"Dek, Dek." mbahmu



Jum’at, 26 January 2018


Tadi pagi aku ke kampus sama temen-temenku se-Jurusan, karena ada keperluan. Liburan hampir berakhir, dan hari senin besok udah masuk. Pagi ini aku bersama Fitri (samaran) dan Hana (samaran) menuju ke lobi fakultas.

Ketika memasuki lobi, aku lihat ada laki-laki duduk di dekat tangga, tatapannya aneh gitu. Dia pake baju kotak-kotak orange.


Aku ngobrol sama temen-temenku di lobi. Lalu tiba-tiba Fitri menyenggolku,


“Itu bukannya orang yang kamu panggil ‘dek’ kemarin?”


“Yang mana? Kapan aku manggil gitu?”


Pas itu lobi ada banyak orang, rame. Aku gatau siapa yang dia maksud, dan aku juga lupa siapa yang kupanggil ‘dek’.


“Itu lho yang duduk di deket tangga. Alah masa’ lupa, yang waktu kita papasan di tangga, hari kamis minggu lalu.” Ia menunjuk laki-laki yang tadi, si kotak-kotak orange.


Sesaat otakku loading, mengingat-ingat ‘papasan di tangga’. Satu detik dua detik.


“HAH?” aku terperangah, jadi yang waktu itu..


“Dia bukannya seangkatan sama kita ya?” kata ikhwan, “eh nggak ding, dia kakak tingkat.” lanjutnya.


Gubraaaak!
Aku antara malu, bingung, ngerasa bersalah, dan ingin tertawa.


“Geblek, kurang ajar sama kating. Pantes aja pas turun dari tangga dia kayak ngedumel gitu.” Fitri tertawa.


Sementara aku terus mengelak, “Bukan. Bukan dia orangnya.” Dan meyakinkan diri bahwa bukan dia yang kulihat waktu itu.


Aku lalu terdiam, menganalisis kejadian minggu lalu dalam pikiranku, menghubungkannya dengan persepsiku dan teman-temanku.


Jadi kamis minggu lalu itu aku dan teman-temanku ke kampus minta tandatangan dosen wali. Agak aras-aras’en soalnya masih liburan.


Waktu itu sekitar pukul dua siang, kami menuju ke ruang dosen di lantai dua fakultasku. Dari tangga pertama, kami ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa.

Terus pas mau naik ke tangga kedua, mataku silau karena cahayanya terang banget. Nah, pas itu aku lihat ada anak kecil laki-laki, keliatan bahagia banget, ia sedang bersiap menuruni tangga.

Aku Cuma lihat sekilas wajahnya, soalnya terlalu silau, jadi nggak jelas gitu.


Aku nggak tau apa yang salah denganku hari itu, aku langsung aja mikir, “Ya ampun, sampe bawa anak ke kampus (dosennya), dibiarin keluyuran lagi. Pasti ni anak mau jajan gara-gara bosen nunggu.” Batinku.


Ketika kami berpapasan dengan ‘anak’ itu, aku spontan ngomong “Dek” nyapa gitu, dengan pengucapan yang lantang. Dan ‘anak’ itu jawab “Yoo!”. Yaudah kupikir, “Oh dia bener anak dosen yang ikut ke kampus.” Terus parahnya si Fitri malah nambahin, “Dek, minta nomer WA-mu.”


Aku nggak tau deh, beneran. Soalnya aku kebiasaan godain anak kecil yang jalan tanpa ditemenin orang tuanya. Selalu aku sapa “Dek”.

Kadang temenku sampe bilang, “Ngenes banget sih sampe godain anak kecil. Ckck.” “Dih, nanti dikira penculik lho.” Tapi aku biasa aja, lha adeknya sih pengen digodain wkwk. 

Niatnya sih sama anak kecil doang, mereka kan lucu, tapi yang kemarin.. duh, out of the box.


Nah, pas sampe di lantai dua, perjalanan menuju ruang dosen. Fitri tanya,


“Eh emang tadi kenal?”


“Aku se-SD sama dia.” niatnya ngatain diriku sendiri. Niatnya ngelucu.


“Beneran? Serius?”


“Namanya siapa?”


Ara dan Hanna ikut tanya.


“Masa’ kalian se-SD sih?”


“Masa’ sih?”


Aku lalu diam dan mikir, ‘Kok mereka nganggep serius ya’. Kukira mereka yang nggak sadar, tapi justru sebaliknya.


Aku nggak hafal wajahnya, dan pas ketemu di lobi tadi kok masnya nggak nyleding aku ya. Duh, padahal dibalik itu semua aku pengen disleding.

Jujur aja, dia keliatan masih muda (masnya). Wajahnya nggak keliatan kalo dia kating, beneran. Siapapun juga nggak akan nyangka.


Kalo waktu itu aku tau dia kating dan aku nggak kenal, aku nggak mungkin nyapa dengan ‘dek’. Duh, piye banget sih aku. Semoga aja masnya nggak ngutuk aku jadi kutilan.

Dan, hari jum'at kemarin (2 Maret 2018), aku lagi kumpul sama temen-temen teaterku. Nah, ada 'dia' yang datang dibonceng motor sama mas-mas. Terus dia deketin kami karena mau ambil dagangan yang di lobi dekat kami kumpul.

"Mbak, tolong ambilin air mineral itu." ia menunjuk box berisi air mineral. Suaranya imut gitu.

Lalu tiba-tiba, "Ati-ati ya dek.Berat loh." kata temenku yang duduk di depanku.

krik krik krik krik.

Temenku dengan pedenya cengar-cengir, lalu si 'adek' itu berlalu. Pertama yang terlintas dibenakku adalah temenku itu mengenal 'dia' dan godain pake "Dek". Setelah ia pergi, aku dan teman-teman yang lain merutuki temanku itu yang ternyata juga nggak tau kalo tadi itu kating, wkwkwkwk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM