Sister Complex
: Lepas
Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Mempersiapkan
segalanya; sarapan, air hangat, menyapu lantai, mencuci baju, membersihkan debu
di kursi, menyetrika pakaian, hanya agar Gina bisa bersantai di hari minggu.
Dia sudah berusaha keras setiap hari; mengurus rumah dan bekerja, tentu hari
minggu saatnya dia bersantai.
“Kakak sudah bangun?”
Suara lembut itu mengejutkanku. Kuletakkan kemoceng dan kain
lap di atas meja, lalu aku berjalan mendekatinya. Ia memandangku aneh.
“Tumben kakak bersih-bersih?” ucapnya
Aku tertawa kecil, lalu kuhirup nafas dalam dan
menghembuskannya perlahan. Kuletakkan tanganku pada kedua pundaknya.
“Hari ini kan hari minggu. Kamu bisa beristirahat.” Kataku
“Ah iya deh, terserah kakak. Aku mau mandi.” Jawabnya tanpa
memandangku, ia menangkis kedua tanganku dari pundaknya. Dengan langkah gontai ia
berjalan menuju kamar mandi.
Hari ini adikku berumur duapuluh lima tahun. Ia sudah
menjadi seorang gadis. Sangat cantik dan menawan. Banyak laki-laki yang datang
ke rumah untuk melamarnya; mulai dari yang tua, muda, serta bergelimang harta,
namun selalu Gina tolak dengan satu alasan: tiada rasa. Pula aku tidak setuju
jika adik tersayangku menikah dengan orang yang tidak dia cintai.
Setiap laki-laki yang dekat dengan Gina, harus meminta izin
dahulu padaku. Aku tidak mau jika terjadi hal-hal buruk pada Gina. Terutama aku
tidak mau jika ada laki-laki yang menyakitinya. Ia adalah malaikat kecilku, aku
tidak akan membiarkan dia terluka. Bahkan jika harus mempertaruhkan masa
depanku, seperti; nanti saja aku menikah ketika Gina sudah bahagia.
“Kak Nata, kenalin.. ini Dika.” Kata Gina sambil menggandeng
laki-laki berkemeja biru
Aku tersenyum kecut. Rupanya kedatangan laki-laki ini yang
membuat Gina buru-buru mandi. Padahal jika hari minggu Gina jarang mandi. Pula
aku susah payah memasak gulai ayam kesukaan Gina di hari ulang tahunnya dan..
dia biarkan seorang laki-laki asing mengacaukan acara ini.
Kusambut uluran tangan si laki-laki ini sambil memperhatikan
gerak-geriknya dengan saksama. Dia memang tampan, tapi tatapan matanya tampak
kurang berani menghadapiku. Dia belum pantas bersanding dengan Gina. Laki-laki
dengan tatapan seperti ini hanya akan menyakiti Gina-ku.
“Ayo kita sarapan.” Kataku lalu memimpin mereka ke meja
makan.
Selama sarapan berlangsung, aku tetap mengamati Dika. Ia
sedikit gugup saat aku terus memandangnya. Kurasa sebagian besar orang juga
begitu jika ditatap terlalu lama. Gina sesekali melirikku sinis, ya aku tau dia
bermaksud menghentikan tatapan intimidasiku. Tentu saja adikku ini paham jika
aku sedang menyeleksi apakah laki-laki ini pantas bersamanya.
“Bagaimana kalau kau kakak jodohkan saja?”
Gina menggebrak meja mendengar perkataanku. Ia menatapku
tajam dengan kedua alis yang hampir menyatu. Setelah Dika atau laki-laki
pilihan Gina berpamitan pulang, aku dan Gina selalu terlibat dalam pertikaian
kecil. Dan ini adalah pertikaian yang ketiga kali dalam dua bulan terakhir.
“Tidak kak. Memangnya ini jaman Siti Nurbaya, ha. Kakak kuno
sekali, menjodohkanku seolah-olah tidak ada laki-laki yang menginginkanku.”
Aku menghirup nafas dalam, mencoba menenangkan hati agar
tidak terpancing emosi. jika saja dia bukan adik tersayangku, mungkin sudah
kucaci maki.
“Tapi kakak yakin kalau pilihan kakak adalah yang terbaik
untukmu.”
Gina membanting bantal sofa ke lantai dan memalingkan wajah.
Ia pun beranjak dari sofa, “Terserah kakak saja.” Ucapnya kesal.
