“KELAK KITA TUA NANTI”
“Kelak kita tua nanti, pak.” ucap seorang wanita paruhbaya di teras rumahnya. Ditemani sang suami yang mengelap sepeda motor tua khas tahun 90-an, sang istri duduk bersandar pada sebuah kursi anyaman. Kedua kulit tangannya menampakkan guratan-guratan otot yang bersembunyi dibalik kulit sawo matangnya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia memijat-mijat paha yang terasa pegal, gerakan tangannya memutar. Sesekali pijatannya merembet ke area pinggang. Sering ia keluhkan sakit pinggang, kaki pegal-pegal, juga pusing. Suasana pagi itu diliputi debu, udara kotor merayapi kulit keriput mereka. Kepul teh hangat yang tersaji di atas meja kini telah bercampur debu, sudah tidak layak minum. Barangkali ketela pohon yang sempat ia angkat dari penggorengan setengah jam lalu pun sudah dilumuri debu jalanan. “Bapak ingat tanah kita yang ada di samping rumah Bu Sulastri?” Tanpa menunggu jawaban sang suami, sang istri melanjutkan kalimatnya. “Menantu kita akan pulang membawa mobil m...