BERDISTRAKSI
BERDISTRAKSI
: Kau adalah pemuja dirimu
sendiri
Aku masih belum beranjak dari cermin besar ini. Masih
kupandangi sosok yang terpantul di sana. Berdiri dengan sedikit terbungkuk,
dengan mata sayu, hidung yang biasa saja, juga bibir yang warna lipstiknya mulai
pudar. Kata orang ini adalah wajah yang manis. Kata orang ini adalah sosok yang
tegar, yang sangat ceria, hingga orang memanggil kepribadian sosok ini sebagai
ekstrovert. Hanya saja orang-orang tidak tau rahasia dibalik itu semua. Mereka
tidak tau jika di malam hari hingga pagi menjelang, sosok ini berdiri di depan
cermin. Tafakur menatap dirinya sendiri. Mengulur waktu hingga fajar, sebelum
ia kembali menyunggingkan senyum seperti biasanya. Sebelum ia memakai kembali
topeng ekstrovertnya.
Aku.. adalah manusia paling sombong di dunia ini. Aku paling
lemah di antara mereka, hanya saja mereka tidak tau. Bahkan sosok di depanku,
yang terpantul dari cermin ini, mengatakan bahwa aku ini masih belum apa-apa.
“Kau belum cukup cantik untuknya, kau belum cukup baik. Kau
masih buruk sehingga dia pergi.” Begitu terus sosok itu merasuki pikiranku
sejak petang menjelang. Sekarang sudah hampir pagi. Belum bosan aku memandangi
sosok itu.
Ia menghirup nafas panjang, menirukan gelagatku. Hingga
cermin di depanku basah oleh hembusan nafasku. Berulang kali kuhirup nafas
panjang lalu menghembuskannya, dalam dan panjang. Aku jadi tidak bisa melihat
dengan jelas sosok yang ada di balik pantulan cermin. Sudah tertutup hembusan
nafasku.
Kutarik garik vertikal di atas cermin, kini aku bisa melihat
indah matanya. Namun di bolamata coklat yang indah itu tidak menampakkan
kebahagiaan. Hah bahagia? Itu hanya tipuan. Di luar sana, mata coklat ini ikut
tersenyum indah. Namun ia tidak mempercayai, tidak pula merasa bahagia. Karena
mata ini tidak bisa membohongi sang pemilik, “Kau tidak boleh bahagia, nanti
kecewa.”
Aku memang sombong karena tidak mau dan takut mempercayai
orang lain. Kuketuk-ketuk cermin ini. Ketukan berirama yang cukup memecah
keheningan di ruangan ini.
“Tidak boleh. Jangan percaya
pada orang lain. Hanya dirimu sendiri yang pantas kau percayai.” Seutas senyum
sedikit terlihat dari bayangan sosok yang pantulannya di cermin tersamarkan
oleh uap nafas yang masih menempel. Sedikit menguap dan mulai menjadi titik air
yang mengalir perlahan.
“Dirimu tidak akan membohongimu. Tidak akan mengecewakanmu.
Kau hanya mempunyai dirimu sendiri, sejak lahir hingga mati… kau sendirian.”
Tangan kananku mengusap cermin
perlahan, memperlihatkan sosok wanita yang terpantul di cermin. Wajah dengan
guratan senyum yang masih terlihat di sudut bibirnya, juga pandangan sayu itu… “Percaya
padaku karena orang lain hanya akan menyakitimu.”
Aku mengangguk pelan ketika sosok itu kembali merasuki
pikiranku..oh tidak.. dia sudah mulai menguasai batinku pula. Ah tidak apa-apa,
setidaknya aku tidak akan hilang. Hilang.. seperti orang-orang yang juga
hilang..
Sejenak aku menunduk, meratapi sudah berapa banyak aku
kehilangan orang-orang tersayang yang pergi dari hidupku. Ada banyak alasan
pula tentunya. Lalu.. aku memandang dinding di depanku, tempat dimana cermin
besar tergantung. Ia tampak dingin dan menyedihkan. Aku bisa merasakan uap
dingin yang mengudara di atasnya. Ia pasti kesepian.
Ah, sepi. Sepintas aku tidak asing dengan kata itu. Sekilas aku
merasa akrab dengan kata itu. Dulu pernah ada orang yang mengatakan padaku
bahwa bepergian seorang diri itu menyedihkan. Ah dasar orang tidak tau!
Dia tidak memahami saja bahwa di dalam kesendirian ada
keriuhan, ketenangan, dan banyak perasaan yang lebih terasa saat kau sendirian.
Banyak hal di dunia ini yang sangat disayangkan jika tidak dirasakan sepenuh
hati.
Aku memandang keluar jendela, mengabaikan sang cermin yang
sebenarnya masih ingin kutatap. Namun bulan di luar sana sangat menggoda. Aku tidak
perlu mengucap kata untuk merasakan keindahannya. Hanya tersenyum…
“Bulan juga sendiri.. dia tetap indah. Dia juga sendirian..”
sosok di cermin itu membuatku menengok. Ia menatapku nanar. Benar juga, aku
lebih nyaman sendirian. Mengurung diri di kamar seperti ini, hanya memiliki
diriku sendiri itu sudah cukup bagiku. “Sakit rasanya jika harus berkorban
untuk orang lain, bukan? Kau menyakiti dirimu sendiri, kau menghancurkan hatimu
sendiri untuk orang lain yang baru saja ada di hidupmu. Nonsense.”
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Kau benar.” Namun tiba-tiba
dahiku berkerut setelah berpikir agak lama. “Tidak, kau tidak antisosial. Kau hanya
suka sendiri. Itu saja.” Sosok di cermin itu menjawab lagi, padahal aku belum
sempat mengucapkan pertanyaan apapun.
“Tidak, kau juga tidak berarti
terkucilkan.” Ia menjawab lagi. Sungguh, sosok di cermin ini sangat mengerti
diriku. Siapa pula yang akan mengerti aku jika bukan sosok di cermin ini?
“Anna, waktunya minum obat nak!” teriak sosok lain di balik pintu kamarku sambil menggedor-gedor pintu itu.
Ah, tentu aku adalah orang yang
sangat sombong.
“Aku tidak butuh obat gila
itu!!” tanpa sadar kepalaku menghantam cermin.
-Penulis: YunitaR
Komentar
Posting Komentar