SOFHI

: Apa itu suci?

Semula ia kira hanyalah mimpi, ruangan terang dengan pernak-pernik elegan dan beraroma wangi. Sofhi mengerjap beberapa kali, mengembalikan kesadaran diri. Agak pusing kepalanya mengingat apa yang terjadi terakhir kali hingga ia terdampar di ruangan ini.

Seketika matanya membulat lebar, ia ingat apa yang menimpanya menjelang petang tadi. Terduduk di atas tempat tidur dengan selimut tebal yang menutupinya, buru-buru ia memeriksa pakaian yang menempel di tubuhnya, masih sama. Jantungnya berdegup cepat melihat kaos dan celana pendek yang menumpuk di sampingnya. Itu pakaian pria!

Apa yang telah Mona lakukan padanya? Apakah wanita itu menjualnya?

Gadis desa itu melompat dari tempat tidur, hendak keluar ruangan namun pintu itu terkunci. Dan ia tidak tahu berada dimanakah dirinya sekarang. Mungkinkah ia masih satu lokasi dengan pesta para bule yang sempat memuji kecantikannya, atau sudah berganti tempat.

Ketika Sofhi sibuk berpikir, tiba-tiba ia melihat sebuah tempelan nama. Nama sebuah hotel mewah di kota kapital, di negeri empat musim ini. Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang dari luar sedang memutar kenop pintu. Sofhi menjauh dari tepi pintu sambil berusaha menerka siapa yang akan muncul di hadapannya. Saat seseorang itu masuk, Sofhi buru-buru mengambil jam digital di atas meja, bersiap melakukan perlawanan.

Seorang laki-laki berambut pirang masuk sambil tersenyum. Ia mengenakan kaos berwarna merah muda dan celana jeans berwarna putih, sambil menenteng tas hitam dan meletakkannya di pinggir pintu.

Sofhi menatapnya waspada, tubuhnya bergetar, kakinya melemas, gemuruh di dadanya tak juga reda. Ia tergulung dalam segala kekhawatiran.

Good night.” ucapnya lalu melepas sepatunya.

Bibir Sofhi ingin menyumpahi laki-laki di depannya, namun lidahnya kelu menghadapi orang asing. Bolamata Sofhi tak lepas dari gerak-gerik laki-laki pirang itu. Namun si pirang tidak menghiraukan ketakutan di wajah Sofhi, dengan santai ia menyandarkan kepalanya pada sofa.

You are so pretty tonight.” katanya dengan tatapan mata yang menginterogasi penampilan Sofhi dari atas ke bawah, “can you come closer? Let’s talk.” ia menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

Sofhi menggeleng, kedua tangannya menyilang di depan dada, airmatanya menetes.

“Who are you?” suara Sofhi bergetar.

Hey, why are you crying?” laki-laki pirang itu menatap cemas, ia berdiri hendak mendekati Sofhi.

“Who are you?!” kata Sofhi setengah berteriak, ia melempar sepatu yang ia pakai, tepat mengenai lengan laki-laki pirang itu.

“Mark, Sofhi.”

“What will you do to me?”

Sofhi mengarahkan pandangannya ke segala arah, mencari celah untuk kabur. Tidak ada jalan kecuali pintu tempat laki-laki pirang tadi masuk. Bahkan jendela yang terbuka di sebelah kanannya tidak cukup meyakinkan. Ia tidak tahu berada di lantai berapa sekarang.

Kedua mata Sofhi semakin liar penuh kewaspadaan. Nafasnya memburu, yang ada dipikirannya hanya kabur dari ruangan itu.

I won’t do something bad to you. Just relax.. I just want to..”

”Stay away from me!” Sofhi melempari laki-laki itu dengan botol mineral yang bisa dia raih, ketika Mark melangkah mendekatinya.

Gadis itu tidak bisa mengontrol emosi. Merasa terancam, ia berlari mengintari ruangan sambil melempar segala benda ke arah laki-laki pirang.

Namun sejauh apapun Sofhi berlari, Mark mampu mengejarnya. Sekuat apapun tenaga yang Sofhi miliki, tetap tidak cukup menandingi kekuatan Mark yang berbadan kekar.

Mark menangkap Sofhi lalu mengunci kedua tangannya. Menghimpit gadis itu pada tembok putih nan dingin. Tangisnya kian menjadi, dadanya sesak tak karuan, semua harapan akan masa depan yang cerah hancur sudah. Semua tak berjalan seperti apa yang ia rencanakan.

Seketika Sofhi teringat akan ayah ibu di kampung. Pikirannya melayang pada hari ketika ia di bandara, hendak berangkat ke negeri ini. Ayah dan ibu memberinya uang saku tambahan hasil menjual ayam kesayangan Dika, adiknya. Kedua wajah keriput itu muncul di langit-langit kamar hotel mewah itu.

Penuh sesal hati Sofhi merutuki kemalangan nasibnya. Orangtua di kampung berharap ia menjadi orang sukses di negeri orang. Tapi kini, Sofhi telah menjadi anak yang tidak bisa menjaga harga diri.
Sofhi menggerak-gerakkan kepalanya, ingatan-ingatan itu begitu menekan batinnya. Semua ingatan di tanah air meledak dalam satu waktu, bergantian mengisi pikirannya saat ini. Ia teringat muridnya yang pernah ia ajar, saat Sofhi masih bekerja sambilan di tempat les. Bayangan mereka muncul tepat di binar matanya.

Sofhi mulai terngiang nasehat yang kerap ia ucapkan pada murid-muridnya. “Jangan mau direndahkan orang lain, apapun alasannya. Kalian itu punya hak mutlak atas diri sendiri.” Katanya ketika murid-muridnya hendak menghadapi ujian kelulusan. Tetapi dunia memang penuh kemunafikan, nyatanya guru les mereka malah menjadi orang yang tidak bisa melaksanakan nasehat dari ucapannya.

Di tengah dadanya yang bergemuruh hebat, ia juga merasakan sakit karena telah mengkhianati perasaannya sendiri. Sofhi telah menggadaikan dirinya, dan meninggalkan seseorang yang ia cintai. Laki-laki di tanah air yang ia perjuangkan setengah mati, yang ia sayangi setulus hati. Ia khawatir, apa yang ada di pikiran laki-laki yang dicintainya itu apabila mengetahui Sofhi membiarkan dirinya disentuh laki-laki lain.

Kerinduan akan semua kebahagiaan dan harapan saat masih menghirup oksigen asli tanah air kini telah berganti ruangan hotel mewah di negeri orang dengan aroma wangi di sana sini. Pemandangan alam yang menakjubkan berganti dengan tembok putih dan kerlip lampu kota yang terlihat dari balik jendela.

 “Kamu bisa pergi ke Spanyol, Amerika Serikat, Italia, atau melihat perayaan Hanami di Jepang.” kata Mona, tetangganya yang baru pulang dari Jerman. Sudah puluhan tahun ia merantau ke luar negeri. Ia sudah bisa membeli barang-barang mewah, mencukupi kebutuhan ayahnya yang sudah tua, membangun rumah, dan segala kemakmuran di rumahnya, di desa.

“Wah, keren ya mbak. Kalau begitu setelah lulus kuliah aku mau diajak pergi denganmu ke luar negeri,” ucap Shofi hari itu, saat Mona berkunjung ke rumahnya,

“nanti kalau pulang dari luar negeri, aku mau mengajak ayah dan ibu naik haji. Lalu kita sekeluarga pergi jalan-jalan.” tambahnya, saat tetangga sebelah rumahnya pergi berwisata mengajak semua tetangga yang lain kecuali keluarga Sofhi.

Memang saat itu kasta sosial keluarga Sofhi tidak sederajat dengan mereka. Orang-orang sering merendahkan keluarga Sofhi baik segi ekonomi maupun sosial. Harta ternyata masih menjadi raja atas kehidupan masyarakat. Sejak itu ia bertekad mengubah nasib keluarganya, dan menunjukkan pada semua orang bahwa ia akan melampaui mereka.

Dan tibalah hari yang ia sesalkan sampai saat ini. Sofhi membenci dirinya sendiri, ia sudah membiarkan harga dirinya jatuh menukik lalu terinjak-injak.

“Kayaknya kamu lepas jilbab aja deh.”  kata Mona.

Awalnya Sofhi menolak mentah-mentah perkataan Mona malam itu. Ia tidak mau menggadaikan penutup auratnya. Namun Mona mengancam keselamatan keluarganya di kampung, hingga Sofhi terpaksa menuruti kemauannya. Lalu Sofhi diberi pakaian-pakaian minim, rok pendek, bermacam-macam alat make up, dan diajari berdandan.

Mona telah mengubah sang gadis desa lugu menjadi gadis malam yang cantik jelita.

Untuk pertama kali, Sofhi diperkenalkan dengan gemerlap dunia malam. Ia kerap diajak ke tempat dimana Mona bertemu teman-temannya, yang sama seperti Mona; berdandan nakal dan menyukai pesta. Gadis itu sering termangu menjauh dari keramaian, ia tidak seberani Mona yang ‘menempel’ pada laki-laki ‘asing’ untuk mendapatkan hati mereka demi uang dan perjalanan ke berbagai Negara.

Semua ini tidak seperti apa yang Sofhi kira; bekerja di luar negeri dengan harapan bisa menerapkan ilmunya yang didapat di bangku perkuliahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa kabur dari Mona, ia khawatir akan keselamatan keluarganya. Mona cukup terkenal di desa, ia punya banyak teman preman. Ditambah dirinya yang kehabisan uang, tidak mungkin ia melakukannya seorang diri.

Yang bisa Sofhi lakukan saat ini adalah menunggu Mona mengajaknya pulang ke tanah air dan berjanji tidak akan ikut dengannya lagi. Sebanyak apapun Mona memamerkan kesuksesannya, Sofhi sudah tidak tergiur. Namun kepulangan itu rasanya masih sangat lama, atau bahkan tidak mungkin.

Laki-laki pirang yang mengunci tangannya menatapnya dalam. Lingkar bolamata biru itu seolah tenggelam dalam tangisnya.

Why do I have to face this fate. I broke my dreams into pieces. I have betrayed my parents’ prays and hopes.. I miss them,”

Kedua tangan Sofhi melemas pasrah. Perlahan, cengkeraman laki-laki pirang itu mengendur. Kini gadis itu berani menatap manik biru di hadapannya, menyadari bahwa meskipun ia tampan namun Sofhi tidak akan pernah rela menyerahkan dirinya.

Sesaat laki-laki itu terpaku pada bibir Sofhi yang bergetar, lalu beralih menatap mata coklat yang memancarkan mimpi-mimpi masa muda yang belum terwujud. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dan menarik Sofhi kepelukannya.

“I don’t mean to destroy you, baby,” kata si laki-laki pirang.

Sofhi menghirup aroma parfumnya yang wangi. Sesaat kemudian, si laki-laki pirang melepas pelukannya, lalu merogoh smartphone dari saku celananya.

Ia menunjukkan sebuah foto.

I need your help. Please, introduce me to him. He looks attractive, doesn’t he..” katanya sambil senyum malu-malu.

Sofhi membulatkan matanya lebar, menatap ekspresi jatuh cinta si laki-laki pirang, lalu dahinya berkerut.

Ia kenal dengan seseorang di foto itu!

Mona’s boyfriend.” lirih Sofhi.



-Penulis
nb : hmmmmmmmmmmm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM