CORETAN KELUARGA BURUH

Pagi ini ayah mencari celana kain hitam yang kemarin dijemur di atas paku pada dinding batako.

Aku berjongkok di depan setumpukkan cucian bersih di dalam ember besar. Sedangkan sisa cucian yang kotor masih menumpuk di samping ember itu. Ayah berjalan melewatiku dan bertanya dimana celananya.

Aku meringis dan mengatakan bahwa celana itu berada di antara tumpukan cucian kotor.

Ah, hidup seorang buruh.

Akhirnya ayah mengambil celana jeans lusuh dari lemari tempat pakaian kerjanya berada.

Aku terkikik pelan, “Coba saja kalau ayah bilang sebelum celana itu kurendam air begini, pasti tidak perlu mengambil celana baru.”

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara kendaraan gergaji mesin yang berdebum di depan rumah.

Ah, itu pasti teman ayah sudah datang.

Dan benar saja, ayahku sudah siap pergi bekerja. Sambil mengenakan topi plastik dan menenteng sepatu kain yang tebal, ayah melenggang lewat pintu belakang menuju ke depan rumah.

Dari punggung tegapnya, resam tubuhnya yang kekar, dan tingginya yang proporsional alangkah pantas ayahku turut berada di jejeran pegawai atau atlit dunia.

Namun ayahku memilih untuk tidak mengabdi kepada pemerintah negeri maupun swasta. Ayah memilih jalan hidupnya menjadi seorang buruh kayu. Pekerjaan kasar dan angkat jinjing kayu-kayu hutan.

Dalam pekerjaan itu ayah kerap memikul gergaji mesin melalui berbagai medan di hutan maupun perkampungan. Gergaji itu berat bukan main, aku saja tidak mampu menjinjingnya barang semenit.

Hidup seorang buruh memang sulit, tidak ada buruh yang menyenangkan, sekalipun itu adalah buruh pemerintah.

Aku rasa tingkat pendidikan dan kurangnya relasi adalah salah satu faktor mengapa ayah akhirnya menjadi buruh. Jika dilihat dari masa ketika ayah lahir, pendidikan masih mampu dikejar.

Masih sedikit orang yang terpelajar, namun lagi-lagi biaya hidup dan banyaknya mulut yang harus diberi makan membuat pendidikan sebagai hal penting menjadi tersingkirkan. 

Dulu, semasa hidup kakek dan nenekku prinsip mereka adalah yang penting anaknya bisa baca tulis. Entah nanti hanya lulus SD atau SMP, entah lulus sekolah atau putus ditengah jalan, yang penting bisa baca tulis dulu.

Begitulah orangtua jaman dahulu, yang belum mengenal pentingnya apa itu pendidikan, terutama dari keluarga buruh dan tani, karena bagi mereka yang penting semua anaknya mengerti huruf dan angka.

Belum sampai pada esensi seberapa bergunanya baca dan tulis itu untuk mengentas kehidupan di masa mendatang. Lagi-lagi akan hidup susah sebagai kaum buruh.

Seandainya salah satu buruh yang lulusan SD itu ada yang duduk di kursi pemerintah, apa mereka akan mengentas yang di bawah? Karena nyatanya yang dulu cuma lulusan SD pun ada yang bisa jadi pegawai pemerintah dan hidup layak.

Oh iya, lupa, yang penting punya relasi ding, entah itu saudara sendiri atau kerabatmu. Jaman dahulu sangat sulit menumpas nepotisme hanya karena tidak punya kuasa untuk menggagalkannya, lantas orang menganggap hal itu seolah lumrah.

Lha wong jaman sekarang juga masih banyak yang begitu kok. Mesti tidak direkrut secara langsung oleh ‘saudara’, namun oligarki di suatu wilayah nyata adanya.

Ning yowis, dadi buruh sing penting halal. 

Ayahku tidak mengeluh. Entahlah, mungkin menjadi orang dewasa memang demikianlah seharusnya.

Menerima apapun pekerjaan dalam hidupnya, “Inilah yang bisa kulakukan untuk menghidupi keluargaku.”

Hingga buruh kayu ini pun mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Tentu suatu kebanggaan sebagai seorang buruh.

Buruh kecil yang diremehkan itu, lho! Bisa membiayai kuliah anaknya dengan gajinya yang sedikit itu meski setiap hari makannya rerumputan, setidaknya hidup dari alam, bukan memangsa rakyat. 





-penulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM