penggorengan itu besar sekali, muat untukku berendam, pikirku. Aku mengamati penggorengan besar yang pertama kali kulihat dalam hidupku, ada bercak minyak di lantai yang lumayan banyak, mirip jejak kaki.. dan.. ceceran sayap serangga di lantai?

Aku melirik paman yang sedang memotong sayuran, ingin kutanya sesuatu. Namun kuurungkan niatku.

Tiba-tiba aku merasakan perasaan yang menggebu-gebu untuk segera tidur di kamar Judit. Mungkin aku merindukannya karena tidak bertemu dengannya selama pengembaraanku ke kuil.

Tanpa sepengetahuan paman, aku masuk ke kamar Judit, merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Tidak ada perubahan yang spesifik dari kamar ini, hanya satu, sudah tidak ada serangga berkeliaran dengan tali-talinya. Tidak ada suara bising kepak sayap atau rayapan mereka.

Aku menelisik setiap sudut kamar Judit. Entah apa yang kucari, aku juga tidak tau. Sampai aku lelah sendiri, kemudian berbaring di lantai yang terbuat dari kayu.

Perlahan aku masih bisa mendengar suara jam dinding, mataku masih menangkap kilatan cahaya di langit, sebelum akhirnya aku tertidur.

Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun oleh suara ketukan. Awalnya kukira itu adalah mimpi, atau mungkin itu ketukan yang biasa kudengar. Namun ketika mataku terbuka, suara ketukan itu nyata, meski intuisiku masih melambat—antara sadar dan tidak sadar.

Aku pikir itu adalah paman yang mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada bayangan orang yang berdiri di depan pintu, yang seharusnya terlihat dari celah bawah pintu.

Lalu aku terbelalak ketika suara itu sangat dekat dengan telingaku, berada tepat di bawah lantai kayu tempatku tertidur!

Aku melompat dengan kaki menggigil. Udara dingin yang merasuk lewat jendela kamar, mengantarku pada kengerian yang bagaikan mimpi buruk.

Ketukan itu berulang-ulang. Aku menampar pipiku sendiri untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah dengar. Dengan rasa penasaran bercampur ketakutan, aku meraih senter dari dalam laci kamar Judit.

Saat itu juga aku bermaksud membongkar lantai kayu.

Sialnya, kapak yang berhasil kuraib dari lemari perkakas milik paman harus menolak untuk menghantam lantai kayu.

“Apa yang kau lakukan Danes?” suara paman mengejutkanku.

Di ambang pintu kamar, paman dengan membawa sup yang mengepul berdiri menatapku penuh tanda tanya. Aku gugup, kata-kata yang keluar dari mulutku menggagap.

“A-Aku ingin me-menebang pohon besok.” kataku.

*

Keesokan harinya aku masih penasaran dengan ketukan di bawah lantai. Aku menunggu seminggu. Dan setiap aku tidur di lantai kamar Judit, ketukan itu terdengar tepat di bawah lantai. Hingga suatu hari aku keluar rumah membawa kapak—alibi menebang pohon. Aku berkeliling rumah sambil menunggu Judit yang seharusnya sudah pulang.

Di samping rumah, tepat di sebelah kamar Judit, aku melihat pintu besar di tanah, jalan lain menuju basement. Pintu itu setengah terbuka. Kuambil senter yang ada di saku, lalu aku memutuskan untuk masuk.

Ini pertama kalinya aku turun ke basement rumah paman, semenjak kedatanganku enam bulan lalu.

Ruangan itu cukup gelap dan berbau busuk. Aku menutup hidungku, baunya seperti daging busuk. Dengan sedikit gemetar, aku mencoba masuk lebih dalam. “Krak” kakiku menginjak sesuatu.

Ini bukan basement!

Kuarahkan senter ke seluruh ruangan. Di lantai, penuh gundukan tulang belulang manusia, berceceran, hampir memenuhi ruangan.

Tiba-tiba aku mendengar ketukan itu lagi, tepat di atasku.

Dengan senter yang minim cahaya, aku melihat ke atas. Di sana tergantung sosok jasad setengah membusuk yang dikerumuni kumbang hitamputih yang flat dan lebar.

Pada kulit jasad itu pula aku melihat bekas minyak dan kulit melepuh, seperti daging di goreng. Beberapa bagian jasad itu hilang dagingnya. Dengan tangan jasad yang menempel ke langit-langit—lantai rumah tepat di kamar Judit, seperti sedang mengetuk.


nb: ya, Judit mati. Dia ga sengaja masuk penggorengan karena menangkap salah satu serangga yang kabur. Dan pamannya itu secretly penganut sekte kuno.


Penulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM