Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

WIRAUSAHA KWONYOL

Aku merasa konyol tiap bernostalgia tentang masa lalu ini. Saat itu aku kelas tiga atau kelas empat SD kalo nggak salah. Entahlah bagaimana asal mulanya, yang kuingat aku dan Dhika ingin mempunyai pekerjaan :v. Kami ingin mempunyai uang dari usaha kami sendiri. Namun baik aku maupun Dhika tidak tahu harus bekerja apa dan kemana. Lalu akhirnya mendapat inspirasi dari ibu-ibu yang jualan mainan di depan SD, kayaknya enak duduk-duduk dapat uang. Sesampainya di rumah aku dan Dhika mengumpulkan mainan dan barang-barang dari rumah masing-masing. “Banyak nih, pasti laku.” Kata Dhika saat semua barang terkumpul. “Kita bakalan sukses nih. Aku ga sabar!” kataku Lalu kami membungkus barang-barang itu ke dalam plastik bekas undangan pernikahan (yang ada rekatan-nya—biar kelihatan bagus), dan kami menempel harga. Asal kalian tahu, barang-barang itu, sumpah jelek banget, udah rusak dan super bekas. HAHAHA. Ada boneka kecil, ikat rambut kumel, bandana, gelang, gantungan kunci,...

Semua Berawal dari Ngupil

Faktual. Sumber: mata air alami pegunungan   Hari itu siang yang terik. Nana (samaran) dan Via (samaran juga biar sama) pergi main sepulang sekolah. Mereka dua gadis SD pecandu mie goreng kremes (mie instan, dimakan tanpa dimasak A.K.A snack mie instan). Siang itu seperti agenda kemarin, mereka pergi membeli mie ke warung dekat kuburan.   “Eh tunggu! Uangku kurang Rp.200.” kata Via   “Yaudah, kita cari uang yuk.”   Mereka menyusuri jalan, melihat ke bawah, kali aja ada uang. Hingga tiba di warung itu, mereka belum menemukan Rp.200. Lalu mereka mencari di sekeliling rumah si pemilik warung.   “Aku dapat!” kata Via. Sungguh keberuntungan yang kebetulan.   Mereka pun berhasil membeli mie.   “Makan dimana nih biar nggak ketahuan emak?” tanya Nana.   “Tempat biasa.”   Mereka pergi ke sebuah rumah tua (yang hampir roboh) di belakang warung tadi. Di teras rumah itu ada s...

AYAM SIAPA

(Faktual) Kali ini aku akan menceritakan tentang pengalamanku ketika SMP. Sebut saja di suatu hari dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Kala itu, guruku yang mengajar adalah bu MimiNggakPakePeriNggakPakePeri, beliau terkenal dengan suaranya yang kecil namun galak. Semua murid mengenalnya. Termasuk teman sekelasku, sebut saja Maridi. Hari itu pelajaran di kelas berjalan lancar. Oh iya, jam Bahasa Indonesia berlangsung setelah jam istirahat pertama. Setelah semua murid berada di kelas, bu MimiNggakPakePeri hendak memulai pelajaran. Tiba-tiba si Maridi angkat tangan, “Bu, saya mau ijin ke toilet.” Semua menoleh menatap Maridi yang duduk di bangku belakang. Bu MimiNggakPakePeri bermuka masam, “Nggak boleh. Kenapa kamu nggak ke toilet pas istirahat tadi! Pas udah di kelas malah mau ke toilet.” Tadi kan belum ada hasrat mau pipis bu-.- Singkat cerita, saat pelajaran berlangsung sekitar setengah jam, aku mendengar temanku yang di belakang menjerit. Semua menoleh. L...

SURAT CINTA PERTAMA

(Faktual) Bukan aku loh ya, bukaaan. Tapi temenku, sebut saja Mawar pengedar tahu boraks wkwkwk, nggak ding, sebut saja Ria.   Kami waktu itu duduk di kelas enam SD, sesepuhnya dedek gemes. Di kelas lima, ada seorang murid baru, sebut saja Fadhil. Aku sempat melihat dia duduk di depan toko kelontong di depan SD sebelumnya.   Menurut kami (anak SD waktu itu) dia ganteng (tapi sekarang enggak kok wkwk). Minggu pertama kedatangan Fadhil, semua masih baik-baik saja. Lalu suatu hari kantor guru heboh dengan sebuah laporan dari murid kelas lima (yang cowok) yang menyerahkan selembar kertas binder minmie berwarna orange , motif strawberry .   Ibu Kepala Sekolah membawa kertas itu sambil berjalan ke kelas lima. Kami para kepo-kepo club, mengekori bu Kepsek. Fadhil saat itu sedang (katanya lagi pulang, waktu itu jam istirahat) tidak ada di kelas, ia tersangka kasus kertas binder.   Kami berjinjit untuk melihat isi kertas itu. Aku lu...