Kami Menangis
Alat-alat berat dan tiang pancang telah berdiri di atas hamparan tanah itu. Tanah yang dulunya adalah sebuah desa. Satu minggu lalu, mereka meluluhlantakkan permukiman itu. Tak ada satu bangunan pun yang tersisa. Tak ada pohon-pohon yang menjulang tinggi, burung-burung pun pergi mencari tempat tinggal, tak ada lagi hamparan padi di sawah, atau hembusan angin sepoi-sepoi. Perkebunan cabai dan semangka milik kami pun dibabat habis. Tempat kelahiranku sudah mati oleh orang-orang pribumi. Teman-temanku dan tetanggaku direlokasi ke tempat yang jauh. Aku tak punya keluarga, tak ada siapa-siapa yang menemani sepiku. Tinggal aku sendiri, berdiri menatap laut lepas. Angin yang mengantarku ke sini, hujan yang menemani langkah kakiku. Aku tak punya apa-apa. Hanya bisa berteriak pada ombak, menangis menatap langit atau mengadu kepada Tuhan. Aku terduduk lemas di pasir pantai. Tak ada yang menginginkan diriku, tak ada yang mencari. Aku telah terbuang dan terlupakan, pupus sudah harapan...