Kepul Nikotin

: selamat tinggal, masa depan!

Sudah pukul sepuluh malam. Aku mengerjap beberapa kali, mataku terasa sepat setelah empat jam duduk bergumul dengan pintalan benang warna warni.

Aku mematikan lampu remang yang menggantung pada kayu di atap rumah. Seketika dinding rumah yang berupa anyaman bambu terlihat gelap pekat.

Dari kisi-kisi dinding anyaman bambu, angin semilir masuk, menambah keletihan jiwaku. Kuhembuskan nafas dalam tangkupan kedua tanganku, malam ini lumayan dingin.

“Uhuk! Uhuk!”

Rasa sakit ini datang lagi. Seakan ada duri yang menancap di tenggorokanku. Menusuk, mengoyak kulit leherku. Melukai sedikit demi sedikit. Rasa sakit itu seolah menjalar ke leher. Seperti pisau yang dihujamkan berkali-kali ke dada, kupukul-pukul dadaku.

Aku menghembuskan nafas begitu batuk ini reda. Kurasa aku butuh istirahat. Aku beranjak meninggalkan kursi kerjaku. Mengabaikan pintalan benang aneka warna, kain-kain perca, alat jahit dan obras yang perlahan mendingin tersapu udara malam.

 Aku masuk ke sebuah bilik, melewati pintu kain—yang sebenarnya tidak pantas disebut pintu, yang menjulur hampir menyentuh lantai tanah. Kain panjang penutup bilik bermotif kotak-kotak persegi panjang.

Aku memindahkan selimut yang menutupi bantal, lalu membaringkan badan di atas tempat tidur.

Kedua mataku belum mau terpejam, padahal badan ini terasa letih. Entah, pikiranku melayang-layang setiap malam. Setiap malam pula langit-langit rumah yang penuh sarang laba-laba menjadi kanvasku melukiskan segala hal yang berputar-putar di otak.

Bilik kecil ini lebih remang dari cahaya lampu jalan. Sinar bulan purnama mengetuk lalu menyusup melalui genteng kaca, membuatku tanpa sengaja mengintip malam.

Aku memiringkan badan, melirik meja kecil di samping tempat tidur.

Jemariku meraih foto mendiang ayah, kupeluk erat.

Otakku memutar memori saat ayah masih memberiku uang jajan, membelikan semua yang kuminta, tanpa aku peduli bagaimana kesusahan ayah menuruti permintaanku.

Seketika, terngiang kembali kata-kata ayah.

“Dasar anak bau kencur! Kau takkan memiliki masa depan jika masih rajin menghisap benda itu! Kita ini miskin, tak perlu bertingkah macam-macam.”

Namun aku adalah anak nakal. Sejak SD aku sudah mengenal benda itu. Menyesapnya diam-diam bersama gerombolan anak lain yang sering nongkrong di pos kamling. Aku senang bisa melampiaskan kepenatanku dan mengobrol dengan teman-teman.

Saat itu hidup terasa ringan, hingga aku berpikir bahwa ayah egois dan tak suka aku bahagia. Aku nekat membeli benda itu lagi dan lagi. Mencoba berbagai merk, dari yang paling murah hingga harga selangit, menghabiskan tigapuluh enam puntung, melakukannya setiap hari.

Akhirnya, tubuhku digerogoti penyakit sialan ini.

Kini usiaku hampir setengah abad. Andai saja aku menyadari lebih awal, bahwa ayah tak pernah bermaksud buruk padaku.

Andai aku patuh pada kata-kata ayah, pasti aku sudah menjadi orang yang berguna. Paling tidak aku bisa membelikan kursi roda untuk ibu dan membangunkan rumah yang layak.

Sekarang tak ada lagi uang tabungan untuk kuhamburkan, semua yang ayah punya telah lenyap, mendekam di tempat gadai barang, atau menghambur di tempat-tempat judi.

“Risky, ibu haus.”

Aku mendengar rintihan dari kamar sebelah, membuatku harus beranjak menuju dapur, lalu membawakan segelas air ke kamar ibu.

Ketika aku masuk kamar, seperti biasa, ibu tersenyum saat melihatku.

Kubantu Ibu duduk, lalu menempelkan bibir gelas ke bibir ibu dan mengangkat ujung gelas agar lebih mudah diteguk.

Sambil duduk di sampingnya, aku menatap wajah cantik ibu yang telah keriput. Kerutan di wajah ibu ketika tersenyum, menyadarkanku bahwa terlalu lama aku membuatnya menunggu kesuksesanku. Aku justru menambah kerutan itu dengan membebani pikirannya.

“Nak, apa kamu sakit? Kamu terlihat lebih kurus.”

Bahkan ibu masih menanyakan kabar anak durhaka ini, mengabaikan kesehatannya sendiri.

Apa ibu lupa bahwa aku pernah mengancam akan membunuh ayah karena bosan diceramahi. Apa ibu lupa aku pernah mencuri perhiasannya untuk membeli rokok dan berjudi. Ingatkah ibu saat aku sekarat karena terlalu banyak menenggak obat terlarang. Bahkan di rumah ini, aku sering kali membentaknya dengan kata-kata kasar. Mengumpat sesukaku. Menyalahkan takdir atas kemiskinanku. Menyalahkan ayah kenapa hanya mampu memberiku sebuah gubuk reyot seperti ini.

