Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

LOGIKA

lanjutan dari Imajinasi : otak-jiwa “ Lihatlah dia sekarang, tiada peduli. Sadarlah, yang kau lakukan itu hampa, dunia fanamu sia-sia. Dan kau harus memikirkan sesuatu. Bisa jadi ketika kau patah hati, orang-orang yang pernah kau sia-sia kan menjadi begitu berarti. Tidak jarang pula merindukan kehadiran mereka, lalu giliranmu yang jatuh cinta pada mereka, seorang diri. Kau membutuhkanku ketika memagut rasa, seharusnya kau melibatkanku pula sebelum memutuskan sesuatu.” Aku melihat bayangan dirimu yang terekam jelas di otakku begitu Logika membukakan jendela besar itu. Dirimu yang saat ini amat jauh dariku, lahir dan batin. Ya, kurasa itulah alasan mengapa aku bertemu Renjana dan Imajinasi. Ketika kenyataan tidak seperti apa yang hati inginkan. Ia terlihat merah dan panas, ada bara api yang mengepul dari Logika. Dapat kulihat tangannya hendak berayun menamparku, namun justru belaian lembut yang menyapa pundakku. “Kau berada dalam kesedihan yang amat mendalam, aku paham. ...

IMAJINASI

(lanjutan dari Renjana) : dunia fana Renjana yang memperkenalkanku dengan Imajinasi. Sebagai solusi dan pelipur hati. Sebagai pengganti kehadiran dan segala sesuatu yang tidak bisa kumiliki, tidak bisa kulihat dengan mata, namun begitu terasa di hati. Imajinasi, sejak hari itu, aku sudah bisa tersenyum. Kini rumahku (hatiku) akan terisi oleh apa dan siapa yang kumiliki dalam dunia yang baru. Ini adalah rahasia yang kusimpan sendiri. Setelah aku berkenalan dengan Imajinasi, ia mengajakku untuk merebahkan diri sejenak di sofa besar ruang tamu. Kami lalu minum kopi. “Pejamkan matamu.” katanya. Aku pun menuruti perkatannya. Lalu ia mulai membisikkan semua hal tentang apa dan siapa sebelum penciptaan dunia baruku. Ketika aku memejamkan mata, yang muncul pertama adalah kamu. Aku jadi teringat, kadang wajahmu tergambar jelas saat kutatap Imajinasi. Aku agak takut dengannya karena bisa berubah wujud menjadi siapapun sesuai dengan keinginanku. Bukan sosoknya yang menakutkan, na...

Tampang Sayaaaa

: melas sejak lahir Siang itu sangat terik, saya hampir pingsan disorot sinar matahari sejak pagi. Peluh saya menetes deras, kaos yang saya kenakan basah dan berbau kecut. Perlahan saya rasakan butir peluh mengalir menuruni dahi, berbelok menuruti lekuk alis. Saya mengusap wajah berkali-kali dengan ujung kaos. Parkiran ini tak ubahnya mirip padang mahsyar yang katanya puanas. Saya tidak tahu sekarang jam berapa. Namun melihat kulit saya yang lebih menghitam serta mengkilat meyakinkan saya bahwa ini sudah jam duabelas siang lebih. Rasanya saya lebih mirip ikan asin yang dijemur para nelayan. Atau garam laut yang sedang dikeringkan. Tak henti tenggorokkan saya terasa kering. Sejak tadi pagi hanya menelan ludah. Alangkah menyegarkannya jika saya guyur dahaga dengan segelas es teh. Ah, rupanya hendak membeli es teh pun harus mengantri. Maklum, menu di warteg yang saya datangi memang terkenal enak dan murah. Banyak orang-orang yang makan di sini, mulai dari yang berkantong tipis h...