Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Kami Menangis

Alat-alat berat dan tiang pancang telah berdiri di atas hamparan tanah itu. Tanah yang dulunya adalah sebuah desa. Satu minggu lalu, mereka meluluhlantakkan permukiman itu. Tak ada satu bangunan pun yang tersisa. Tak ada pohon-pohon yang menjulang tinggi, burung-burung pun pergi mencari tempat tinggal, tak ada lagi hamparan padi di sawah, atau hembusan angin sepoi-sepoi. Perkebunan cabai dan semangka milik kami pun dibabat habis. Tempat kelahiranku sudah mati oleh orang-orang pribumi. Teman-temanku dan tetanggaku direlokasi ke tempat yang jauh. Aku tak punya keluarga, tak ada siapa-siapa yang menemani sepiku. Tinggal aku sendiri, berdiri menatap laut lepas. Angin yang mengantarku ke sini, hujan yang menemani langkah kakiku. Aku tak punya apa-apa. Hanya bisa berteriak pada ombak, menangis menatap langit atau mengadu kepada Tuhan. Aku terduduk lemas di pasir pantai. Tak ada yang menginginkan diriku, tak ada yang mencari. Aku telah terbuang dan terlupakan, pupus sudah harapan...

Cerpen: Ayah

Satu minggu telah berlalu. Aku belum berniat untuk kembali ke Ibukota, setidaknya aku ingin merenungi semuanya disini. Di atas dipan di teras rumah, aku duduk termangu menatap ke halaman. Tanah terhampar, masih terlihat jejak-jejak kaki pelayat yang datang tempo hari. Juga kerabat yang berkunjung silih berganti mengucap belasungkawa. Kurasakan dipan yang kududuki bergerak, berdecit nyaring. Seseorang duduk di sampingku. “Untuk apa kau pulang?” katanya. Aku merasakan nada dingin dalam pertanyaannya, namun ia mengatakan ‘pulang’ yang berarti dia mengakui bahwa ini juga rumahku, tempatku lahir dan dibesarkan. “Maaf.” ucapku. Ia menyisir rambut panjangnya ke belakang telinga, membuatku dapat melihat wajah sampingnya yang sendu. Bengkak di matanya sudah lebih baik dari beberapa hari lalu. Meski dia dingin tapi dia adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang. Aku teringat kala hari kedatanganku. Menghentikan sepeda motorku di depan rumah dengan terbur...