ALUR




Segelas Strawberry Queen Milkshake dan Vanilla Princess Milkshake menemani obrolan sore ini di saat hujan turun rintik-rintik. Aku sempat tersesat sebelum sampai ke tempat ini. Sejak dulu aku memang sulit untuk menghafal jalan.

 

Pertemuan hari ini seolah menamparku. Aku jadi memikirkan tentang hal yang seharusnya kupikirkan sejak dulu, ketika sahabatku, Ratna memulai pembicaraan serius.

 

Entah aku ini manusia jenis apa. Aku bahkan tak mengerti tujuanku hidup di dunia ini. Apakah hanya beribadah saja, selalu berjalan lurus, menjadi orang yang baik. Ah, kurasa tidak. Lalu untuk apa aku diciptakan dan menjadi seorang manusia di dunia ini. Apakah hanya untuk mengisi lahan kosong di bumi. Apakah untuk menciptakan peradaban manusia yang terus berevolusi, saat satu tujuan dalam suatu masa diselesaikan, memunculkan tujuan baru hingga terus berevolusi tiada batas.

 

Bahkan untuk hal sederhana seperti mengapa obat anti-serangga diciptakan, aku tak mengerti. Masalahku singkat namun serumit rumus matematika. Bicara tentang matematika, aku juga tak mengerti mengapa diciptakan matematika dan harus mempelajarinya sepanjang sekolah. Padahal yang dibutuhkan ketika bekerja hanya beberapa rumus saja. Ah, barangkali jawabannya lebih dari itu, agar manusia terbiasa menghitung misalnya.

 

“Jadi menurutmu bagaimana membuat orangtua kita bahagia?” tanya Ratna padaku.

 

Ia membuyarkan pikiranku yang melayang. Aku mengerjap beberapa kali, mengembalikan kesadaranku.

 

“Mengajak mereka berbelanja mungkin,” aku menyendok es krim yang mulai mencair, “lagipula kau kan sudah bekerja.”

 

“Tapi tetap saja kurang. Aku merasa belum melakukan apapun untuk mereka,” gadis bertubuh gemuk itu membuang pandangannya ke jalan raya. Hiruk pikuk kendaraan melipurnya sejenak.

 

“pernahkah kau memikirkan sesuatu yang sederhana namun berdampak besar? Sebuah keputusan mungkin.”

 

Aku bungkam, melirik Ratna sekilas. Gadis ini sudah mulai dewasa rupanya. Padahal dulu saat masih SMA, yang ia tahu hanya bersantai sambil memainkan ponselnya. Duduk di pojok kelas, sesekali tertawa menatap layar ponsel. Atau pergi ke kantin dan membeli banyak makanan. Kadang ia juga membolos pelajaran dan tidak mengerjakan pr.

 

Apa hari ini ada tugas?” tanya Ratna dengan wajah polos.

 

Teman-teman yang sedang menyalin pr-ku tak menggubris pertanyaan Ratna, ia sudah biasa bertanya tanpa rasa bersalah seperti itu, tidak ada yang heran. Buru-buru ia mengikuti teman-teman yang lain menyalin pr-ku, padahal bel masuk sudah berbunyi.

 

Tak terasa kami telah lulus dari SMA. Yang kata orang-orang adalah masa paling indah. Ah, tidak juga. Aku kembali kalut dalam pikiranku. Seolah memutar kembali memori satu tahun yang lalu. Apasaja yang telah kulakukan, apa yang telah kucapai, sudahkah aku membuat orangtuaku bahagia.

 

Aku keluar dari pekerjaanku,” kataku di depan kedua orangtuaku.

 

Aku berjalan melewati ruang tamu, tak berani menatap wajah mereka. Tak tega memperhatikan punggung yang dulu tegap kini telah membungkuk atau melihat kulit mereka yang mulai berkerut. Aku takut menghadapi kekecewaan mereka padaku.

 

“aku lelah dengan pekerjaan itu.” kataku sebelum masuk ke kamar.

 

Kupijat kakiku yang hampir mati rasa. Seharian berdiri di toko dan kadang pergi ke gudang untuk mengangkat barang-barang, bukanlah pekerjaan yang cocok denganku. Pernafasanku terganggu setiap aku masuk ke gudang, tempat berdebu dan penuh barang-barang berat. Tak bisa kubayangkan badanku setengah tahun kemudian jika aku betah bekerja di sana, kuruskah atau berototkah.

 

Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Ratna, ia telah menghabiskan es krim vanilla-nya

 

“Lancar.”

 

“Aku juga ingin kuliah, tapi…” ia menatap langit-langit kedai sambil mengerjap beberapa kali, kutahu dia mencoba menahan airmatanya, “aku belum melakukan apapun untuk orangtuaku. Jika aku kuliah, mereka semakin susah membiayaiku.”

 

Benar juga. Memangnya apa yang sudah kulakukan untuk orangtuaku. Menanyakan apakah mereka sudah makan atau belum pun jarang.

 

“Kemarin aku pergi ke Mall. Ketika pulang, aku melihat ibuku berjualan sate dengan naik sepeda di siang yang terik,” Ratna mengusap titik kecil di sudut bolamatanya.

 

“aku ingat ibu pernah mengatakan ingin naik haji. Aku ingin mewujudkan itu, tapi aku tidak tahu caranya,” ia tersenyum kecut, “mengandalkan gaji seorang buruh pabrik tidak akan cukup. Aku ingin mencari pekerjaan dengan gaji lebih besar, tapi aku masih belum tau pekerjaan apa itu.”

 

Aku manggut-manggut. Kuraih ponselku, memeriksa apakah ada pesan masuk.

Hujan semakin deras mengguyur. Pengendara motor yang melintas telah mengenakan jas hujan. Sementara mobil melaju cepat. Dan beberapa tukang becak menyingkupkan penutup berbahan plastik untuk melindungi penumpang.

 

Toko di seberang masih tutup. Atau barangkali memang tutup di hari Minggu. Dari sini, aku melihat kereta api melintas dengan cepat di atas rel, menuju kota Solo.

 

Manusia memang tidak pernah puas pada apa yang dicapainya. Mengeluhkan apa yang dimiliki, iri melihat orang lain. Peradaban selalu berevolusi namun tidak denganku. Sampai sekarang aku masih seperti anak kecil. Benar kata orang, kalau ingin menambah pengetahuan, jangan sekedar kuliah, namun keluarlah, duduk di kedai lalu mengobrol dengan beberapa orang asing. Di sana kau akan belajar tentang hidup yang sebenarnya, bukan sekedar teori di kelas.

 

Aku ingin kuliah saja.” ungkapku pada ayah di ruang tamu, setelah aku memikirkan hal ini beberapa hari yang lalu.

 

Aku mendapat persetujuan dua bulan kemudian. Dua bulan penuh depresi, amat tertekan karena aku tidak mengerti apa itu tujuan. Aku belum tersesat, namun aku tak tahu arah. Aku takut jika melangkah ke sini, akan begini. Jika ke sana, akan begitu. Masa-masa dimana aku membutuhkan seseorang di sisiku untuk menguatkanku namun tidak ada seorangpun di sana. Saat aku membutuhkan saran namun tak seorangpun memberikannya padaku.

 

Nak, ibu belum punya uang untuk membayar kuliahmu. Ayahmu tidak bekerja akhir-akhir ini.”

 

Dari sekian banyak hal yang ibu katakan padaku, kalimat itu yang paling kuingat hingga sekarang. Mendengar keluhan ibu tentang biaya hidup yang semakin tinggi, membuat otakku berpikir keras, namun raga ini belum bergerak sedikitpun. Entah mengapa aku ingin menampar diriku sendiri, menghajarnya hingga membiru. Mengapa aku begitu tega, tetap berdiam diri saat aku tau pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan.

 

Dulu rencanaku setelah lulus SMA adalah bekerja, namun sekarang yang kujalani tidak seperti itu,” aku menertawai diriku sendiri, “pikiran orang berubah dengan cepat ya.”

 

Aku menggeser gelasku yang telah kosong. Diriku yang lain menanggapi keputusanku. Salahkah aku memilih jalan ini. Apakah aku meneruskan pendidikanku karena aku membutuhkannya atau karena aku mencoba bersembunyi dari dunia yang harusnya kuhadapi.

 

Bukankah beralasan terlalu muda atau terlalu rendah tingkat pendidikannya untuk bekerja adalah hal basi. Lalu mengapa para sarjana tetap menganggur. Ah, tingkat pendidikan ternyata tidak selalu berpengaruh. Yang terpenting adalah aku mengerti apa yang kuinginkan dan fokus menjadi apa dan bagaimana selanjutnya. Aku mencari apa yang kucari. Setiap detik yang harus memiliki tujuan akan kemana langkahku esok hari.

 

“Aku tahu apa yang harus kulakukan!” kataku sambil menggebrak meja.

 

Ratna menoleh ke arahku, wajahnya seolah bertanya ada apa.

 

“Mengejar profesi yang kuinginkan sampai dapat dan aku ingin berkeliling negeri ini untuk menjadi relawan kegiatan sosial, berbaur dengan masyarakat. Melakukan sesuatu untuk banyak orang!”

 

Sekarang sudah bukan tentang menjadi air sungai yang mengalir atau pasrah seperti awan yang digiring angin atau seperti daun yang jatuh bebas ke tanah. Bukan hanya pasrah dengan keadaan namun tentang berusaha mengubah takdir. Ah, bukan, tapi berpindah dari takdir satu ke takdir lain yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM