LOGIKA
lanjutan dari Imajinasi : otak-jiwa “ Lihatlah dia sekarang, tiada peduli. Sadarlah, yang kau lakukan itu hampa, dunia fanamu sia-sia. Dan kau harus memikirkan sesuatu. Bisa jadi ketika kau patah hati, orang-orang yang pernah kau sia-sia kan menjadi begitu berarti. Tidak jarang pula merindukan kehadiran mereka, lalu giliranmu yang jatuh cinta pada mereka, seorang diri. Kau membutuhkanku ketika memagut rasa, seharusnya kau melibatkanku pula sebelum memutuskan sesuatu.” Aku melihat bayangan dirimu yang terekam jelas di otakku begitu Logika membukakan jendela besar itu. Dirimu yang saat ini amat jauh dariku, lahir dan batin. Ya, kurasa itulah alasan mengapa aku bertemu Renjana dan Imajinasi. Ketika kenyataan tidak seperti apa yang hati inginkan. Ia terlihat merah dan panas, ada bara api yang mengepul dari Logika. Dapat kulihat tangannya hendak berayun menamparku, namun justru belaian lembut yang menyapa pundakku. “Kau berada dalam kesedihan yang amat mendalam, aku paham. ...