Begitu terpukul aku mengingat apa yang terjadi tiga tahun terakhir sebelum aku divonis dokter. Sebelum sampah masyarakat ini berubah menjadi sedikit lebih berguna.

Selama itu pula, ibu tidak pernah meninggalkanku. Mengapa ibu begitu hebat, terus menyayangiku, tak peduli seberapa banyak aku menyakiti hatinya.

Mengapa masih ada cinta sebesar ini untuk seorang anak durhaka. Pantaskah aku mendapatkannya dari hati seorang wanita yang begitu tulus.

Aku menarik nafas dalam, dan kurasakan ada yang mengganjal di ulu hati. Rasa sesak karena bersalah.

“Aku sehat, bu.”

Mendengar jawaban itu, ibu tersenyum lalu merangkulku. Kucium aroma ibu yang menua. Masih sama, ada aroma pepaya dari sabun yang biasa kugunakan untuk membasuh kulitnya yang lentur, menyerupai selaput.

“Maaf ya, ibu sudah nggak bisa jalan, nggak bisa bantu menjahit. Tapi ibu selalu berdo’a, semoga anak ibu sehat selalu. Tak perlu berpikir keras untuk membahagiakan ibu, asal bisa terus bersamamu, ibu sudah bahagia.”

Aku merasa sesak, sangat bersalah!

Tentu ibu tak cukup bahagia jika hanya dengan bersama anak sepertiku, anak tidak berguna. Mana mungkin ibu bahagia, padahal aku tidak melakukan apapun. Menebus kesalahanku saja belum genap, apalagi membalas jasanya.

“Aku..”

Tiba-tiba sakit di dadaku datang lagi, menghimpitku lebih kuat dari sebelumnya. Sangat sakit sampai aku mengigit bibirku sendiri, menahan airmata.

Aku melepas pelukan ibu, tak menggubris ibu yang bertanya ada apa. Aku lantas berjalan ke ruang tengah dengan sempoyongan.

“Uhuk!!”

Darah keluar dari mulutku.

Aku mencengkeram dada, lalu meringkuk di lantai, terbatuk lama. Kepalaku pusing tak karuan, seolah merasakan guncangan hebat.

Saat aku hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba terlintas kaleidoskop hidupku, mempertontonkan kenakalan yang tak ada habisnya. Sejak kecil aku memang sudah menyusahkan, begitulah kata orang.

Lalu sebenarnya untuk apa aku hidup!

Di tengah keputusasaan, aku ingin menghantamkan diriku ke tanah. Nafasku naik turun, degup jantungku tak karuan. Tubuhku melemas.

“Risky! Kau baik-baik saja?” suara ibu terdengar dari kamar.

Aku merasakan darah yang mengalir dari mulutku semakin banyak. Bersamaan dengan itu, aku mendengar sesuatu terjatuh dari kamar ibu.

Gedebuk yang terdengar menghantam tanah dengan keras. Aku cemas, tapi tak sanggup berdiri untuk melihatnya.

Dadaku berdesir, sakit yang tak tertahankan. Aku terus terbatuk. Darah menyembur kemana-mana.

Kepalaku terasa berat untuk kuangkat, namun kesadaran ini belum hilang, meski hanya bisa mengerjap perlahan.

Dari lantai, aku melihat ibu berlinang airmata, merangkak dengan kedua tangan, bergerak susah payah menujuku. Menyeret kedua kaki lumpuhnya, tangan-tangan kurusnya bergetar menahan badan.

Pakaian ibu kotor terkena lantai yang masih berupa tanah. Tangan ibu mencoba menggapaiku, ingin memeluk anaknya yang durhaka.

“Ibu sangat mencintaimu, Nak. Bahkan tanpa kau melakukan apapun, kau tetap berharga bagi Ibu. Tidak masalah nak kita miskin. Maaf membebanimu hingga kau sakit, ini salah ibu..” tangan ibu meraih puncak kepalaku, diusapnya dengan penuh kasih, airmata deras mengalir di pipinya, “ayo kita pergi ke dokter, jual saja rumah ini, asal kau sembuh.”

Aku tak bisa berkata-kata. Batuk ini tak memberiku jeda untuk sekedar mengucapkan,
“Terimakasih telah menjadi ibuku, aku tidak menyesal terlahir dari rahimmu.”

Oh ibu, aku harap kau memaafkanku. Aku tak bisa memapahmu ke kamar mandi lagi, menggantikanmu baju, mendengarkan ceritamu yang selalu sama, menuangkan bubur ke mangkuk yang setengah retak, menemanimu tertawa menghabiskan senja atau mengusap rambut putihmu menjelang tidur.

Tapi Ibu, bahagialah! Karena bebanmu akan hilang, anak yang nakal ini takkan lagi mengganggumu.

Lalu aku pun tidak lagi melihat cahaya.



-Penulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM