Surat dari Surabaya
7 November 1995 Untuk laki-lakiku, Sudah bulan November. Genap tiga tahun kita tidak bertemu, maukah kau bertanya kabarku? Tentu aku tidak perlu menanyakan kabarmu, bukan. Karena aku yakin kau baik-baik saja. Jadi, maukah kau menanyakan kabarku? Jika kau bertanya kabarku maka akan kujawab “Tidak pernah baik.” Tiga tahun tidak saling bertatap muka, tidak ada pula pesan darimu, tidak ada kabar apapun dari sanak saudara di kota. Tiga tahun pula aku kerap termangu di depan teras rumah, mengamati kotak surat yang mungkin saja akan terisi oleh pak pos, tapi tetap saja tidak ada yang berubah. Aku juga tidak berubah, kau tau. Masih sama saja. Hati ini, perasaan ini, diri ini, belum berubah. Dan mungkin tidak akan berubah. Aku tau, kau paham betapa dalam aku menyayangmu, seberapa sering kusebut namamu dalam doa-doa ku. Berharap Tuhan menjagamu. Bulan November memang mengagumkan ya. Pada bulan ini kita bertemu dan berpisah. Pertemuan klasik ketika aku melihatmu menj...