Kami Menangis



Alat-alat berat dan tiang pancang telah berdiri di atas hamparan tanah itu. Tanah yang dulunya adalah sebuah desa. Satu minggu lalu, mereka meluluhlantakkan permukiman itu. Tak ada satu bangunan pun yang tersisa. Tak ada pohon-pohon yang menjulang tinggi, burung-burung pun pergi mencari tempat tinggal, tak ada lagi hamparan padi di sawah, atau hembusan angin sepoi-sepoi. Perkebunan cabai dan semangka milik kami pun dibabat habis.

Tempat kelahiranku sudah mati oleh orang-orang pribumi. Teman-temanku dan tetanggaku direlokasi ke tempat yang jauh. Aku tak punya keluarga, tak ada siapa-siapa yang menemani sepiku. Tinggal aku sendiri, berdiri menatap laut lepas. Angin yang mengantarku ke sini, hujan yang menemani langkah kakiku. Aku tak punya apa-apa. Hanya bisa berteriak pada ombak, menangis menatap langit atau mengadu kepada Tuhan.

Aku terduduk lemas di pasir pantai. Tak ada yang menginginkan diriku, tak ada yang mencari. Aku telah terbuang dan terlupakan, pupus sudah harapan. Terlebih, aku tak tahu apa yang harus kulakukan esok hari, atau harus makan apa aku malam nanti. Ayah mendekam di balik jeruji besi. Kata orang, ayah adalah provokator dalam kekacauan kala itu. Padahal yang ia lakukan adalah mempertahankan haknya, tanah kami.
Aku tidak tahu siapa yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi.

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada diusir dari tanah sendiri. Dipaksa meninggalkan tempat yang penuh kenangan dimana aku dikelilingi orang yang kusayang. Biasanya, di jam seperti sekarang, aku pergi ke sawah mengantar bekal untuk ayah. Lalu duduk di pematang sawah, memperhatikan ayah merawat padi. Agar nanti saat aku dewasa bisa menjadi petani yang handal. Menghasilkan beras berkualitas dan dijual mahal di pasaran.

Ah, sekarang itu hanya angan-angan belaka.

Negeriku makmur, tanahnya subur, begitulah kata mereka. Tapi apa yang mereka elu-elukan itu tak sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini. Negeriku merampas hidupku.
Aku menggenggam pasir pantai, erat dan semakin erat. Butiran pasir putih itu perlahan keluar melalui celah-celah jemariku.

Siapa lagi yang akan dirampas?

Apakah para nelayan yang menebar jaring dan digantikan dengan alat canggih. Lalu mereka mati, profesi mereka lenyap, dan merasa tak berguna. Bagaimana nasib orang-orang pinggiran, dapatkah orang seperti kami bertahan dalam kerasnya dunia. Kami kalah dengan orang-orang besar, menangis dalam sepi, termenung menatap langit, mengharap belaskasihan Tuhan.

Ah, barangkali di masa depan manusia tidak perlu melakukan apa-apa.

Aku merasakan deburan ombak menyapu kakiku, sedikit menyeretku ke pantai. Aroma laut tersapu angin, tercium olehku. Mungkin alangkah baiknya aku terombang-ambing di lautan, daripada di sini menyaksikan mereka membangun gedung-gedung pencakar langit. Daripada menyaksikan asri desaku berubah menjadi kawasan modern.

Jika sanggup aku ingin menangis, mengamuk di tengah lahan itu, agar semua orang tahu bahwa aku ingin semua yang kumiliki kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM