Wanita itu
Anakku Raditya Chandra adalah bocah SD yang selalu ingin tau. Ia kerap bertanya padaku mengenai sesuatu yang baru ia pelajari.
Beberapa kali ia mengusikku di tempat tidur dengan membawa buku-buku yang baru dibacanya.
Hari ini dia mengetuk pintu kamarku dan menemukan diriku tengah duduk menatap keluar jendela.
“Mama, aku menemukan buku cerita baru dari perpustakaan nenek di lantai dua.” katanya sambil menunjukkan sebuah buku kumal bersampul coklat muda.
Aku menarik Radit untuk duduk di pangkuanku, lalu kusisir rambutnya dengan jariku.
“Biar mama yang bacakan.” kataku lalu kubuka lembar pertama.
Aku tertegun sejenak.
“Mama, kenapa buku cerita ini ditulis dengan tulisan tangan?” Radit menunjuk-nunjuk tulisan itu.
“Mama bacain ya.. ini kisah tentang seorang gadis.” Jawabku sambil tersenyum.
*
Bulan Desember
Kemana harus kucari. Adakah dirimu di tempat parkir mall, di kedai pinggir jalan, ataukah di area taman kota. Sejauh apalagi aku harus melangkah.
Sudah banyak kilometer yang kulalui. Semua tempat yang biasa kau datangi, sudah kujajaki. Aku terhempas ke daerah antah berantah.
Toko buku adalah tempat pertama yang kudatangi hari ini. Aku berkeliling seperti biasa. Tak terlalu ramai, hanya ada beberapa karyawan yang sedang menata buku dan beberapa pelanggan.
Aku melihat-lihat buku di deretan ‘novel impor’. Kau selalu suka novel semacam itu. Aku berjalan melewati rak itu, masuk di antara deratan demi deretan rak lainnya.
Dan berhenti ketika kulihat seorang laki-laki dengan topi hitam sedang membuka halaman awal sebuah buku. Ia berdiri membelakangiku. Dengan penuh suka cita, aku menghampirinya. Kutarik lengannya, namun..
“Eh, maaf mas salah orang.” Kataku lalu tersenyum.
Beranjak dari toko buku, aku menuju kedai ayam kampung di seberang jalan.
Seseorang dengan baju kotak-kotak nampak sedang menunduk di meja makan. Motif pakaian itu tak asing bagiku. Masih jelas dalam ingatanku ia sering memakai kemeja dengan motif kotak-kotak. Kudekati ia, lalu kutepuk pundaknya. Ia dengan tersentak menatapku bingung.
“Mbak siapa ya?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tanganku, “Maaf.”
Lalu datang seorang wanita paruh baya, ibu si pemilik kedai.
“Ngapain kamu di sini? Pergi sana, nakut-nakutin pelanggan saya saja. Dasar wanita gila!” kata ibu itu sambil mendorongku keluar kedai.
Ia menghempas-hempaskan lap putih yang tadi menggantung di lehernya.
Aku mengusap keringat yang menetes di dahiku. Aku masih belum menyerah. Siang itu kususuri jalan yang biasa kulalui selama satu tahun terakhir.
Tak terlalu ramai seperti biasa, namun cukup panas. Membuat perasaanku makin mendidih. Tiba-tiba sebuah sepeda motor merah melintas di depanku. Sepeda motor yang sama persis dengan sepeda motor yang pernah ia pakai untuk mengantarku pulang. Suaranya yang unik, dan…
Pengendara motor merah itu mengenakan tas hijau dan helm hijau. Tak perlu menunggu lebih lama lagi, aku langsung mengejarnya.
Beruntung laju motor itu lambat, dan aku dengan cepat menyergap lengannya. Ia terjatuh ke sisiku dan aku sempat menghindar.
“Kamu itu mau bunuh saya, ha?”
“Maaf mas, salah orang.” kataku setelah mengetahui dia bukan orang yang kucari.
Aku hendak melangkah pergi, namun dia mencengkeram kerah bajuku. Sebuah kepalan siap mendarat di wajahku.
Aku memejamkan mata dan dalam hitungan detik, kepalan itu hanya menyenggol daguku.
Rupanya seseorang barusaja menarikku mundur. Dan ketika aku membuka mata, para warga berlari ke arahku. Aku dengan segera menghempaskan tangan orang yang tadi menarikku, lalu lari sekencang mungkin.
“Dasar wanita gila!” teriak kerumunan itu.
Aku pun pergi ke area kos laki-laki di sebelah barat perpustakaan kota. Selalu aku awali dengan mengetuk pintu merah dengan nomor empat. Namun tak ada yang menyahut.
Lalu aku akan berjalan menyusuri lorong setiap kamar sambil melihat kanan kiri, ke bawah, siapa tau dia meninggalkan sandalnya di sini.
Dan pencarianku di area itu akan berakhir ketika sekumpulan remaja laki-laki menggodaku atau pak kos menyiramku dengan se-embar air bekas cucian.
Dan pencarianku akan berakhir di pusat perbelanjaan. Mall ini adalah mall terdekat di kota kecilku. Aku sering ke sini dengannya pada akhir pekan. Kami biasa berkeliling naik turun eskalator. Hanya berjalan-jalan, kadang ia menemukan hal unik di sekitar kami lalu menunjukkannya padaku.
Ia juga menemaniku menyusuri lorong gelap, menungguku yang sedang berdandan di kamar mandi, kami (atau hanya aku yang merasa) memiliki satu sama lain.
“Ma, kenapa wanita itu memakai kebaya di hari biasa?” kata seorang anak kecil,
“Kenapa dia sendirian, mana rombongan pengantinnya?”
Aku melirik anak dan ibu yang berdiri tak jauh dariku. Si ibu melihatku sekilas, lantas menggendong anaknya dan berjalan melewatiku.
“Hsstt, dia orang gila nak.”
Ia mendekap anaknya dan menghindari kontak mata denganku.
Kesabaranku mulai habis hari ini.
“Tidaaaaak! Aku nggak gila! Aku bukan orang gila!”
Aku berteriak di dalam mall itu.
“Aku nggak gila. Lihat, aku mencari seseorang,”
Aku mengambil sebuah foto yang terselip di lipatan rok batikku.
“aku… aku mencari dia.” Suaraku meredam di antara riuh pengunjung.
Kutatap pasang demi pasang mata, mereka memandangku dengan tatapan yang biasa kuterima. Lalu seorang bapak berjalan di depanku dan aku menghampirinya.
“Bapak pernah lihat orang ini?” namun bapak itu menggeleng dan langsung lari ketakutan.
“Mbak, mbak pernah lihat orang ini?” wanita itu bahkan tak meresponku.
Setiap orang di dekatku, kutanyai dengan pertanyaan yang sama. Lagi-lagi mereka lari terbirit-birit. Aku menyeka airmata yang perlahan menuruni pipiku.
Berat sekali mencari dirimu.
“Aku tidak gila..” ucapku pelan.
Ingatanku tentangnya melebur dengan kesedihan ini, menyeretku ke lembah putus asa.
“Aaaa!” lengkingku, ”tidak adakah orang di dunia ini yang tau keberadaannya?” teriakku, suaraku menyebar ke sekeliling, ke telinga orang-orang yang memandangku.
Lalu seorang pemuda dengan topi hitam, baju kotak-kotak, dan tas hijau datang menghampiriku. Aku menatap seolah tak percaya.
“Sebaiknya mbak segera pergi sebelum satpam datang mengusir mbak.” katanya.
Ia menarik kebaya putihku, aku meronta-ronta.
“Tidak! Aku tidak akan pulang.. kamu nggak ngerti!”
“Biarin aja mas. Biar saya panggilin satpam, orang gila itu biasa mengacau di sini.” Kata seorang ibu dengan tas merah, ia mencibirku dari tempatnya berdiri.
“Aku nggak gila, bu… aku nggak gila, mas. Aku cuma nyari orang ini, aku mau nikah sama dia.” Kataku sambil menahan dadaku yang mulai terasa sesak.
Laki-laki itu menatapku beku. Guratan di sisi bibirnya sedikit bergerak mangamati foto yang kubawa. Namun Ia membisu, dan hanya mematung sambil sesekali membenarkan posisi tas hijaunya.
Ah siapa peduli dengan orang-orang itu.
Sungguh, aku benar-benar merindukan Arman. Aku tidak tau lagi bagaimana mengungkapkannya.
Jika saja orang-orang merasakan jadi aku sebentar saja, hanya agar mereka tau rasanya sendirian, putus asa, teramat rindu, dan hilang.
Aku menangis di lantai itu, tak peduli pada apa yang mereka lihat. Aku sudah biasa jadi tontonan, bahkan beberapa orang yang biasa melihat memilih untuk menjauh.
Pada siapa lagi aku harus bertanya, mengapa mereka tak mau menjawabku.
Hingga seorang satpam datang lalu menyeretku keluar mall.
Aku meronta ketika satpam itu mencengkeram erat tanganku lalu mendorongku di halaman mall. Namun sikap mereka semua belum membuatku menyerah, masih banyak orang yang bisa kutanyai.
“Pak, pernah lihat orang ini?” tanyaku pada pak satpam ketika ia melepaskan cengkeramannya.
Ia menghelas nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sambil membenarkan topinya, ia berkata,
“Pulang dan berhentilah mencarinya, saya capek ngusir mbak setiap hari. Orang ini sudah meninggal satu tahun lalu, mbak.”
Aku mematung, lalu menyeringai.
Kau bercanda? Aku tidak gila, kan.
*
Kututup lembar terakhir dalam buku itu. Sebenarnya masih ada banyak lembaran kosong, namun si penulis hanya menuliskan satu kisah.
Mungkin buku ini memang khusus untuk menuliskan kisah gadis itu.
Radit mengernyitkan dahi,
“Apa yang terjadi dengan wanita itu, Ma? Apa dia benar-benar gila?”
Aku tersenyum menatap putraku yang ingin tau.
“Kata orang, dia akhirnya mengadopsi bayi dari panti asuhan. Namun ibunya marah karena ia memungut bayi dan memasungnya di kamar. Kasian sekali dia, nak.”
“Tapi aku lebih kasihan bayinya, Ma. Apa dia masih minum susu?”
“Tentu, nak. Bayi itu baru berumur seminggu.”
“Lalu wanita gila itu yang memberinya nama?”
“Iya, nak. Namanya Raditya Chandra.”
SELESAI
Komentar
Posting Komentar