T E R T Y P U



T E R T Y P U - 1

2013

Kala itu sore hari, sekitar pukul enam, saat azan maghrib belum lama berkumandang. Seperti kebanyakan warga yang sudah menutup pintu, begitu pula rumahku. Aku masih duduk bersama adikku di depan televisi. Kami belum mau beranjak untuk menunaikan sholat.

“Jangan pindah channel!” kataku pada adikku.

Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ketika sedang minum, tiba-tiba aku mendengar suara bergemuruh di atas genteng. Suaranya seperti tanah longsor. Riuh dan menakutkan.

Aku melempar gelas sembarang tempat, lantas berlari histeris.
“Gempa! Gempa! Allahuakbar Allahuakbar! Tolong tolong.” (tangan ke atas melambai-lambai histeris).

Aku begitu panik dan langsung membuka pintu, keluar rumah, menggigil ketakutan di teras.

Namun, krik krik

“Kok warga yang lain gak keluar rumah?”

Aku celingukan. Satu menit dua menit termenung oon.

“Mbak, kamu kenapa?” adikku melongok dari ujung pintu.

Aku belum paham dengan apa yang barusaja kulakukan.

Lalu kami mendengar suara kucing yang bertengkar di atas genteng, berlarian heboh. WTH, tiwasan lari-lari dari dapur ke teras. Seketika itu aku merasa sangat bodoh namun malah tertawa lepas menyadari hal konyol itu :v.



T E R T Y P U – 2

Aku lupa ini kejadian tahun berapa dan kapan, tapi yang kuingat, ini terjadi saat aku masih duduk di kursi Sekolah Dasar.

Setiap musim hujan, kubangan besar (apa ya bahasa indonesianya, mirip danau tapi lebih kecil dan nggak 
dalam) yang berada di pekarangan Mbah Mo dipenuhi air. Saat itu tetanggaku yang tinggal di sebelah Mbah Mo, memelihara ikan, dan saat hujan tiba, ikan-ikan itu terbawa arus air hujan, because empangnya kecil dan pendek (kayak aku-__-).

Tau ada rejeki nomplok, para warga berduyun-duyun menuju kubangan Mbah Mo (eh kok aneh ya :v ‘kubangan Mbah Mo’). Mereka berlomba-lomba mencari ikan (ikan gelap, bukan lele, mirip nila). Aku, Dhika, Verry, Joko tak mau ketinggalan. Kami pun ikut berkubang :v

Namun sayangnya Verry Cuma ikut sebentar, soalnya pas baru nyebur, kakinya kena pecahan kaca dan berdarah banyak. Sementara aku dan Dhika ikut-ikutan ngurek-urek lumpur (dulu aku nggak jijik) dan Cuma dapat keong *wadafak:v.

“Yeee, aku dapat belut.” Teriak Joko di kubangan bagian tengah.

Kampret tu orang, baru nyebur bentar udah dapat belut, batinku. Joko mengangkat ‘belut’ ditangannya, bermuka bangga. Ia menunjukkannya ke seluruh penjuru kubangan. Orang-orang memandang sengit.

“He itu ular, dodol!” teriak mas Adi.

Joko memandang si ‘belut’. Lalu menjerit, melengking. “Astagfirulloh, ular kubangan.”

Yaelah si Joko, bedain belut sama ular aja gak bisa. Apalagi bedain ekspetasi dengan realita :v. Waduh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALEIDOSKOP 2019

Mengeja Maria

DUNIA MONOKROM