Cerpen: Ayah





Satu minggu telah berlalu. Aku belum berniat untuk kembali ke Ibukota, setidaknya aku ingin merenungi semuanya disini. Di atas dipan di teras rumah, aku duduk termangu menatap ke halaman. Tanah terhampar, masih terlihat jejak-jejak kaki pelayat yang datang tempo hari. Juga kerabat yang berkunjung silih berganti mengucap belasungkawa. Kurasakan dipan yang kududuki bergerak, berdecit nyaring. Seseorang duduk di sampingku.

“Untuk apa kau pulang?” katanya.

Aku merasakan nada dingin dalam pertanyaannya, namun ia mengatakan ‘pulang’ yang berarti dia mengakui bahwa ini juga rumahku, tempatku lahir dan dibesarkan.

“Maaf.” ucapku.

Ia menyisir rambut panjangnya ke belakang telinga, membuatku dapat melihat wajah sampingnya yang sendu. Bengkak di matanya sudah lebih baik dari beberapa hari lalu. Meski dia dingin tapi dia adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang.


Aku teringat kala hari kedatanganku. Menghentikan sepeda motorku di depan rumah dengan terburu-buru. Hatiku bergetar menyaksikan banyak warga berkerumun di rumah ayah. Aku melepaskan motorku begitu saja, tak peduli ia lecet. Aku hanya ingin segera melihat ayah.

Tanganku gemetar, kakiku lemas, aku takut untuk melangkah menuju rumah. Kucium bau kapur barus di halaman rumah dan kulihat tanah di sekitar basah. Ember dan bekas shampoo masih ada di atas papan panjang yang biasa digunakan untuk memandikan jenazah.



Di ambang pintu, aku melihat kakakku, Mira, sedang duduk dengan wajah sembab. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada beberapa orang sedang mengkafani jenazah ayah.

Ayah, katakan yang kulihat tidaklah nyata. Ini hanya mimpi buruk kan. Ayah, mengapa kau tak bangun dan memelukku. Aku pulang, ayah.

Lututku lemas, aku terduduk di lantai.

“Ayah, maaf.”

Mira menatapku datar. Aku tahu ia melihatku sebagai adik yang hina, dari tatapannya seolah melarangku datang ke tempat ini.


Mira menyeka ujung matanya, ia tak ingin membiarkan bulir air itu kembali jatuh. Ia berjanji untuk bersemangat lagi menjalani hidup. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Mira tersenyum sambil mengusap punggungku.

“Terimakasih sudah pulang. Ayah sangat merindukanmu.”

Aku menunduk, tak tega menatap wajah Mira. Di sisi lain juga karena rasa bersalah yang menghantuiku, seharusnya aku pulang satu bulan sekali tapi semua sudah terlambat.

Langit cerah hari ini, warnanya sebiru lautan. Sinar matahari tak terlalu menyengat, namun cukup untuk mengeringkan pakaian. Aku mengusap dipan yang kududuki.

“Dulu kita sering bertengkar ya.” ia tertawa kecil, mengingat potongan memori indah itu.


Setiap ayah pergi berdagang, Mira yang bertugas di dapur membantu Pak Giyo  dan Mas Mardi membuat Tahu. Sementara aku bertugas mengantar pesanan ke tempat para pelanggan. Di setiap rumah, mereka memberiku uang upah, kadang ada yang memberi makanan.

Orang-orang itu selalu baik padaku, tapi ketika aku pulang, Mira memarahiku karena menerima pemberian mereka.

“Jangan jadi pengemis!” katanya sambil menonyorku.

Aku menggeleng dan mengatakan bahwa aku tidak mengemis, mereka memberikannya dengan senang hati. Tapi ia tetap memakiku, “Jangan seperti ibumu, yang mengemis belas kasihan ayahku.”