Seminggu setelah pertikaian itu, Gina jarang mengobrol
denganku. Setiap pagi sebelum aku bangun, ia sudah berangkat bekerja. Dan malam
ketika aku pulang kerja, ia sudah mengurung diri di kamar, lembur pekerjaan
katanya. Aku merasa bersalah padanya, namun aku merasa ini memang seharusnya
kulakukan untuk melindunginya. Dia tidak tau bahwa di luar sana banyak
laki-laki jahat yang bisa membuatnya menangis. Hanya aku satu-satunya laki-laki
yang melindunginya dan menyayanginya setulus hati.
Namun malam ini, ketika aku tiba di rumah dan memeriksa
kamar Gina, ia tidak ada di sana. Aku panik seketika, dimana Gina. Ia tidak
berpamitan padaku jika pergi ke suatu tempat. Hari ini pula kudengar ia libur
bekerja, lalu dimana Gina.
Aku pun meneleponnya berkali-kali namun tidak dijawab.
Kutelepon pula ke kantornya, mereka bilang memang sedang libur dan Gina tidak
datang ke kantor. Lalu kucoba menelepon teman-temannya, lagi-lagi tidak ada
yang tau keberadaannya. Tubuhku melemas, pikirku melayang. Aku terduduk di
lantai. Oh adikku sayang, dimanakah kau?
Tiba-tiba kudengar tawa khasnya dari teras rumah. Sontak aku
berlari ke sumber suara. Hatiku teramat lega ketika kulihat Gina berdiri di
teras rumah.. bersama seorang laki-laki!
Bugg!
“Kak Nata! Main pukul aja sih!”
“Kau bawa kemana adikku ha? Kau mau ngrebut dia dariku?
Tanpa izin aku!” teriakku
Laki-laki itu terkapar di halaman rumah. Menatapku bingung
sambil memegangi pipinya. Kulihat badannya menggigil melihat aku yang masih mengepalkan
tangan. Sialnya Gina malah menghampirinya dan membantunya berdiri. Aku merasa
terhina..
“Dia pikir dia siapa.. berani-beraninya mengajakmu pergi
hingga selarut ini. Dan kau malah membela dia daripada aku.”
Gina berdiri sambil menggamit pundak laki-laki itu, “Aku
benci kakak.” ucapnya lirih, sambil memapah laki-laki itu ke mobilnya yang
terparkir di depan rumah.
*
“Kenapa kakak selalu tidak setuju setiap aku membawa
laki-laki ke rumah?” kata Gina.
Nada bicaranya kian meninggi sejak perdebatan tigapuluh
menit lalu. Sudah banyak barang yang ia lempar padaku. Namun beruntung ia tidak
mengusirku dari kamarnya. Aku tentu tidak bisa membiarkan dia mengurung diri di
kamar sementara suasana hatinya sedang kacau. Sungguh aku tidak bermaksud
melarang kebahagiaannya, aku hanya…
“Aku hanya tidak ingin kau disakiti laki-laki, Dek. Apa kau
lupa ibu sakit keras karena ayah selingkuh, apa kau juga lupa bahkan saat ibu
meninggal ayah juga tidak datang?”
Kulihat Gina makin menenggelamkan wajahnya di bantal. Rambut
panjangnya terurai ke depan. Tangannya mencengkeram erat bantal yang
didekapnya. Aku mendekatinya, lalu duduk di tepi ranjang.
“Kakak hanya berusaha menyeleksi laki-laki yang tepat
untukmu…”
“Omong kosong! Apa kakak pikir jatuh cinta itu mudah? Setiap
aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dan kakak tidak setuju itu
sangat melukai hatiku. Kenapa kak? Apa kau selalu mencari kesempurnaan, bahkan
untuk dirimu sendiri kau belum juga menikah!”
Kurengkuh Gina di pelukanku, namun ia dengan sekuat tenaga
mencoba melepaskan diri.
“Lepas kak,” ucapnya lirih, “dan tolong tinggalkan aku
sendiri. Atau aku yang pergi.”
Aku terdiam. Perlahan kulepas pelukanku, hatiku tertohok
oleh perkataannya. Terasa sakit, panas, berdebar. Aku tak mengucap sepatah
katapun. Hingga langkahku menghilang di balik pintu, Gina tidak juga
memanggilku untuk kembali. Ah, mungkin dia butuh waktu seorang diri.
*
Sudah pukul tiga pagi. Aku belum juga tidur, pikiranku terus
melayang pada perkataan Gina tadi. Apakah adikku sendiri benar-benar
membenciku?
Aku hanya ingin dia baik-baik saja. Aku terlalu takut
mempercayakan dia pada laki-laki lain. Maksudku jika dibandingkan denganku, aku
takut laki-laki itu tidak bisa menjaga Gina.
Ia adikku yang manis. Melihatnya tumbuh adalah suatu
kebanggaan bagiku. Dan membuatnya bahagia adalah tugasku. Sejak ibu meninggal,
saat aku berumur limabelas tahun dan Gina berumur lima tahun, akulah yang
selalu bersama Gina. Aku yang menjaganya, menyayanginya. Dia satu-satunya yang
kupunya. Tidak rela. Tidak bisa merelakan dia pergi. Aku takut dia disakiti.
Aku tidak pernah lupa hari dimana dia pulang sekolah dengan
wajah sembab. Dia tidak mau mengaku saat itu jika hatinya barusaja dipatahkan
oleh laki-laki. Sial, aku masih saja mengingat nama laki-laki itu; Dika. Nama
yang sama dengan laki-laki yang Gina kenalkan padaku tempo hari. Dan aku tidak
akan lupa keputusasaan Gina selama berbulan-bulan bangkit dari patah hatinya.
Aku kasihan dengannya. Sebagai kakak, aku tidak akan membiarkannya terluka lagi.
Tiba-tiba alarmku berbunyi, menunjukkan pukul tiga lewat
limabelas menit pagi. Di jam seperti sekarang aku biasa terbangun untuk sholat
malam. Biasanya aku harus tertidur terlebih dahulu, namun rasanya aku tidak
perlu tidur. Beranjak dari kasur, aku berjalan menuju kamar mandi untuk
berwudhu.
Kulewati lorong di depan kamar, tanpa sengaja kudengar suara
gaduh, berasal dari kamar Gina. Aku berlari menuju kamar itu. Ketika hendak
membuka pintu, ternyata terkunci. Sial! Akhirnya aku terpaksa mendobraknya.
“Gina!” aku berlari menuju dia yang duduk memeluk lutut di
sudut kamar.
Ia meringkuk sambil menggangguk-angguk, menggigil, dan
dengan tatapan ketakutan. Giginya bergemeretak, bibirnya bergetar hebat. Aku
memeluknya, kuusap rambutnya yang acak-acakkan dengan lembut. Berulangkali kukecup
ujung kepalanya.
“Adikku sayang, apa yang terjadi?”
Ia mencoba mengatakan sesuatu namun hanya gerutuan tidak
jelas yang kudengar. Akhirnya aku tidak bertanya lagi dan hanya mendekapnya
erat. Tidak jauh dari tempatnya duduk, aku melihat gelas kaca yang pecah di
atas lantai, juga ada cipratan air di tembok. Mungkin ia barusaja melempar
gelas itu. Dan di dekat tembok, kulihat benda putih kecil berserakan, mirip pil
obat.
Dahiku berkerut, “Benda apa itu?” aku melepas pelukanku, dan
hendak bergerak menuju benda putih yang berserakan di lantai.
“Jangan..” ucap Gina lirih, ia mencengkeram ujung bajuku.
Tiba-tiba ia memelukku dari belakang.
“Kak, izinkan aku menikah dengan Dika. Ia tidak sejahat dulu..”
“Sejahat dulu? Maksudmu Dika..”
Gina makin erat memelukku, “Iya, dia Dika mantanku saat SMA.
Tolong restui kami. Aku sangat menyayanginya, begitupun ia. Kak, aku yakin aku
akan baik-baik saja bersamanya..”
Kurasakan pundakku basah oleh airmata Gina, ia terisak di
punggungku. Tangannya terus mencengkeram ragaku erat. Aku menyentuh pipinya.
Jujur saja, aku belum rela jika dia harus menikah..tapi.. aku lebih tidak rela
jika melihatnya menangis.
“Adikku sayang, maafkan aku yang egois. Jika hal itu membuatmu
bahagia, aku akan melakukannya. Menikahlah dengannya, namun jika dia melukai
hatimu, kembalilah pada kakak.”
Gina menenggelamkan wajahnya di punggungku. Kurasakan hangat
airmatanya mengalir di kulitku. “Terimakasih kak.”
- Penulis
Komentar
Posting Komentar