Kepul Nikotin
: selamat tinggal, masa depan! Sudah pukul sepuluh malam. Aku mengerjap beberapa kali, mataku terasa sepat setelah empat jam duduk bergumul dengan pintalan benang warna warni. Aku mematikan lampu remang yang menggantung pada kayu di atap rumah. Seketika dinding rumah yang berupa anyaman bambu terlihat gelap pekat. Dari kisi-kisi dinding anyaman bambu, angin semilir masuk, menambah keletihan jiwaku. Kuhembuskan nafas dalam tangkupan kedua tanganku, malam ini lumayan dingin. “Uhuk! Uhuk!” Rasa sakit ini datang lagi. Seakan ada duri yang menancap di tenggorokanku. Menusuk, mengoyak kulit leherku. Melukai sedikit demi sedikit. Rasa sakit itu seolah menjalar ke leher. Seperti pisau yang dihujamkan berkali-kali ke dada, kupukul-pukul dadaku. Aku menghembuskan nafas begitu batuk ini reda. Kurasa aku butuh istirahat. Aku beranjak meninggalkan kursi kerjaku. Mengabaikan pintalan benang aneka warna, kain-kain perca, alat jahit dan obras yang perlahan mendingin tersapu udara malam. ...