Mira selalu mengatakan ‘ibumu’ dan ‘ibuku’. Setiap kali kutanya mengapa, ia akan menjawab, “Ibu kita berbeda! Ibumu pelacur, bodoh. Perusak kebahagiaanku dengan ayah.”

Aku bertanya pada ayah apa artinya pelacur; apakah ibuku pelacur. Ayah bertanya balik padaku, siapa yang mengatakan hal itu, dan kukatakan Mira yang memberitahuku. Dengan langkah cepat, ayah menghampiri Mira di ruang tamu. Ia sedang menjahit bajuku yang sobek tatkala ayah menarik kain itu dari tangannya.

“Kenapa kau mengatakan hal itu padanya?” kata ayah sambil menunjukku, “sadarkah kau jika perkataanmu bisa mempengaruhi mentalnya!”

Suara ayah bergema, menggelegar bagai petir, aku bersembunyi di balik kursi, ketakutan.

“Tapi itu kenyataan ayah!” Mira menatap ayah setengah berani, “setelah ibu meninggal, ayah menikahi pelacur yang barusaja melahirkan anak haram. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan anaknya di rumah ini!”

Ayah menampar pipi Mira, ia tersungkur ke sofa. Aku takut melihat mata ayah yang menakutkan, dadanya naik turun menahan amarah.

“I-ibu, ibu..” rintih Mira, ia memegangi pipinya.

Gadis itu berlari menuju kamarnya. Aku berjalan perlahan, menyaksikan ayah terduduk lesu di ruang tamu. Ia memijat kedua pelipisnya.

“Ayah jangan menangis.” kataku pelan.

Ayah menatapku dengan senyum. Ia melambaikan tangannya, memintaku mendekat, lalu dia memelukku erat. “Ibumu bukan pelacur, nak. Dia wanita baik, dia wanita baik.” bisiknya di telingaku.


Aku menatap langit-langit rumah, sudah usang dan ada beberapa lubang. Kurebahkan badanku di atas dipan, kedua tanganku kutekuk ke belakang sebagai bantalan.

“Perihal aku ini anak siapa, entahlah,” aku mengangkat bahu, “tak masalah aku ini anak siapa, yang penting aku memiliki keluarga yang mengakuiku.”

“Aku tidak mengakuimu.” Mira menyengir padaku.

“Kau dulu cemburuan padaku. Padahal ayah sangat menyayangimu.” kataku.

Kami lalu bungkam, memikirkan tentang masa lalu.


“Ayah lebih menyayangimu.” perkataan terakhir Mira yang kudengar hari ini, sebelum ia menghilang. Padahal ayah sama-sama menyayangi kami, hanya saja Mira tidak menyadari hal itu. Ia adalah gadis baik yang selalu ayah banggakan meski ada kalanya ia menyebalkan.

Malam itu Mira merajuk padaku karena ayah membelikanku sepeda baru. Ia tidak pulang ke rumah sejak siang hari. Entah pergi kemana.

Hujan turun dengan deras, gemuruhnya menakutkan. Sementara malam semakin larut, Mira tak kunjung pulang, membuat ayah tidak bisa tidur. Ayah memilih duduk dengan diterpa percikan hujan di teras daripada berbaring di atas tikar di dalam rumah.

Diam-diam aku mengintip ayah yang duduk termangu, sesekali melirik kanan-kiri. Raut wajahnya tampak khawatir, kulihat bibirnya komat-kamit, bergumam tak jelas.

“Ayah..” aku menatapnya lewat pintu yang sedikit kubuka, “ayah tidur saja. Biar Bagas menelepon Mira.” aku menekan ponselku untuk mencari kontak kakakku itu.

Kutatap layar ponsel, Mira tak menjawab panggilanku. Aku tersenyum tipis pada ayah, bersikap seolah baik-baik saja, “Mira akan segera pulang. Ayah tidur saja. Bagas yang akan menunggunya.”

