“KELAK KITA TUA NANTI”



“Kelak kita tua nanti, pak.” ucap seorang wanita paruhbaya di teras rumahnya. Ditemani sang suami yang mengelap sepeda motor tua khas tahun 90-an, sang istri duduk bersandar pada sebuah kursi anyaman. Kedua kulit tangannya menampakkan guratan-guratan otot yang bersembunyi dibalik kulit sawo matangnya.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia memijat-mijat paha yang terasa pegal, gerakan tangannya memutar. Sesekali pijatannya merembet ke area pinggang. Sering ia keluhkan sakit pinggang, kaki pegal-pegal, juga pusing.

Suasana pagi itu diliputi debu, udara kotor merayapi kulit keriput mereka. Kepul teh hangat yang tersaji di atas meja kini telah bercampur debu, sudah tidak layak minum. Barangkali ketela pohon yang sempat ia angkat dari penggorengan setengah jam lalu pun sudah dilumuri debu jalanan.

“Bapak ingat tanah kita yang ada di samping rumah Bu Sulastri?”

Tanpa menunggu jawaban sang suami, sang istri melanjutkan kalimatnya. “Menantu kita akan pulang membawa mobil mewah, lalu mengajak kita untuk mengunjungi tanah kita itu.”

Ia menutup gelas berisi teh tawar yang sudah dingin, lalu menggesernya ke dekat piring berisi ketela pohon. Kakinya yang agak gemuk ia silangkan, membuat daster yang ia kenakan agak terlipat ke atas.

“Menantu kita akan menjadi perhatian para warga karena ia kaya.”

Agaknya sang suami tidak tertarik dengan pembicaraan sang istri, ia sedari tadi sibuk menggosok bodi motor, sambil sesekali menghisap rokok. Namun kedua mata sang istri tetap memancarkan semangat.

“Aku sudah bilang pada Bu Sulastri untuk merobohkan saja gubuk nenek yang masih berdiri di atas tanah kita itu. Lalu menantu kita akan membangunkan rumah untuk kita, tidak perlu besar, yang penting nyaman.”

Kedua tangan sang istri bergerak-gerak seolah menggambar denah rumah tak kasat mata. Dalam pandangannya rumah itu berdinding beton, bercat biru, dengan dua kamar tidur, ruang tamu kecil, dapur sederhana, dan kamar mandi ukuran sedang.

Ia begitu tertarik dengan model rumah yang diceritakan Bu Sulastri satu bulan lalu. Ia bahkan telah meminta anak Bu Sulastri yang seorang arsitek agar bersedia membuatkan denah rumah sederhana untuknya.

Kerutan di sekitar matanya bergerak naik, ia tersenyum membayangkan betapa indahnya rumah itu untuk hidup berdua dengan suaminya, sementara rumah yang ia tempati sekarang akan ia wariskan kepada putri satu-satunya, Marni.

Ia ingin menghabiskan sisa usia di tanah petak di samping rumah Bu Sulastri. Karena tanah itu adalah warisan dari orang tuanya, dimana ia menghabiskan masa kecil di desa. Ia sangat rindu udara dingin pegunungan yang diam-diam merasuk lewat selimut. Sering ia terbayang kabut-kabut yang turun dari puncak gunung, dengan dirinya yang berdiri di pinggir tebing desa, tempat dimana ekspoitasi tambang pasir dihentikan.

“Coba tahun depan bapak mencalonkan diri jadi kepala desa lagi.” usul sang istri, ia menggeser posisi duduknya menghadap sang suami.

“Bapak nggak punya uang bu, tidak bisa mencalonkan diri.” jawab suaminya sambil melirik istrinya, “nggak punya uang sama saja mempermalukan diri sendiri, bu.”

Istrinya cemberut. Dari mimik wajah kesalnya tergambar kekecewaan akan harapan yang tidak mungkin dikabulkan sang suami. Ia lalu menyeruput teh tawar yang telah tercampur debu, membuatnya sedikit tersedak.

Garis wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kecantikan, meski kini telah mengendur oleh usia. Dalam keadaan yang sedemikian rupa, sang istri kerap mengangankan masa mudanya yang memilih menikah dengan laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Ia kadang bertanya pada dirinya atas pilihannya sendiri. Betapa indahnya dulu, saat suaminya begitu mencintai dirinya saat mereka masih muda.

“Seandainya bapak jadi kepala desa, pasti kita punya banyak uang untuk membangun rumah di samping rumah Bu Sulastri,” ia bersandar kembali pada kursi tua itu, “lalu setelah bapak pensiun kita akan membuka warung kecil di depan rumah. Nanti pohon mangga di tanah itu kita tebang, kemudian kita mendirikan warung.”

“Kata Bu Sulastri, kelak kita tua nanti, anaknya di desa bersedia menjaga kita seperti keluarga sendiri.”

“Lah lah. Apa iya bu.” cibir sang suami, ia menghisap rokoknya kuat-kuat, lalu membuang puntung rokoknya ke selokan.

“Lha iya to pak. Kita bisa menikmati masa tua kita tanpa perlu bersusah payah.”

Suaminya tidak menggubris perkataan sang istri, ia melemparkan pandangan ke jalanan sempit depan rumah. Tetangganya yang wira-wiri tidak ada yang menyapa. Mereka terburu-buru dengan urusan masing-masing, tidak sempat berkata hai pada tetangga yang melongo di depan rumah pada pagi hari.

“Bu, Marni berangkat ke rumah Pak Willem lagi hari ini, masih banyak cucian.” kata putrinya yang muncul dengan daster hijau bunga-bunga. Ia bersiap pergi ke rumah majikannya.

“Eh anak prawan ibu sudah mau berangkat kerja,” katanya mengusap lengan putrinya dengan lembut, 

“Hati-hati di jalan ya, nduk. Nanti ibu nyusul, punggung ibu masih sakit kalau harus mengangkat karung beras di gudang.” katanya mengulurkan tangan, disambut oleh ciuman hangat putrinya.

“Kelak kita tua nanti, bu.” ucap sang suami pelan, “tolong berhenti menyesaliku.”

Sang suami segera mengambil topi yang menggantung di tiang rumah. Ia telah selesai memanasi motor, siap mengantar Marni ke rumah Pak Willem.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM