Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Surat dari Surabaya

7 November 1995 Untuk laki-lakiku, Sudah bulan November. Genap tiga tahun kita tidak bertemu, maukah kau bertanya kabarku? Tentu aku tidak perlu menanyakan kabarmu, bukan. Karena aku yakin kau baik-baik saja. Jadi, maukah kau menanyakan kabarku? Jika kau bertanya kabarku maka akan kujawab “Tidak pernah baik.” Tiga tahun tidak saling bertatap muka, tidak ada pula pesan darimu, tidak ada kabar apapun dari sanak saudara di kota. Tiga tahun pula aku kerap termangu di depan teras rumah, mengamati kotak surat yang mungkin saja akan terisi oleh pak pos, tapi tetap saja tidak ada yang berubah. Aku juga tidak berubah, kau tau. Masih sama saja. Hati ini, perasaan ini, diri ini, belum berubah. Dan mungkin tidak akan berubah. Aku tau, kau paham betapa dalam aku menyayangmu, seberapa sering kusebut namamu dalam doa-doa ku. Berharap Tuhan menjagamu. Bulan November memang mengagumkan ya. Pada bulan ini kita bertemu dan berpisah. Pertemuan klasik ketika aku melihatmu menj...

O, IBUKU SAYANG

Kata ibu penjual sayur di kampung, ibuku adalah sosok wanita yang paling cantik yang pernah ia temui. Ibuku adalah wanita yang kuat, mandiri, dan berkemauan keras. Ibu… aku sangat rindu.. Ku hirup nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ini adalah hari ke tiga ratus tujuh puluh dua. Sudah satu tahun lebih aku pergi dari kampung halaman. Entah apa yang kucari di tanah orang ini. Aku mencoba menghilang, bersembunyi dari segala bayang-bayang wanita itu. Tidak bisakah aku lepas dari bayangannya. Hanya bayangannya!! Aku masih ingat gurat senyumnya. Juga nada bicaranya yang lembut dan menenangkan. Dia wanita yang amat memesona. Oh, ibu. Seberapa jauh aku harus melangkah untuk melupa. Seberapa lama aku harus bersabar untuk ikhlas. Seberapa kuat aku harus menahan airmata ini untuk tetap di pelupuk mata. Oh, ibu. Ingin aku berada di sisimu saat ini. Ingin aku memelukmu erat dan membisikkan bahwa aku sangat menyayangimu. Ibu, ingatkah kau ketika hari hujan itu. Ket...

Seandainya Jika

Siang itu sangat terik. Di jalan beraspal tampak kepulan-kepulan panas yang mengombak. Daun-daun hijau mulai layu, beberapa pohon kekeringan. Di rooftop sebuah rumah, di bawah naungan bayang-bayang tembok gedung pencakar langit di samping rumah tersebut, terdapat dua ekor kucing yang sedang tiduran. Salah satu berwarna coklat muda dan yang lebih kecil berwarna putih. “Hari ini panas sekali ya paman.” kata si kucing putih pada kucing berbulu coklat muda. Si paman kucing tidak menjawab pertanyaannya, ia malah sibuk mengibas-ibaskan ekornya. Lalu terdengar suara dengkuran yang lumayan kencang. Tertidur ia rupanya. Cepat sekali. Si kucing kecil berpindah posisi ke sebelah kanan si kucing coklat. Ia lebih leluasa memandang kota di bawah yang terlihat kecil. Angin di atas sini lebih kencang dari yang ia bayangkan. Kumis kecilnya bergerak-gerak tertiup angin. “Ah seandainya kota itu memang sekecil pandanganku sekarang.” ucapnya dalam hati. Ia begitu ingin memangsa manusia se...

DUNIA MONOKROM 2

Sang Putih yang mengagumi Hitam. Kelam tak selalu menyedihkan, begitu kata Hitam sebelum bungkam. Ia membiarkan aku merangkai kata kali ini. Mengenai dunia kita lagi, dunia monokrom sang Pelukis. Konon, aku dianggap sebagai simbol kesucian. Aku warna favorit para pengantin dan ahli ibadah. Yang mereka (para pengantin) bilang, aku lambang kesucian cinta. Juga kesucian jiwa bagi yang lain (para ahli ibadah). Karena mereka menganggapku suci, putih yang bersih, tak ternoda, tak berdosa. Ah tidak juga. Aku hanya pandai menyembunyikan hitamku yang berada di balik terang putihku. Hitam juga ada dalam diriku, aku menyebutnya bayangan. Setiap putih memiliki bayangan. Banyak pula manusia membayangkan aku sebagai warna surga, namun tidak. Tidak ada yang tau warna surga. Hitam pernah mengatakan padaku bahwa kami diciptakan berpasangan oleh sang Pelukis. Kami memiliki kekontrasan visual, namun inti kami tidak berbeda jauh. Hitam lebih leluasa mengungkapkan apa yang dia rasa....

DUNIA MONOKROM

Untuk monokrom. Hitam dan Putih duniaku. Semua berawal dari kekosongan, kehampaan, ketiadaan. Dulu, dunia kita hanyalah dua buah titik hitam dan putih. Kecil dan hampir tak terlihat. Lalu Tuhan dengan kuasaNya menjadikan kita meluas, melebihi luar angkasa yang tak berujung, katanya. Hitam dan Putih melebur dalam dunia ini, dalam segala bentuk dan diberi rasa oleh warna lain. Aku, Hitam, bangga menjadi warna yang tua, gelap, dan suram. Aku digambarkan sebagai simbol kesedihan yang amat dalam. Warna diriku pula yang diagung-agungkan ketika ada manusia yang meninggal, seolah aku adalah simbol kepergian. Banyak pula manusia yang takut pada warnaku ketika malam tanpa cahaya, menyeramkan katanya. Ah sudahlah, bagiku itu hanya pendapat subjektif. Mereka tidak mengerti sisi lain dariku. Berkat Tuhanku, aku sudah bukan lagi titik hitam kecil, “Kita sudah dewasa, Putih.” ucapku pada Putih. Ia mengangguk dengan tatapan yang mengawang, entah apa itu. Mungkin ia memikirkan...