T E R T Y P U
T E R T Y P U - 1 2013 Kala itu sore hari, sekitar pukul enam, saat azan maghrib belum lama berkumandang. Seperti kebanyakan warga yang sudah menutup pintu, begitu pula rumahku. Aku masih duduk bersama adikku di depan televisi. Kami belum mau beranjak untuk menunaikan sholat. “Jangan pindah channel!” kataku pada adikku. Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ketika sedang minum, tiba-tiba aku mendengar suara bergemuruh di atas genteng. Suaranya seperti tanah longsor. Riuh dan menakutkan. Aku melempar gelas sembarang tempat, lantas berlari histeris. “Gempa! Gempa! Allahuakbar Allahuakbar! Tolong tolong.” (tangan ke atas melambai-lambai histeris). Aku begitu panik dan langsung membuka pintu, keluar rumah, menggigil ketakutan di teras. Namun, krik krik “Kok warga yang lain gak keluar rumah?” Aku celingukan. Satu menit dua menit termenung oon. “Mbak, kamu kenapa?” adikku melongok dari ujung pintu. Aku belum paham dengan apa yang ba...