Ayah menatapku sejenak. Dari wajahnya yang mulai menua, aku membaca ada perasaan lega dan khawatir yang terlukis di sana. Ia menatap langit yang masih enggan untuk menghentikan hujan barang sejenak, siapa tahu Mira sedang berteduh menunggu hujan reda.

Pukul duabelas tengah malam, aku mendengar seseorang membuka pintu. Aku terbangun dan menyalakan lampu. Kulihat Mira berdiri menatapku datar di ruang tengah. Bajunya basah kuyup, bibirnya pucat kedinginan. Aku hendak menawarkan handuk atau segelas teh hangat, namun ia lebih dulu melenggang.

Langkahnya terhenti di depan sofa. Lama ia berdiri di sana, memandangi ayah yang terlelap, berselimut kain tipis.

“Kenapa ayah tidur di sofa?” tanya Mira tanpa menatapku.

“Menunggumu pulang.” jawabku.

Mira meletakkan tas dan sepatunya kasar, lalu berlari ke kamar.

Seburuk apapun sikap Mira, dia tetap menjadi sosok yang menginspirasiku. Aku ingin seperti dia; pandai, pekerja keras, semangat, dan disayang ayah. Mira sering mendapat nilai tinggi di hampir semua mata pelajaran. Sepulang sekolah, ia menunjukkan pada ayah hasil kerja kerasnya belajar semalaman. Lalu ayah akan tersenyum dan mengusap kepalanya sambil berkata, “Anak ayah memang pintar.”

Namun sayang, ketika Mira hendak masuk perguruan tinggi, aku jatuh dari sepeda, tulangku patah dan harus dioperasi. Mira gagal masuk perguruan tinggi karena uang ayah habis untuk pengobatanku, dan beasiswa yang dia ajukan ditolak.

“Kenapa kau tak mati saja.” kata Mira. Aku merasa bersalah padanya, tapi aku tidak tahu cara menebus kesalahanku.

Lalu ketika aku kelas dua SMA, aku berhenti bersekolah. Aku memilih merantau ke Ibukota. Ayah mengirimku ke rumah sahabatnya di sana, seorang pemilik perusahaan. Kedatanganku diterima dengan baik, menjadi seorang office boy. Aku pun dapat bersekolah kembali dengan uangku sendiri hingga menjadi sarjana. Aku bekerja dengan tekun dan jujur, sesuai perintah ayah. Aku mendapatkan promosi lalu naik jabatan. Kesibukanku semakin padat. Keluar masuk kota sudah menjadi rutinitasku.


“Hei, bodoh. Ayah dulu sering menunggumu di sini. Duduk seharian menanti anak bungsunya pulang dari kota,” Mira mengerjap beberapa kali, menahan airmata, “setiap ada mobil lewat, ayah buru-buru ke halaman, kalau-kalau anaknya pulang. Aku ingat semangatnya yang tak pernah padam menanti. Walau kau tak pernah pulang, ayah tetap sayang padamu seperti saat kau selalu di sisinya. Setiap makan malam, ayah menceritakan semua tentangmu, padahal ia sudah mengatakannya seharian. Aku sampai bosan mendengarnya.”

Kami tertawa kecil.

“Apa kau tahu, ayah pernah kabur dari rumah untuk mengunjungimu. Dua hari tidak pulang ke rumah. Saat ayah kembali, ia mengatakan tidak berhasil menemuimu. Ia bilang rumah yang kau tempati selalu kosong, gerbangnya terkunci rapat,”

“aku kerap mendapati ayah tengah mengusap album foto, memandangi dirimu kala kecil. Kadang ayah duduk di samping telepon, siapa tahu anakku menelepon, katanya.”

Mira mengangkat kedua kakinya ke atas dipan, duduk bersila. Tatapannya lurus ke depan, melihat pohon mangga kami yang berbuah. Dibawahnya tumbuh rumput yang mengelilingi pohon. Akarnya besar, sedikit keluar dari tanah.

“Ayah memetik beberapa mangga lalu menyimpannya di dapur. Untuk anakku kalau dia pulang supaya tak perlu susah payah memanjat, kata ayah. Tapi hingga mangganya busuk, kau tak kunjung pulang.”

Aku tersenyum, namun ulu hatiku rasanya seolah ada yang mengganjal, teramat sakit.


Tiga tahun setelah kepergianku ke Ibukota, aku mendapat telepon dari Mira. Kala itu aku sedang rapat penting di kantor.

“Ayah sakit. Bisakah kau pulang?”

Hatiku berdesir mendengar kabar itu. Aku ingin pulang tapi bosku sangat mengandalkanku dalam sebuah proyek besar. Kepalaku berdenyut-denyut, pekerjaan semakin banyak, tak mungkin aku lepas tanggungjawab begitu saja.

“Katakan pada ayah, aku akan segera pulang.” kataku.

Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan berlalu, aku belum memiliki hari libur untuk pulang. Lalu suatu sore aku sedang duduk di balkon kamarku, menenangkan pikiran yang tertekan beberapa bulan ini. Dari sini, aku menatap kosong ke jalan, dimana banyak kendaraan yang lalu lalang dan hiruk pikuk kesibukan kota. Terlampau ramai tetapi aku merasa sepi.

Aku terbayang suasana ketika di desa, hidup dengan Mira dan ayah. Kami membuat Tahu bersama, bercengkrama, bermain lilin saat listrik padam, bermain lumpur di halaman ketika hujan. Ah, aku merindukan mereka. Kapan ya terakhir kali aku pulang, bercakap-cakap dengan mereka, sudah lama sekali.

Kriiiiing!

Aku mendengar telepon rumahku berbunyi nyaring, segera aku bangkit dari kursi. Tak sengaja tanganku menyenggol gelas di atas meja, jatuh lalu pecah. Serpihan kacanya melukai kakiku. Perasaanku tak tenang. Aku berlari menghampiri telepon, tepat pada dering terakhir aku berhasil menempelkan gagang itu ke telingaku.

“Hallo..”

“Nak Bagas, apa kau sibuk? Bisa pulang sekarang?”

Aku mendengar suara Pak Giyo di seberang telepon. Dengan suara yang sangat jelas, aku mendengar jeritan Mira, “Ayah, ayah.. ayah!!”

“Kami tunggu kedatanganmu.” kata Pak Giyo mengakhiri panggilan telepon, ketika aku belum sempat bertanya ada apa.


Aku memposisikan diri, kembali duduk. Beberapa tetangga yang lewat menyapa kami, aku hanya tersenyum dan mengangguk. Suasana di desa ini belum berubah, namun ada perubahan di bidang infrastruktur—kemajuan pembangunan akses jalan, sekolah, dan rumah sakit. Aku yakin suatu hari nanti desa ini akan maju seperti kawasan kota.

Mira bertopang dagu.

“Kapan kau kembali ke Ibukota?”

“Entah,” aku mengangkat bahu, ”mungkin tidak akan kesana lagi. Aku ingin melanjutkan usaha Tahu ayah.”

Mira tersenyum padaku.

“Kau memang yang terbaik.”

Dan yang terakhir untuk ayah, aku berterimakasih padanya. Dengan cintanya yang begitu besar pada seorang wanita—cinta pertamanya sebelum ayah menikah dengan ibunya Mira, tak peduli jika dia ‘rusak’ sekalipun, ayah tetap mencintainya. Dan merawat anak haram itu dengan kasih sayang hingga tumbuh dewasa. Menyayangi anak haram itu sepeti anaknya sendiri, bahkan merindukannya dan menunggunya setiap hari. Dan kini anak haram itu hanya bisa duduk termangu mengenang semua kebaikan ayah yang tak akan pernah bisa ia balas.



 penulis
 Yunita R

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM