Diskusi dan Bercerita: TRAUMA dan KARMA




Tulisan ini sudah lama kutulis sih, tapi baru sempat mempublish hari ini. Aku beritahu di awal ya, ini bukan tulisan ilmiah, jadi maaf jika tidak terstruktur.

14 Februari 2020

Hai semua. Kali ini aku ingin membahas topik yang cukup mengusikku beberapa waktu ini. Jadi aku sering bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang konsep adanya trauma; apa sih itu trauma.

Sebenarnya sudah bukan menjadi kata yang asing di kalangan kita, terutama anak-anak muda yang mungkin sering menggembar-gemborkan trauma cinta (aduh ngakak nulisnya). Tapi yang jelas trauma itu membuat orang-orang sulit membuka diri lagi setelah sesuatu terjadi.

Ternyata ini bukan hal alay atau berlebihan. Karena trauma tidak bisa dikatakan masalah ringan. Tergantung tingkat keparahan sih. Biasanya disebabkan oleh kejadian yang tidak menyenangkan, yang bisa menimbulkan jejak di memori. Seperti mengalami kecelakaan parah, hampir tenggelam, menyaksikan anggota keluarga dibunuh, pelecehan seksual, kekerasan di masa kecil, kehilangan seseorang, dan banyak lagi.

Aku baru sedikit belajar sih tentang psychoanalytic theory dan masih mencoba mencari tau jawaban ‘bagaimana ini terjadi’ pada pengamatanku terhadap orang-orang di sekitarku dan bahkan yang kualami sendiri tentang trauma.

Beberapa hari lalu aku menemukan alamat blog milik salah satu dosenku. Di sana ia menulis banyak hal yang luar biasa. Dalam salah satu tulisannya, ia membahas tentang trauma. Aku hanya menebak itu trauma yang disebabkan oleh kehilangan seseorang, karena dari diksinya sudah bisa disimpulkan. Tapi tulisan itu tetap bagus dan aku terkesan dengan kata-katanya, “Jika sejak awal kau sudah tak betah, kubebaskan kau. Terbang dengan bebas sama seperti mereka yang datang sebelumnya. Aku tak apa. Kau tau, baru-baru ini aku belajar soal trauma...”.

Di sini aku sedikit menemukan jawaban, dimana penjelasan tentang trauma yang dia peroleh di salah satu mata kuliah ‘Sastra Trauma’, begitulah ia menyebutnya, cukup menarik bagiku. Trauma asal mulanya berarti luka (luka fisik). Lalu kata ini mengalami penyempitan makna yang merujuk pada luka mental. “Menurut yang kupelajari hari itu, setiap manusia tumbuh dengan trauma yang membentuk bagaimana dia memandang hidup.” begitu tulisnya.

Professornya hari itu memberi contoh tentang jari kelingkingnya yang terluka. Dimana hari-hari berikutnya si professor waspada dengan segala hal dan aktivitas yang mungkin mengancam keselamatan jarinya. Meskipun hal itu hanya ilusi, tapi tetap saja menimbulkan pemikiran untuk selalu belajar pada apa yang telah terjadi dengan si jari kelingking sebelumnya.

Contoh nih, aku pernah baca kisah tentang seorang wanita yang sering gagal dalam pernikahannya pada akhirnya menjadi lesbi atau memutuskan untuk hidup sendiri saja. Karena ia beranggapan bahwa ia tidak membutuhkan cinta laki-laki dalam hidup, dan ia menganggap cinta hanya datang dan pergi saja. Secara tidak langsung, pemikiran si wanita yang merasa bahwa ‘paling nanti begini, ujung-ujungnya ditinggal lagi’ atau ‘paling kalau bosan diselingkuhi lagi’ itu adalah bentuk pengaruh dari trauma yang ikut campur dalam caranya memandang hidup.

Nah, karena penasaran dengan trauma, aku coba cari referensi dari beberapa teori. ”... that the mind confronted with an overwhelming experience tends to issolate the memories associated with this experience in specific areas of the brain that are inaccessible to conscious recall and (hence) integration into the subject’s ongoing narrative of his or her life history (Kolk, 1986)”

Jadi, menurut Kolk ini, trauma itu semacam pengalaman ‘berkesan’ yang akhirnya jadi memori dan mempunyai ruang ingatan sendiri di otak yang tidak bisa dijangkau oleh kesadaran. Intinya trauma itu tempatnya di alam bawah sadar. Dan si trauma ini mempengaruhi kehidupan selanjutnya dari si subjek. Kata berkesan tersebut lebih sering dikaitkan dengan makna negatif.

Ya mungkin si subjek ini setelah mengalami pengalaman ‘berkesan’ itu masih nampak baik-baik saja pada awalnya, karena ketika si subjek ‘mendiamkan’ hal tersebut, pengalaman itu perlahan-lahan mengendap di alam bawah sadar. Dan waktu sebenarnya tidak menyembuhkan apapun, ia hanya perlahan mengubur pengalaman di bongkahan es; Id (unconscious/alam bawah sadar), agar tidak timbul terus menerus di permukaan (realita), karena jika terus muncul hal itu dapat menghambat aktivitas dan kehidupan si subjek. Tapi ada kalanya alam bawah sadar itu karena saking banyaknya luka batin yang menumpuk, pada suatu titik bisa muncul dan ‘tumpah’.

Contohnya nih, seseorang bisa ‘meledak’ ketika kamu melakukan kesalahan kecil, yang andaikata kamu tidak tau bahwa hal itu menyinggung trauma di masa lalunya. Lalu kamu menjadi pelampiasan dan diperlakukan sebagai pelaku yang dulu membuatnya trauma. Kemarahan terpendam akibat kesalahan orang di masa lalu itu tertumpah ke kamu, gitu intinya.

Ini cuma to inform aja sih tentang psychoanalytic, karena ini bukan artikel ilmiah jadi aku belum bisa mengupas lebih dalam.

Mau cerita sedikit, beberapa minggu ini aku sedang berada di titik kesemuan. Ketakutan tentang trauma seperti di atas juga rasanya semu. Hanya sesaat saja takut, tapi selanjutnya aku memilih tidak peduli. Biasanya aku cerita ke teman-teman dekatku, kalau ada apa-apa atau merasa bagaimana, tapi sekarang aku sedang ingin menulis saja.

Dulu, kukira diriku mengalami trauma. Dulu, kukira hal paling menyakitkan adalah diselingkuhi, tapi sekarang pandangan itu berubah. Lelah rasanya, ketika berulang kali mengalami kejadian yang sama menyakitkannya sampai kau tidak bisa merasakan perasaan itu sendiri, sampai pemikiran tentang luka mulai tergerus. Aku sadar, ada banyak hal yang memicu hal-hal menyakitkan lainnya. Menurutku tergantung kesensitifan hati masing-masing orang. Pandangan itu tergeser oleh paradigma yang baru. Seperti konsep kenangan yang kupercaya; kenangan tidak bisa hilang tapi bisa diganti oleh kenangan-kenangan baru.

Oiya beberapa hari lalu aku belajar dari seseorang di internet yang memaparkan konsep bahwa hidup adalah permainan yang adil. Benar sih, kadang orang terlalu sibuk memikirkan peran sebagai korban, padahal dia juga pernah jadi pelaku.

Pada beberapa kejadian, bagiku cukup tidak tau diri sih, banyak orang termasuk aku, apabila tidak menilik what I have done entah pada siapa dan sibuk performing acts like I am a victim. Aku mencoba menghubungkan dengan konsep Karma (literatur Buddha) yang menyatakan that what you put out into world will come back to you.

Misalkan, ada wanita yang ditinggal seseorang yang pernah dekat dengannya, lalu si wanita ini merasa dirinya adalah korban. Tapi yang seharusnya disadari adalah, tidak menutup kemungkinan bahwa si wanita mungkin punya kesalahan yang sama; pernah meninggalkan seseorang, seperti yang ia alami saat ini. Hanya saja, berbeda posisi dan keadaan. Intinya koreksi diri tentang dosa apa yang telah diperbuat sehingga harus diingatkan dengan cara mengalami hal yang pernah dilakukan.

Banyak kasus tentang aku suka dia, tapi dia tidak, dan sementara ada orang lain yang suka aku, tapi aku tidak. Lalu pada akhirnya mengejar yang disuka seperti orang bodoh, dan meninggalkan yang menyukai seperti orang jahat. Kita semua pernah dan atau akan berada dalam posisi itu. Peran-peran kehidupan ini hanya saling bertukar tempat. Yang berbeda adalah respon seseorang dalam memeran peran itu. Jalani dengan hati tenang dan kepala dingin.

Aku percaya, dalam menghadapi masalah dengan orang lain entah nantinya dibicarakan atau tidak sama sekali, tetap harus mencoba mengerti. Ketegangan emosi membutuhkan waktu pemahaman terhadap keadaan secara perlahan-lahan, begitulah manusia; butuh waktu untuk berpikir dan memahami.

Tidak perlu diambil pusing, if someone / something meant to be with you, God will unite you with that person / thing


---

sekian dulu ya unek-unek dariku, btw sedih aku nulisnya, yang mau diskusi lebih lanjut bisa email aku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM